Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 37: STOP! - SYARAT? - SETUJU!


__ADS_3

Hening!


Lima belas menit kemudian.


"Siapkan semuanya hari ini juga kita nikahkan mereka!" Bram memejamkan mata setelah memberikan keputusan yang teramat berat untuk hidup putrinya.


"Menikah? Siapa?"


Kedua pasangan yang berada di ruang keluarga berbalik melihat siapa yang bertanya. Meskipun suara berat yang familiar sudah pasti siapa pemiliknya. Siapa lagi jika bukan Alkan. Begitu netra mata bertatap muka dengan pria yang kini masih menggendong tubuh ramping Bunga terdiam dengan alis terangkat.


"Kenapa diam? Katakan siapa yang akan menikah?" tanya Alkan sekali lagi.


Tidak akan baik jika mengatakan langsung. Terlebih emosi Alkan masih dalam perasaan patah hati. Angkasa berjalan mendekat adiknya, membuat sang adik mulai memahami situasi yang terjadi. "Apa kalian berniat menikahkan aku dan Bunga?"


Tap!

__ADS_1


Sontak langkah kaki Angkasa terhenti karena pertanyaan yang tepat sasaran. Situasi semakin menegangkan, aura yang Alkan keluarkan tetap saja tidak mengusik rasa nyaman terlelap dalam gendongan pria itu. Milea bisa melihat betapa putrinya sangat berharap bisa hidup bersama pria dewasa itu, yah meskipun sebenarnya patut menjadi sosok seorang ayah bukan pasangan.


"Al, aku tahu putriku masih bersikap kekanak-kanakan, tapi cobalah pertimbangkan....,"


"Stop!" Alkan berjalan mendekati kedua pasangan itu, lalu merebahkan tubuh Bunga ke sofa dengan perlahan. Setelah itu, ia berbalik kembali menatap keluarganya. "Lihatlah dia, apa yang kalian pikirkan? Pernikahan? Apa kalian tidak bisa mencari pasangan yang lebih pantas untuknya?"


"Kenapa tidak ada angin, ataupun hujan. Kalian memutuskan pernikahan kami? Astaga, kakak tahu 'kan bagaimana perasaan ku saat ini? Baru saja kebenaran Sifani terungkap dan sekarang?" sambung Alkan menjambak rambutnya sendiri.


Melihat bagaimana penolakan Alkan, membuat Bram memahami satu hal. Pria yang dicintai putrinya memanglah pria setia. Kini keraguan di dalam hatinya sirna. Usia tidak lagi menjadi masalah karena pilihan sang putri tidaklah salah.


Alkan menatap Bram tak percaya. Ayolah apa yang diharapkan pria itu darinya? Bagaimana bisa menikahkan anaknya sendiri dengan pria yang pantas dipanggil papa. "Sorry Bram, aku tidak bisa."


Setelah memutuskan apa yang terbaik baginya. Alkan berjalan meninggalkan ruang keluarga tanpa menunggu drama lebih jauh lagi. Angkasa yang berniat menghentikan langkah sang adik harus mengurungkan niatnya karena tatapan tajam tak terbantahkan.


"Al?!" panggil Bram, tapi tak menghentikan langkah pria dewasa itu, "ALKAN MENIKAHLAH DENGAN BUNGA!"

__ADS_1


Tap!


Suara yang menggema menyebar ke seluruh rumah berhasil membuat Alkan berbalik dari tempatnya berhenti. Tatapan yang tidak bisa diartikan menguasai netra tajam pria dewasa itu. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana bersamaan hembusan nafas untuk mengatur emosinya.


"Baiklah. Aku akan menikahi Bella, tapi ada syaratnya. Bagaimana?" ucap Alkan mengubah rona bahagia Milea, dan Bella, tapi tidak dengan Angkasa dan Bram yang tahu benar bagaimana setiap sepak terjang seorang Alkan Putra.


Kebahagiaan yang diliputi rasa penasaran dengan suasana yang menegangkan semakin meningkat. Hingga keheningan menjadi akhir.


"Diam? Artinya kalian setuju. Dengarkan aku Baik-baik." Alkan menatap satu persatu manusia yang memiliki harapan tinggi padanya dengan tidak enak hati. "Syarat ku adalah pernikahan tidak akan diumumkan ke publik, dan Bunga tidak bisa mengatur hidupku termasuk menuntut nafkah batin yang memang berhak dia dapatkan."


"Keputusan terakhir ada ditangan kalian. Selamat siang." Alkan berbalik setelah menyampaikan semua yang memang harus ia katakan.


Kuharap kalian menolak syarat ku. Semua ku lakukan demi masa depan Bunga.~batin Alkan dan melangkahkan kakinya.


"AKU SETUJU!"

__ADS_1


Belum sempat satu langkah menapaki lantai. Suara lembut dengan persetujuan membuat dunianya menjadi terbalik. Rasa sesak di dada tiba-tiba saja datang menyapa.


__ADS_2