Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 101: INGATAN BRAM - KEPUTUSAN ANGGUN - USAHA HAZEL


__ADS_3

Kebersamaan itu menggambarkan betapa kasih sayang seorang ibu bisa menyebar. Meskipun itu hanya untuk sang menantu. Bram tahu, bagaimana sifat kakaknya. Jujur saja, dia tak ingin melebih-lebihkan tentang sang kakak. Namun ada sesuatu yang masih mengusik pikirannya. Apalagi jika bukan tentang Ara.


Wajah familiar dengan postur tubuh yang sangat persis dengan seseorang di masa lalu, tapi masalahnya ini bukan hanya tentang masa lalu yang ia punya. Namun, masa lalu banyak orang. Tiba-tiba ingatan itu kembali hadir. Ingatan beberapa tahun yang lalu, di mana dia dan kakaknya masih melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Suasana kampus yang teramat ramai, membuat langkah kakinya terburu-buru untuk segera masuk ke kelas karena waktu yang mepet dan saat berbelok ke lorong.


Bruugh!


Dia tidak sengaja menabrak seorang wanita dengan penampilan sederhana. Iya ingat benar, saat itu tangannya langsung terulur untuk membantu sang wanita. Akan tetapi, ada tangan lain yang menepis kasar tangannya. Yah itulah pertemuan pertama kalinya dengan seorang wanita dan juga seorang pria lain. Dimana ketiga orang itu merupakan mahasiswa kampus tersebut.


Sungguh, kehidupan itu selalu sangat misterius. Di saat bersamaan ternyata orang yang menepis tangannya justru merupakan adik dari calon kakak iparnya. Benar pria itu adalah Alkan, sedangkan wanita yang hendak ia tolong karena tidak sengaja menabrak adalah Sifani. Ara mengingatkan dia akan sosok Sifani yang memang terkenal di kampus. Namun, satu hal pasti. Tidak mungkin kedua wanita itu sama karena memiliki usia yang berbeda.


Saat ini, ia tak menyangka. Jika akan melihat sosok yang hampir mirip dan sama persis seperti Sifani. Apakah mungkin Al tidak menyadari hal itu, atau pria itu telah melupakan wanita pujaan hatinya. Apapun yang ada di dalam pikiran Bram tidak semuanya benar ataupun salah. Kini hanya takdir yang tahu rahasia di balik wajah Ara.


Meninggalkan kegalauan Bram yang tengah mengingat masa lalu. Di tempat lain, Anggun baru saja memasuki rumah yang memang sengaja ia beli untuk mengantisipasi, jika segala sesuatu memang menjadi tidak sesuai rencananya. Rumah itu memang tidak sebesar rumah Ara, tapi cukup bisa untuk menjadi tempat tinggal sementara.


Rasa lelah yang mendera dengan hati kosong serta pikiran kacau, membuat wanita itu langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, "Aku tidak peduli dengan apa yang dia pikirkan, tapi aku sangat peduli. Jika keinginan dia ingin kembali pada Ara. Maka, tidak akan kubiarkan itu terjadi. Kisah balas dendam baru saja dimulai."


"Tunggu dulu, bukankah Ara masih ada di rumah bordil. Benar, wanita itu pasti sibuk menjadi penari ranjang. Jadi, sudah kuputuskan untuk memeriksa di sana, tapi untuk itu. Kenapa tidak suruh orang ku saja? Setidaknya bisa diajak bersenang-senang juga, sedangkan aku bisa melihat secara live. Bagaimana momen wanita itu harus menjual diri. Hah, seperti itu lebih baik."

__ADS_1


Setelah bermonolog dengan dirinya sendiri. Anggun bergegas menyambar ponsel pintarnya, lalu mendial nomor yang memang menjadi langganan panggilan, "Gue ada pekerjaan buat, Lo. Cepat datangi rumah pojok dan buat janji temu dengan salah satu wanita panggilan di sana yang bernama Ara. Terserah lo mau dibawa ke hotel atau mau dibawa kemanapun, tapi gue butuh rekaman yang hot. Bayaranmu langsung di transfer sekarang, oke, bye."


Panggilan itu diakhiri tanpa harus menunggu jawaban dari seberang. Satu hal yang pasti, pria yang selalu menemani malamnya itu. Pasti siap melakukan apapun ketika mendapatkan bayaran yang sesuai dengan tarifnya. Yah, anggap saja. Saat ini, Anggun tengah membuang uangnya secara percuma. Bagaimana tidak, wanita itu bahkan tidak tahu. Jika saat ini, Ara tidak ada di rumah bordir dan justru sudah menjadi istri orang kaya.


