
Kotak beludru biru tua dibuka. Kilauan yang indah dari sebuah cincin. Sudah pasti tidak asing. Sesaat ia memeriksa barang dari Samuel. Namun, untuk mendapatkan informasi. Tentu bukan dengan cara semudah itu, "Tunggu disini, Aku akan segera kembali."
Pria jadi-jadian yang menjadi teman lama Samuel pergi meninggalkan ruang tamu. Sontak saja, Ocy langsung menarik lengan kekasihnya, membuat pria yang paham isi pikiran wanita itu memilih untuk memberikan isyarat jari di bibir. Yah, sesaat selama masih di dalam rumah itu lebih baik diam dan tidak perlu berkomentar. Apalagi, jika Nancy ngambek bisa mengalahkan wanita manapun.
Nancy adalah seorang pria, tapi kecintaan akan dunia perhiasan. Justru menjadikan setengah jiwanya berubah menjadi wanita. Sebenarnya bukan jiwa. Namun, naluri yang terbawa ke dalam dunia kerja dan demi menghindari bibir tanpa rem. Maka, rumah teman lama Sam selalu tertutup. Jika ada yang ingin bertamu. Yah harus menelpon si empu rumah. Ketukan pintu tidak akan berguna.
Lima belas menit kemudian.
"Sam, darimana kamu dapatkan cincin ini?" tanya Nancy dengan nada penasaran, tatapan mata memicing seakan memastikan jika temannya, tidak mungkin menjadi seorang pencuri. Apalagi, ia tahu, bagaimana sejarah di antara Samuel dan pemilik cincin yang ada di tangannya.
Sam menghela nafas, "Stop tatapan aneh itu! Nan, kamu tahu semuanya. Apa pertanyaan itu tidak salah? Apa perlu aku menjelaskan? Kurasa tidak."
Nancy menganggukkan kepala, lalu memilih duduk ditempat semula, kemudian meletakkan cincin di atas meja. Terlihat pria jadi-jadian itu sedang menimbang. Apakah ingin memberitahu Samuel atau tidak. Jika, teman lamanya tahu dari mana dan siapa pemiliknya. Bisa saja demo massal kembali terjadi. Ketika sibuk melamun, tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja yang mengagetkan.
"Eeh, copot, copot," Nancy memegang dadanya dengan tatapan melotot, tapi hanya sesaat karena Sam menatapnya dengan tajam, "Untung aja temen. Kalau gak, udah jadi makanan buaya kesayangan ku. Kesini cuma mau tahu soal cincin? Gak ada yang lain gitu?"
Terlalu banyak pertanyaan tidak berguna. Nancy terkesan mengulur waktu dan mengalihkan topik pembicaraan. Melihat itu, Sam mengambil ponsel, lalu mengetik sebuah nama di dalam kontak, kemudian memperlihatkan ke arah teman lamanya. Mata terbelalak dengan gelengan kepala menurut reaksi Nancy.
__ADS_1
"Model mu, Sam. Ngeeri, iih. Jangan ngancem gitu," Nancy tidak lagi bisa berkutik, pria jadi-jadian itu menarik nafas begitu dalam, lalu, "Cincin D'Jewelry pemiliknya adalah Putra Sulung Wiratama Group. Darren Wiratama. Status kehidupan rahasia. Cincin dibuat ulang oleh tuan muda dan menyamarkan detail rinci di lapisan kedua cincin."
"Aku hanya ingat, waktu itu usianya sama seperti kita. Seperti yang kamu tahu, aku bekerja sampingan menjadi penganalisis material emas di perusahaan itu. Jadi, aku tahu bagaimana cara melihat perbedaan perhiasan palsu atau asli dari perusahaan itu. Satu lagi, setahuku. Dia mengatakan cincin untuk dibuat khusus untuk seseorang. Sam, ada yang kusembunyikan darimu."
Sam mengernyit menatap Nancy serius, "Apa?"
Nancy terlihat gugup dan bingung mau mulai dari mana. Apalagi, satu rahasia yang disembunyikan. Tetap tidak bisa mengubah sejarah. Jadi, bagaimana kebenaran itu akan menjadi kebaikan. Sementara kekacauan sudah terjadi. Memang benar, apa yang dia ketahui didengar setelah peristiwa baku hantam antara Sam, Darren dan Bryant. Meski begitu, mungkin ini waktu yang tepat.
