
Wajah cantik dengan usia muda. Wajah itu cepat sekali menjadi wanita dewasa. Al mengecup kening istrinya, "Selamat malam, Istri kecilku."
Al membaringkan tubuhnya dengan tatapan mata terpatri pada wajah Bunga yang terlelap. Pasti gadis itu kelelahan. Apalagi, seminggu ini dia terpaksa meninggalkan rumah demi menyelesaikan pekerjaan di luar kota. Almaira pun harus dirawat istrinya seorang sendiri.
Perasaan berdebar di dalam hatinya. Helaan nafas lega, bukanlah cinta, tetapi itu rasa haru. Menikah dengan Bunga menjadi sebuah rasa syukur. Meski dia sadar, kehidupannya tidak akan selalu tenang dengan dunia lain yang menjadi pekerjaan utamanya.
Begitu banyak yang merasuk ke dalam pikirannya. Namun, tidak ada kata yang bisa menjelaskan. Perlahan matanya terpejam menjemput mimpi untuk beristirahat sejenak. Malam yang sunyi menyatu bersama aroma bunga lavender. Sang malam berlalu, berganti sinar mentari pagi.
Suara tangisan bayi yang terdengar cukup keras mengejutkan Al yang merasa baru beberapa menit memejamkan mata. Tubuhnya tersentak, dan bergegas turun dari ranjang. Pria itu mengambil Almaira dari ranjang ayunan bayi, lalu menimang anaknya seraya bersenandung kecil.
Bunga yang berniat untuk bangun memilih tetap berpura-pura terlelap, tetapi mata hazelnut itu mengikuti setiap pergerakan yang dilakukan oleh suaminya. Senyuman manis tersungging di bibirnya, "Om dingin ku, sweet sekali."
Suara gumaman itu terdengar lirih. Namun, membuat Al menoleh ke arah ranjang. Dimana istrinya masih meringkuk memeluk selimut yang lembut. Melihat itu, Al kembali mencoba menenangkan Almaira, kembali. Anehnya, bayi mungil itu selalu cepat terlelap jika mencium aroma dari sang papa.
"Sepertinya Almaira merindukan papa, ya? Maaf ya, Nak. Papa masih terlalu sibuk. Bagaimana jika kita liburan? Pasti menyenangkan." ucap Al mengajak bayi yang masih tidak tahu tentang dunia untuk mengobrol bersama.
Obrolan ringan dari Al, kembali pada Al. Bunga yang mendengar semua itu mencoba untuk menahan diri agar tidak tertawa. Di dalam kamar yang hanya beranggotakan tiga orang. Nampak istri yang sibuk menjadi pendengar di balik selimut, sedangkan di kamar lain hanya ada ketegangan.
__ADS_1
Saat ini, Bryant terdiam membisu duduk bersimpuh menghadap istrinya yang duduk di sofa dengan tatapan nanar. Pria itu, baru saja ingin mencoba mengatakan kebenaran akan hidupnya. Namun, tiba-tiba ada kejadian tidak terduga. Dimana ponsel yang dia tinggal sebentar untuk mengambil air putih justru berdering.
Di saat itu, Ara yang tengah merasa bosan mengambil ponselnya dan siapa sangka. Sebuah panggilan membuat bumil terduduk lemas dengan linangan air mata yang enggan meloloskan diri. Semua itu karena si pemanggil adalah Hazel.
Ntah apa saja yang di dengar Ara dari Hazel. Nyatanya, saat ini sikap istrinya sudah berubah menjadi dingin. Jangankan untuk menyentuh wajah sang istri, dia pun tak sanggup menghilangkan duka yang terpancar dari netra istrinya.
"Ara ....,"
Ara mengangkat tangannya, membuat Bryant terdiam kembali. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan kamar tanpa ingin menoleh kebelakang. Namun, ketika langkahnya hampir mencapai pintu, sesaat berhenti. "Siapa aku bagimu? Aku tidak memiliki jawabannya. Mungkin, selama ini hanyalah imajinasi ku, jika kamu menganggap diriku sebagai istri."
"Maaf, Tuan. Aku lupa, jika raga ini hanyalah raga yang dibeli oleh Anda. Aku permisi, dan jangan coba cari diriku. Berikan sedikit ruang agar Aku bisa bernafas." sambung Ara, lalu memutar kunci kamar, kemudian menghilang di balik pintu.
