
Langkahnya kembali menapaki lantai menuju tempat yang sudah disediakan. Rasa ragu di hatinya seketika menghilang. Apalagi ketika netra yang menatapnya tidak memiliki kekhawatiran, bahkan nampak begitu tenang.
"Kita akan duduk bersama. Dua cangkir teh, tidak mungkin untukku semua. Duduklah!"
Bunga tersenyum, lalu berjalan menghampiri suaminya. Dia tahu, jika dibalik mantel itu ada bayi yang terlelap manja. Hatinya sakit dengan jeritan yang tidak bisa seorangpun dengar. Ingin marah, tapi tidak bisa menyalahkan siapapun.
Kenyataannya adalah baik Al atau bayi itu tidak bersalah. Cinta yang dia miliki tidak buta hingga tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan Zack. Ada pertanyaan, kenapa sang suami harus ke hutan. Jika benar demi pekerjaan. Lalu, mayat wanita itu. Arghhh, sungguh rumit.
Kini Al dan Bunga duduk saling berhadapan. Keduanya terlihat tenang mengendalikan badai di dalam hati masing-masing. Kemudian, pria itu menyingkirkan mantel hingga terlihat bayi mungil cantik dengan mata terpejam.
"Aku tidak bisa basa-basi, tapi aku akan coba bicara dengan cara yang baik." Al mengalihkan tatapan matanya menatap bayi cantiknya, membuat Bunga harus berlapang dada. "Aku kemari untuk mengambil putriku."
"Zack adalah tangan kananku dan dia bertugas menjaga Katrina yang tengah hamil anakku. Aku memang brengsek karena tidak jujur denganmu. Akan tetapi, bayi ini tidak bersalah. Kamu adalah istri ku. Kenyataan ini pasti melukaimu. Jika kamu ingin memberikan hukuman. Hukum saja aku, tapi jangan ....,"
Bunga memejamkan mata, rasanya begitu berat. Bukan karena pengakuan suaminya, tetapi karena dia menyadari betapa teguhnya Al mempertahankan bayi itu, bahkan harus berbohong. Kenapa tidak mengatakan, jika Zack menjebaknya. Kenapa harus menerima kesalahan yang tidak pernah dilakukan?
Setiap kata yang keluar dari bibir Al. Seperti kenyataan, tapi nyatanya itu hanya ilusi. Namun, jika itu akan memperbaiki keadaan dan mengurangi rasa bersalah suaminya. Maka, sebagai istri siap untuk selalu menjadi sandaran.
"Katakan satu hal padaku. Siapa nama putri cantik yang mengalihkan seluruh duniamu?" tanya Bunga menyudahi pengakuan Al, wanita itu ingin menyudahi kesalahan sang suami.
"Almaira Keisha Alkan Putra."
Kamu terlalu baik, Om. Aku mencintai pria yang tepat. Aku tahu, kamu ingin menjaga martabat dari almarhum Katrina dan juga kesalahan Zack. Jika ini yang menjadi keputusanmu. Maka, aku akan melupakan yang ku ketahui. Sekarang keluarga kita lengkap. ~ucap hati Bunga, lalu beranjak dari tempatnya.
Bunga mengulurkan kedua tangannya, membuat Al bernafas lega. Bayi mungil yang terlelap perlahan beralih haluan, "Ayo, masuk! Udara malam tidak baik untuk kita semua."
Langkah kaki pasutri itu berlalu meninggalkan kegelapan malam. Malam emosi dengan cinta kasih yang nyata. Hubungan itu, bukan hanya tentang darah. Namun, hubungan hati akan selalu menjadi ikatan batin. Orang mengatakan, darah lebih kental daripada air. Lalu, bagaimana dengan hubungan hati?
__ADS_1
Kenyataan nya, di dunia yang semakin krisis kepercayaan dan toleransi. Manusia tetap memiliki rasa belas kasih. Ingatlah, ketika kita mengulurkan tangan untuk satu orang. InsyaAllah, kebaikan akan selalu menyebar.
Keesokan harinya.
Situasi panas dengan para karyawan yang sibuk bergunjing, membuat hawa tidak kondusif menyebar ke seluruh gedung lantai tengah. Dimana ditempat itu nampak seorang wanita sudah duduk sejak pagi hanya untuk menunggu pemilik perusahaan.
