
Padahal hari ini, dia hanya makan buah sebelum melanjutkan tidur. Satu yang dia sadari, aroma keringat Bryant menghadirkan rasa tak nyaman yang menumpuk di dalam perutnya. Semakin mencoba ditahan. Justru, rasa eneg semakin kuat dirasakan. Ara mendorong tubuh suaminya, lalu berlari turun menuju kamar mandi.
"Ara!"
Bryant berlari menyusul istrinya. Ternyata Ara muntah, mungkin saja fase yang dialami oleh ibu hamil mulai dirasakan sang istri. Niat hati ingin membantu. Justru terlihat isyarat tangan wanita di dalam kamar mandi menolak kehadirannya. Melihat itu, Bry memilih untuk memanggil Kinara yang ada di depan kamar.
Kini, Ara dibantu sang dokter. Sementara Sam yang masih menghilang untuk mempersiapkan pernikahan. Tentu tidak bisa diganggu. Setidaknya ada dokter Kinara. Selama beberapa waktu. Bryant hanya mendapatkan lirikan mata dari istrinya. Aneh sekali, tadi semua baik dan tiba-tiba berubah.
"Istirahat saja. Aku akan kembali membawa makananmu," ucap Kinara, si dokter meminta Bryant untuk ikut keluar, lalu menjelaskan. Jika Ara tidak suka bau keringat suaminya sendiri, mendengar hal itu. Bry hanya bisa menghela nafas, "Mandilah, Tuan. Pastikan selalu dalam keadaan segar. Sepertinya, mood nona Ara akan sering berubah drastis."
"Thanks, ya. Oh, ya. Panggil aku Bryant sana, dan istriku Ara. Kamu bulan pelayan di rumah ini, jadi jangan terlalu formal. Katakan padaku, tentang sesuatu. Apa Ara bisa bepergian menggunakan pesawat? Jika tidak, aku harus menunggu berapa lama," Bryant mencoba mengetahui, apakah dia bisa membawa sang istri untuk menikmati liburan, atau hanya boleh berdiam diri dirumah.
Kinara tersenyum simpul, "Dokter Sam akan menjelaskan, tapi setelah pemeriksaan tiga bulan kehamilan. Selain situasi emergency. Kemungkinan akan sulit untuk bepergian. Tim medis juga masih melakukan tahap pemeriksaan pertama. Harap bersabar, Tuan Bryant."
"Ok, aku tunggu kepastiannya."
Kinara pergi meninggalkan Bryant, membuat pria itu berjalan menghampiri pagar pembatas lantai dua. Tatapan mata sendu dengan bibir terkatup rapat. Kini keputusan sudah final. Dimana dia memilih untuk bercerai dengan Hazel, tapi ada yang mengganjal hati nuraninya. Apakah bukti perselingkuhan sang istri pertama harus dibeberkan?
__ADS_1
Rasanya seperti seluruh beban dunia ada di pundakku. Aku harap, keluargaku tetap aman karena keputusan ku. Terutama Ara. Memang saat ini, Hazel tidak tahu. Siapa istri siriku, tapi sampai kapan? Keras kepala yang selalu menjadi terdepan. Sudah pasti akan menjadi masalah yang pelik. ~batin Bryant seraya memainkan jemari dengan mengetuk pagar pembatas.
Aku berniat membawa Ara ke luar negeri selama hamil. Setidaknya, keamanan lebih terjaga. Akan tetapi, kondisinya tidak memungkinkan. Namun, membiarkan tetap dinegara yang sama dengan Hazel juga berbahaya. Serba salah.~lanjut kata hati Bryant.
Bukan hanya dilema, tapi ini krisis kepercayaan. Jujur saja, kebenaran tentang Hazel membuat pria itu bergidik ngeri dan jijik. Bagaimana bisa, dia memilih istri rasa wanita malam. Selama beberapa tahun, dan tidak menyadari hal itu. Wow, betapa tidak peka nya sebagai seorang pria. Jadi, apakah benar, ada cinta untuk Hazel?
Mungkin saja tidak. Tidak pernah ada cinta. Jika dipikirkan. Selama ini hanya tentang kewajiban, dan tidak lebih. Jika benar ada cinta. Bukankah sejak awal, dia akan melindungi dan memberikan kebahagiaan tanpa mengurangi kepedulian. Terkadang, disaat Hazel melakukan perjalanan untuk shoot. Tidak sekalipun ada rasa khawatir singgah di hatinya.