Bryant berteriak sekuat tenaga melepaskan rasa sesak di dadanya. Niat hati, harapan dan doa tak lagi mampu memberikan ketenangan. Bagaimana dia akan menjelaskan pada Ara. Jika kini, dia hanya ingin menjadikan wanita itu sebagai satu-satunya istri dan akan memberikan hak sebagai ibu dari anak-anaknya nanti.
Kegalauan yang dialami Bryant dengan rasa penyesalan, tetapi bagaimana dengan Ara? Wanita itu berjalan menyusuri lorong hotel tanpa arah tujuan. Tatapan mata kosong dengan wajah pucat. Penampilannya kacau tanpa mengenakan alas kaki, bahkan beberapa staf yang menyapa. Diabaikan begitu saja.
Langkahnya begitu berat. Suara hati yang berkecamuk menyiksa rasa yang tersisa. Jujur saja, setelah mengenal Bryant. Benih cinta mulai tumbuh bermekaran. Dia sadar, saat ini hatinya mulai mengukir nama sang suami. Meski begitu, apa arti cinta sepihak? Ketika cinta itu hanya akan menjadi atas nama ikatan tanpa nama.
__ADS_1
Rasa sakit akan pengkhianatan, mungkin bisa terobati seiring waktu, tetapi kini dialah yang menjadi perebut. Bagaimana caranya memaafkan diri sendiri? Hubungan macam apa yang dia jalani saat ini? Ternyata pernikahan siri itu terjadi hanya karena permintaan istri sah dari Bryant.
Kebenaran yang pahit, tapi kenapa baru terungkap sekarang? Apa semua ini sudah direncanakan? Apakah mungkin setelah bayinya lahir, maka Bryant akan mengambil bayi itu? Sekali lagi, Ara tersentak ketika kakinya tersandung sebuah pot yang ada di lorong hotel.
"Astagfirullah, maafin Mama, Nak. Mama melupakanmu. Kita akan cari tempat yang aman." gumam Ara seraya mengusap perutnya yang mulai menampakan perubahan, wanita itu berusaha untuk tetap sadar. Meski kepalanya terasa berputar.
Ara berjalan menjauh dari kerumunan orang-orang. Langkahnya terus berjalan tanpa peduli ke arah mana, hingga wanita itu akhirnya keluar dari dalam hotel yang akan menjadi saksi pernikahan Sam dan Ocy. Hembusan angin segar bersama sinar mentari pagi yang menghangatkan, membuat tubuh bumil berkeringat.
Setelah berjalan selama lima belas menit. Langkahnya terhenti, menatap ke arah seberang jalan. Dimana di depan sana ada sebuah kotak persegi yang menjadi tempat telepon umum, tetapi saat ini, tangannya saja kosong. Sementara di sisi kanannya ada sebuah halte.
Tanpa pikir panjang, Ara berjalan mendekati halte itu, lalu duduk sejenak untuk mengembalikan energinya. Namun, pikirannya masih saja berperang. Ntah kenapa, hati berteriak meminta untuk kembali. Akan tetapi, akal sehat melarangnya. Bukankah itu disebut serba salah.
Lima menit kemudian, setelah mendapatkan energi tambahan. Ara kembali melanjutkan perjalanannya, tetapi kali ini. Langkahnya berjalan menuruni trotoar, hanya saja wanita itu lupa untuk menoleh ke arah selatan. Pagi hari yang selalu menjadi kesibukan banyak kendaraan.
Satu langkah, demi langkah mulai menapaki aspal yang keras. Ara berjalan seperti orang kebingungan dengan emosi yang bercampur aduk, bahkan seakan terhipnotis. Wanita itu tidak mendengar ada suara klakson yang memekakkan telinga.
Klakson yang bersahut-sahutan dari arah jalanan, membuat beberapa penghuni hotel serta pihak keamanan mencoba memeriksa apa yang terjadi diluar sana. Suara kehebohan tak bisa terelakkan, hingga tubuh yang berdiri ditengah banyaknya kendaraan. Tiba-tiba melayang terhempas beberapa meter, kemudian terbaring lemas tak berdaya.
__ADS_1