Tidak masalah, jika hanya menunggu, tetapi lihat kelakuannya seperti wanita tidak waras. Ntah sudah berapa banyak karyawan yang kena semprot karena salah membawa minuman atau terlalu lama membuatkannya.
Sementara lobi, Pak Satpam langsung memberitahukan situasi di lantai atas pada sang atasan. Pengaduan dari pria berseragam putih, membuat wajah pria tampan yang awalnya tersenyum sumringah mendadak menjadi tersenyum kecut.
Jika dibiarkan, sudah pasti akan ada kejadian serupa yang tidak bisa dikendalikan. Sudah waktunya untuk bertindak, "Izinkan dia masuk, tapi setelah aku mengirimkan pesan padamu."
"Baik, Pak Bryant."
Bryant masuk ke dalam lift khusus dan tidak lupa menghubungi seseorang agar segera keruangan nya. Senyuman devil yang selama ini bersembunyi. Akhirnya terbit kembali. Ntah apa yang membangkitkan, tetapi kini waktunya untuk melindungi keluarga. Sudah cukup menjadi budak dari atas nama cinta palsu.
Aromanya sangat menusuk, meski dulu dia sangat menyukai aroma itu. Tetap saja, sekarang muak. Belum juga pemilik aroma mengatakan sesuatu, tiba-tiba dari kamar mandi seorang wanita keluar dengan rambut basah seraya membenarkan pakaian yang terlihat berantakan.
"Sayang, kenapa buru-buru. Aku hanya istirahat sejenak. Kita bisa lanjutkan lagi, bagaimana?" Bryant bertanya seraya beranjak dari tempat duduknya.
Hazel terkejut dengan mata terbelalak tak percaya. Saat ini, dia melihat penampilan Ocy sudah amburadul, dan Bryant juga memakai kemeja dengan kancing yang terlepas. Tidak. Bos dan bodyguard? Bagaimana bisa menyatu.
"Sayang!" Seru Hazel menghentikan langkah Bryant yang langsung menoleh ke arah mantan istrinya.
"Ay, urus mantan istri lucknut itu. Aku mau berendam aja. Gerah," Ocy menyibak rambutnya dengan sengaja memperlihatkan stempel merah di leher jenjangnya yang dia dapat dari Samuel.
Biarkan saja, model itu berpikir, jika dia dan Bryant saling mencintai dengan begitu. Ara tidak akan mendapatkan ancaman apapun. Yah, ini semua adalah ide si boss. Gila, sih, tapi terbaik. Jika sebagai saudara bisa membantu sesama saudara. Kenapa tidak?
__ADS_1
Bryant membenarkan kancing kemeja dengan ekspresi wajah tidak bersalah, "Apa kita saling kenal? Sejak kapan, aku jadi kekasih wanita malam?"
"Bry, Aku ....,"
"Stttt! Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu." Bryant meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, lalu melemparkan ponsel ke arah Hazel. Benda mati itu jatuh tepat di depan sang mantan istri dengan suara yang cukup keras, bahkan membuat ponsel cukup rusak parah, "Coba perbaiki!"
"Jangan menatapku seperti itu, Aku tidak terpengaruh. Setiap sentuhan, setiap lenguhan manja, setiap suara derit ranjang, setiap pagutan. Aku sudah membayarnya, jauh lebih mahal dari yang diberikan para klien-klien lain yang menggunakan jasa olahraga ranjang panas sang model Hazel Laurent."
Bryant menyedekapkan tangan, lalu menatap Hazel begitu tajam, "Jangan pernah datang ke dalam hidupku. Aku bahagia bersama keluarga ku. Pergi dan jangan pernah kembali. Jika Aku lihat kamu di sekitar keluarga ku. Jangan salahkan diriku. Hidupmu hancur di tanganku."
Boleh pingsan? Sejak kapan, Bryant berbicara sangat kasar dan tegas. Suara pria itu bukan permintaan, tetapi perintah. Yah, dia ingin mengusirnya dari kehidupan yang selama beberapa tahun menjadi miliknya. Tidak bisa semudah itu.
"Bry, Aku hamil anakmu."
.
.
.
.
...⭐🔥🔥🔥⭐⭐⭐🔥🔥🔥🔥⭐⭐⭐🔥🔥🔥⭐...
...Afternoon reader's, happy reading, othoor mau kasih rekomendasi nih, jangan bosen ya. Semangat tuh akan baik, jika kita sebarluaskan. kuy bisa langsung kepoin, 🤭...
__ADS_1