Apapun itu, Bryant mencoba untuk menetapkan hati. Apakah keputusan yang diambil sudah tepat? Sementara di rumah sakit. Darren, Denis serta Nyonya Wiratama diliputi rasa khawatir. Sudah hampir satu jam kurang, tapi pemeriksaan Tuan Wiratama belum juga selesai. Para dokter masih melakukan pekerjaan mereka di ruangan ICU.
"Ka, Denis akan telpon yang lain. Tidak mungkin kita akan terkurung di dalam ruangan ini terus. Setelah semua wartawan pergi, Kakak bisa bawa Mama pulang dan aku yang berjaga di rumah sakit."
"Kamu bawa Mama pulang, biar Kakak yang jaga Papa. Minta John untuk datang membawakan laptop dari kamarku. Pekerjaan kita menumpuk dan untuk membungkam banyak mulut. Aku siap bekerja lebih keras lagi," tegas Darren, membuat Denis mengangguk setuju.
Nyonya Wiratama hanya bisa memberikan pelukan seorang ibu, rasa sedih menguasai hati dan pikirannya. Terlebih lagi, dia tidak bisa mengatakan kebenaran tentang penyakit suaminya. Jujur ada rasa takut yang tidak bisa terjabarkan. Impian menikahkan putra sulung karena Tuan Wiratama berpikir, kemungkinan waktunya tidak lama lagi.
Darren menggoyangkan bahu sang Mama, "Mama, kenapa? Lihat, Denis sudah mengulurkan tangannya, tapi mama bengong."
__ADS_1
"Gakpapa, Nak. Boleh tunggu dokter keluar? Sebenarnya, Mama merasa lapar sekali. Sejak semalam belum makan apapun."
"Ya Allah, Ma. Kenapa gak bilang dari tadi? Yaudah, Aku keluar cari makan," Denis bersiap untuk keluarga, tapi tangannya ditahan Darren. Ternyata, sang kakak memberikan sapu tangan, "Ini, untuk apa, Ka?"
"Gunakan untuk menutupi wajahmu. Kakak jamin, para wartawan di luar. Tidak akan mengenalimu, tunggu dulu," Darren berjalan menghampiri ranjang pasien, dimana ada selimut lurik putih biru. Lalu, memberikan selimut itu pada adiknya, "Pakai ini untuk menutupi kepala, berpura-pura sakit. Jangan lupa untuk batuk sesekali."
"Kakak tamatan sekolah drama, ya?" Tanya Denis dengan tatapan tak bergeming, sayangnya Darren hanya membalas dengan tatapan mata serius.
Setelah persiapan menyamar selesai. Denis keluar dari ruangan itu dan benar saja. Para wartawan tidak bisa mengenalinya. Ingin sekali bersorak-sorai gembira, tapi masih bisa menahan diri, hingga langkah kaki nya melewati lorong pertama dan sontak saja melepaskan selimut yang dia pakai. Niat hati ingin melepaskan sapu tangan yang menjadi masker diurungkan.
Ngapain, Mak Lampir siang bolong muncul? Hadeh, makhluk tidak diharapkan bisa saja nongol. Siapa yang ngundang coba? Kalau lihat aku, bisa gawat. Runyam jadi nya, mending pura-pura sakit lagi, deh.~batin Denis menyibak selimut agar menutupi tubuhnya kembali, akan tetapi tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan si mak lampir.
Terlihat jelas, gadis yang duduk di salah satu kursi tunggu itu menatap lekat Denis dan membuat pemuda itu berpura-pura batuk. Langkah kaki yang dibuat senormal mungkin agar bisa melewati orang yang selalu membuat jiwa tenangnya meronta. Helaan nafas lega karena berhasil menjauh dari si mak lampir.
Denis melanjutkan perjalanan, lalu memesan makanan di kantin rumah sakit. Selimut yang digunakan tergeletak di salah satu kursi tempat menunggu pesanan. Sembari menunggu, pemuda itu memilih untuk menanyakan keberadaan ketiga temannya. Namun, di saat yang bersamaan. Ada yang menepuk bahu kirinya.
"Hai, Tampan. Kamu sakit apa?"
__ADS_1