"Sebenarnya, Darren tidak menerima perjodohan dengan Rachel. Apapun yang terjadi saat itu hanya kesalahpahaman. Dia menemui gadis itu untuk memberikan peringatan agar tidak mempermainkanmu. Kita tahu, kamu sangat mencintai Rachel. Sayangnya, disaat terjadi perdebatan dengan menyinggung perjodohan keluarga. Kamu dan Bryant mendengar setengah kebenaran."
Saat ini bukan hanya Sam yang terkejut, tapi juga Ocy. Dimana sang dokter tidak menyangka kebenaran memisahkan persahabatan yang sudah terjalin begitu lama, sedangkan sang bodyguard tidak habis pikir. Dimana wanita yang dianggap menjadi penghalang hubungan Ara dan Bryant. Ternyata masa lalu dari kekasihnya sendiri. Sungguh dunia memberikan kejutan seperti petir yang menyambar.
Jangan ditanya, bagaimana perasaannya. Apakah sakit? Apakah masih aman? Hati mana yang tidak merasakan cubitan. Ketika kebenaran terungkap tanpa diminta. Semua yang Nancy katakan menjelaskan, seberapa besar rasa cinta Sam untuk Rachel, bahkan ia teringat kemarahan Bryant. Jadi, apapun yang terjadi di masa lalu. Sudah pasti menjadi peristiwa tidak terlupakan.
Wajah pucat dengan bibir terkunci rapat sang kekasih, membuat Sam merengkuh tubuh Ocy ke dalam pelukannya. Sudah pasti wanita itu shock. Apalagi di dalam mobil keluhan yang ia dengar masih belum mendapatkan jawaban. Sikap penyayang Sam menghentikan Nancy untuk meneruskan ceritanya. Melihat situasi tidak baik, pria jadi-jadian itu memilih meninggalkan ruang tamu.
Namun, lima menit kemudian. Nancy kembali dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh yang mengepulkan asap putih. Lalu, nampak diletakkan ke atas meja, "Berikan pada pacarmu! Teh hijau akan memberikan ketenangan. Maaf, aku tidak bermaksud membuatnya terkejut, Sam."
__ADS_1
"It's okay, ini bukan salahmu. Aku sendiri mengubur masa lalu sedalam lautan," Sam melepaskan pelukan, lalu mengambil secangkir teh dan tak lupa meniup agar tidak begitu panas. Setelah terasa hangat, barulah diberikan ke Ocy, "Relax, Sayang. Minumlah! Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu, tapi sekarang tenangkan dirimu dulu. Ayo, minum!"
Perhatian dengan suara lembut Sam sangat menyentuh hati. Akan tetapi, benarkah pria itu mencintainya? Ingatan selama ini, selalu menunjukkan sisi Sam yang dingin, acuh dan absurd. Pria dengan penyulut kekesalan yang menggemaskan. Yah, sejak ia jatuh cinta dengan sang dokter. Tidak sekalipun, dokter itu menanggapi. Namun, beberapa waktu terakhir yang keduanya jalani. Apakah bisa disebut sebagai pasangan kekasih?
Ada keraguan yang menyusup diantara rasa cinta di dalam hatinya. Sungguh, saat ini. Tidak tahu mana yang harus dirinya percaya. Sam yang dulu menjadi milik wanita lain? Ataukah Sam yang kini menggenggam tangan seraya menatap dengan mata khawatir? Kenapa kebenaran harus datang, di saat hati masih mencari jalan pulang. Dilema itu terasa menyakitkan, hingga terasa sentuhan hangat menangkup wajah.
"Ocy, jangan berpikir tentang masa lalu. Aku yang dulu. Bukan aku yang sekarang. Rachel adalah masa lalu. Kamu adalah masa kini dan masa depanku. Ku mohon, jangan diam seperti ini. Aku takut. Jangan buat jarak diantara kita. Please, tatap mataku dan lihat," Sam mencoba untuk mengutarakan isi hatinya, perlahan membuat sang kekasih kembali sadar, "Percayalah. Aku tidak akan melepaskanmu karena kamu wanita yang kucintai."
"Tolong, ceritakan semuanya padaku. Aku tidak ingin menunggu lagi, biarlah seluruh rasa menyatu seperti hembusan angin. Aku siap menanggung rasa itu," Pinta Ocy seraya menggenggam kedua tangan Sam yang saat ini menangkup wajahnya.
"Biar aku yang menceritakan kisah diantara tiga sekawan. Boleh, Sam?" tanya Nancy meminta persetujuan, membuat temannya semakin menatap Ocy, dan kedipan mata wanita itu, membuat Sam ikut menganggukkan kepala.
"Kisah ini dimulai...,"
...----------------...
__ADS_1
...----------------...