Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 46: ATAS NAMA SUAMIKU!


__ADS_3

"Maaf, aku tidak bisa menahannya." ucapnya setengah berbisik, membuat gadis yang terlelap terusik.


"Kenapa minta maaf?" tanya gadis itu tak paham membalas tatapan sendu dari pria yang sangat ia cintai. "Apa alasanmu meminta maaf? Apa karena penyatuan semalam?"


"Apa aku mengusik tidurmu?" tanyanya.


Bunga mengangkat tangan kanannya, lalu mengusap wajah pria yang kini menjadi suaminya. Senyuman manis terkembang sempurna. "Jangan pernah menyesal mengambil hak yang memang milik, Om. Bunga ikhlas memenuhi kewajiban seorang istri. Penyatuan raga hanya tanda hubungan kita dimulai agar saling menjaga. Om, jangan pernah berpikir semua yang terjadi karena paksaan. Love you, Mas Al."


Lelehan air mata pria itu tak lagi bisa ditahan. Semua bercampur menjadi satu, rasa syukur, harapan, luka, dan penerimaan. Tanpa Bunga sadari, ia memberikan lentera cahaya baru di dalam hidup seorang Alkan. Tak ada kata yang bisa menggambarkan isi hati. Selain merengkuh tubuh polos sang istri masuk kembali kedalam dada bidangnya.


"Ish, Om modus." bisik Bunga, membuat Alkan terkekeh pelan. "Om, boleh minta sesuatu?"


Al merenggangkan pelukannya, lalu menatap mata Bunga dengan tatapan mata tenang mengayomi. "Mau apa? Katakan!"


"Berikan aku hak seorang istri. Aku tahu semalam om hanya terbawa suasana. Apa....,"


Permintaan Bunga dibalas dengan tatapan lembut, tangan terangkat merengkuh dagu gadis yang kini sah untuk ia miliki. Kecupan lembut tanpa menuntut Al persembahkan untuk istrinya. Sentuhan penuh perasaan itu disambut pejaman mata sangat istri.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti pagutan kian menuntut untuk saling memiliki. Tubuh polos keduanya hanya berbalut selimut. Al melepaskan pagutan dengan tatapan mata tak lepas dari wajah Bunga. "Apa kamu siap?"


"Aku siap menjadi istrimu seutuhnya, Mas. Love you so much," Bunga mengedipkan satu matanya, membuat Al tersenyum.


Tanpa ada pertanyaan, Al memulai perjalanan memenuhi kewajiban seorang suami. Kecupan demi kecupan ia berikan. Satu kecupan kening, lalu kedua mata, dan bermuara di bibir sang istri yang merah alami. Rasa manis itu seakan menjadi candu baru untuk nya. Sementara Bunga mengikuti arus permainan membiarkan sentuhan manja menenggelamkan dirinya dalam kebersamaan.


Jejak berwarna sekali lagi memandu perjalanan cinta sepasang pengantin baru mencari peraduan untuk memenuhi dahaga batin mereka. Bahkan keduanya bekerjasama untuk saling memenuhi hasrat yang menyelimuti raga.


"Om, sini!" pinta Bunga membimbing tangan Al meraih satu bukit kembarnya.


Al menurut memberikan jejak merah kepemilikannya hingga warna putih menjadi samar. "Mana lagi?"


Bunga memberikan semuanya tanpa ada perlawanan, membuat Al bebas melakukan apapun tanpa keraguan. Hingga bibirnya mulai menyusuri lembah gua yang akan menyatukan keduanya. Sesaat matanya menatap mahkota sang istri yang semalam ia renggut. Jeritan sesaat masih terdengar jelas di telinganya.


"Om, i am fine. Lakukan lah! Aku tahu om bisa menjaga ku untuk selamanya." Ucap Bunga yang paham akan dilema sang suami.


Tatapan mata Al tidak bisa berbohong. Dimana ia masih merasa bersalah telah merenggut kehormatannya. "Om, jangan lihatin punya ku trus. Malu ih....,"

__ADS_1


Al tersenyum seraya merayap memposisikan diri di atas sang istri yang menyambutnya dengan suka cita. Satu tangannya ia gunakan untuk membimbing tangan Bunga agar melingkar di punggungnya. "Lakukan sesukamu, dan tahan. Jika sakit katakan, aku akan mencoba pelan."


Bunga mengangguk paham dengan kedua tangannya memegang erat punggung Al. Melihat istrinya telah siap untuk penyatuan, ia mulai menyentuh bibir ranum sang istri agar kembali relax. Sentuhan demi sentuhan membawa keduanya ke titik terbawa arus hasrat. Hingga sesuatu dibawah sana mulai beraksi.


"Om, pelan ya." cicit Bunga di sela rasa nikmat kecupan sang suami.


Al melakukan permintaan Bunga. Penyatuan dilakukan secara manual. Beberapa kali hanya dibiarkan menyentuh lembah gua. Tanpa pria itu sadari, Bunga mengintip lalu menarik punggungnya. Hingga tongkat bisbol benar-benar masuk menerobos lembah gua yang sempit. Namun, bukan sebuah jeritan yang terdengar karena wanita itu langsung membungkam bibir suaminya dengan bibir ranum nya.


Pagutan yang bunga lakukan mengalirkan aliran listrik yang menyebar ke tubuh Al, membuat pria itu semakin bersemangat. Sekali lagi penyatuan keduanya menghadirkan suara erotis memenuhi kamar pengantin. Tidak ada lagi jarak ataupun ruang untuk pertanyaan. Waktu seakan berhenti menenggelamkan keduanya dalam kisah cinta baru.


Pergulatan sepasang pengantin mengalirkan peluh yang membanjiri seluruh tubuh. Sementara ditempat lain, wajah terkejut dan aneh tergambar jelas di wajah seorang pria yang berdiri mematung di depan pintu kamarnya sendiri. Selimut yang terlihat menggembung besar seperti digunakan menutupi dua orang. Bagaimana bisa begitu?


...----------------...


Skip yang gak mau ya πŸƒβ€β™€οΈ


Aku tanggung, sok di jawab.

__ADS_1


🀫Area panas... πŸƒβ€β™€οΈ


__ADS_2