Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 42: OM, MAU APA?


__ADS_3

"SAH!" ucap Pak penghulu mengikrarkan ijab kabul telah berakhir dengan persetujuan semua saksi.


Kesadaran, kenyataan dan juga imajinasi. Bunga tidak bisa membedakannya lagi, ingin rasanya menari mendengar kata *SAH* dari Pak penghulu, tapi setelah mendengar ucapan Alkan yang memutuskan hubungan. Semua kembali gelap, dan matanya kembali terpejam dengan tubuh terjatuh ke sofa.


Dua jam kemudian, kelopak mata berbulu lentik terbuka. Aroma segar mawar menyeruak masuk, bukan hanya itu karena aroma buah juga bercampur jadi satu. Seperti parfum kesukaannya. Sangat menenangkan. Cahaya dari langit kamar mengusiknya, dan dengan satu telapak tangan menghalau sinar lampu putih.


"Bangunlah! Apa kamu tidak lapar?"


Suara yang tegas, tetapi suara itu terdengar lebih lembut dari biasanya. Sontak tatapan matanya menelusuri seluruh ruangan dan berhenti terpatri pada sosok di depan cermin dalam keadaan terbalut handuk. Tubuh putih mulus dengan punggung kekar itu hanya bisa membuat bola matanya membulat sempurna.


"Berhenti melotot! Aku bukan hantu. Cepat bangun! Kita akan turun makan malam bersama." Jelas Alkan yang membalas tatapan Bunga dengan santai.


"Om? Ngapain di kamarku? Keluar!" Bunga yang masih dalam pengaruh emosi tak menyadari dimana dirinya saat ini berada. "OM!"


Alkan meletakkan botol parfumnya, lalu berbalik melangkah berjalan ke ranjangnya. Setiap langkah semakin menambah degupan jantung gadis di atas ranjang. Perubahan ekspresi Bunga, membuat pria itu berhenti tepat di depan ranjang. Kemudian, menarik selimut yang menutupi tubuh sang istri.


"Mau bangun sendiri, atau?" gertak Alkan.


"Om, mau apa?" tanya Bunga gugup.


"Menurutmu?" tanya balik Alkan menaikkan satu alisnya menatap Bunga intens, sontak gadis yang ditatap memeluk tubuhnya sendiri. "Aku tunggu sepuluh menit. Cepatlah mandi!"

__ADS_1


Alkan berlalu tanpa kata lagi. Ia berjalan mendekati lemari pakaiannya untuk mengambil baju ganti. Bunga yang masih berusaha mencerna semuanya. Tiba-tiba mengingat semua rangkaian peristiwa hari ini. Setelah beberapa saat termenung.


"Om!" panggil Bunga.


"Hmm." Jawab Alkan yang masih mencari pakaian ternyaman untuknya di dalam lemari.


Bunga turun dari ranjang, lalu berjalan menghampiri pria yang posisinya kini membelakangi dirinya. Hingga jarak menyisakan setengah meter, sebuah pelukan diberikan. "Makasih, Om."


"Bunga lepaskan!" titah Alkan tegas.


Bukannya melepaskan. Justru pelukan semakin erat, membuat Alkan mau tidak mau meninggalkan pakaian yang ia pegang dan memegang kedua tangan Bunga yang melingkar di perutnya. Sayang sekali kedua tangan itu terlalu kuat.


Bunga melepaskan kedua tangannya karena suara Alkan terdengar aneh. "Om, kenapa suaranya serak? Apa om sakit?"


"Cepat masuk kamar mandi!" titah Alkan semakin membuat gadis itu bingung.


Rasa khawatir, membuat Bunga membalikkan tubuh Alkan agar menghadap padanya. Disaat itu handuk yang membalut tubuh Alkan terlepas. Wajah memerah gadis itu langsung ditutup mata dengan telapak tangan kekar.


"Kamu itu selalu saja tidak mendengarkan. Apa kamu mau jadi istri....,"


Bunga langsung menarik tangan Alkan agar menyingkir dari wajahnya, lalu menatap pria itu dengan senyuman nakal. Helaan nafas panjang terdengar, tapi hanya dari pengantin pria bukan pengantin wanita.

__ADS_1


"Om, bukankah saat ini kita sah?" tanya Bunga mendekati Alkan menghilangkan jarak diantara keduanya.


"....,"


Bunga memepet Alkan, membuat pria itu tidak bisa berkutik. Bukan karena pertanyaan sang istri, tapi karena posisinya saat ini tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. "Bisa tutup matamu? Aku tidak nyaman....,"


"Ish, Om. Aku tidak akan melewatkan kesempatan satu detik pun. Mulai saat ini, om milikku." Bunga memulai aksinya untuk meluluhkan hati Alkan yang kini menjadi suaminya.


Sementara di tempat lain, sepasang mata menatap wanitanya yang terlelap begitu awal setelah pertarungan di atas ranjang. Tatapan yang cemas dengan usapan lembut di pipi mulus sedikit mengurangi rasa bersalahnya.


Maafkan, Aku. Bukan maksudku ingin meninggalkanmu, tapi aku harus mengurus beberapa hal. Bersabarlah, dan tetaplah bahagia disini. ~batin nya.


Triiing!


Triiing!


Triiing!


Dering ponsel mengalihkan perhatiannya.


"Sepertinya sudah waktunya aku pergi." gumamnya seraya menyambar ponsel dari atas nakas, lalu melihat notifikasi pesan masuk dari atas layar.

__ADS_1


__ADS_2