Biarkan saja Anggun melakukan apapun yang dia mau. Kita hanya perlu menonton. Wanita itu hanya peduli dengan egonya sendiri dan balas dendam. Sementara di satu sisi, Hazel baru saja pulang dalam keadaan segar bugar dan kembali semangat. Langkah kakinya memasuki rumah dengan riang, lalu ia melihat keadaan rumah yang begitu tenang tapi ada Wajah pria dengan senyuman manis yang menyambutnya.


"Sayang, kamu di rumah. Apa semua pekerjaan sudah selesai?" tanya Hazel, dan langsung menghampiri sang suami yang berdiri di bawah tangga.


Bryant tersenyum dan membiarkan sang istri memeluknya erat. Saat ini, dia tengah mengesampingkan rasa jijik dan juga penasaran serta curiga di dalam hati dan pikirannya. Apapun yang akan terjadi dalam beberapa hari kedepan. Sebagai seorang suami dan pria, dia akan mencoba menahan diri agar semua kebohongan bisa terungkap tanpa harus membuat kehebohan di dalam rumahnya.


Sejenak saja, biarkan semua berlalu apa adanya. Tidak ada kebohongan, tidak ada kecurigaan yang terlihat dari wajahnya. Semua itu, karena kini hanya akan ada kepercayaan dan kasih sayang yang tulus. Tanpa Hazel sadari, jika kali ini dia dalam pengawasan sang suami. Wanita itu hanya berpikir satu hal. Dimana ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Bryant jatuh cinta kembali dan bisa melakukan hal yang saat ini ia pikirkan.


Pelukan dilepaskan, lalu ia menggenggam tangan sang istri. Tatapan mata menatap dengan lembut, "Aku ingin sekali liburan bersamamu, tapi beberapa pekerjaan penting tidak bisa ditinggalkan. Tenang saja, karena mulai malam ini aku akan menginap di sini dan kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti dulu. Jadi, anggap saja ini sebagai liburan. Kita bisa dinner, bagaimana?"


Hazel mencebikkan bibir dan juga mendengus sebal. Wanita itu benar-benar merasa tak bisa berbuat apapun lagi. Sulit sekali mengajak suaminya untuk kembali bermesraan seperti dulu. Padahal niat hati ingin membawa pria itu liburan, lalu bisa merencanakan honeymoon bersama. Hanya itu cara terakhir agar bisa mengatasnamakan bayi di dalam kandungannya. Jika tidak bisa tidur bersama, bagaimana mengatakan anak itu adalah anak Bryant.


Wajah yang ditekuk dengan hentakan kaki sang istri. Tak luput dari pengamatan Bryant, meski menyadari semua itu. Dia tetap bersikap biasa dan mencoba untuk tidak terpengaruh, "Istriku yang cantik, mau dinner atau jalan-jalan ke mall? Jangan ngambek, nanti cantiknya hilang. Sini peluk lagi."

__ADS_1


Hazel mencoba menenangkan diri. Kini langkahnya tidak bisa terburu-buru. Apalagi baru saja mendapatkan hasil positif dari program yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Saat ini, ada pembuahan di dalam rahimnya. Impian tetap menjadi nyonya Bryant semakin bersinar terang. Meski untuk itu, satu tahap lagi harus dia lakukan. Mana mungkin mengatakan hamil, sedangkan selama beberapa bulan tidak melakukan hubungan badan.


"Sayang, apa kita bisa menginap di hotel yang dulu?" tanya Hazel setelah mendapat sebuah ide cemerlang, sesaat Bryant tak paham yang dimaksud istrinya hingga tatapan keduanya bertemu.


"Apa maksudmu, hotel D'Lux Garden?" tanya balik Bryant memastikan tidak salah mencerna dari permintaan Hazel.


Anggukan kepala dengan senyuman yang tersinggung di bibir sang istri. Langsung membuat Bryant melepaskan pelukannya, tanpa kata. Pria itu memilih meninggalkan Hazel. Jangankan mengucapkan permisi, menoleh pun tidak. Sontak saja, Hazel terperangah. Untuk pertama kalinya, ia melihat tatapan tidak suka dari sang suami.


"Dia kenapa? Apa yang salah dengan hotel itu?" tanya Hazel bermonolog pada dirinya sendiri.


...----------------...


...----------------...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭

__ADS_1



......................


__ADS_2