Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 32: FRUSTASI - SANG PENGGANGGU


__ADS_3

Pembicaraan dokter dan suami pasien berlangsung dalam ketenangan. Berbeda dengan amarah yang menyelimuti hati seorang wanita. Dimana wanita itu sibuk menatap hamburan foto yang tersebar di seluruh kamarnya. Kepalan tangan begitu erat hingga kuku memutih dengan tonjolan otot biru.


"KETERLALUAN! ALKAN AWAS KAMU!" seru Hazel seraya menginjak-injak foto perselingkuhannya.


Baru saja ia pulang dari mall. Setelah shopping memborong persiapan beberapa gaun pesta demi pemotretan di luar negeri. Justru sebuah paket yang dikira salinan kontrak kerjasama ternyata berisi lembaran foto kebersamaannya dengan sang kekasih gelap saat bercinta di sebuah hotel. Tak ayal kemarahan menguasai hati sang model.


Triiing!


Triiing!


Triiing!


Dering ponsel dengan suara yang cukup keras tetap diabaikan. Kini fokusnya hanya pada foto yang sangat wah dan pasti bisa dijadikan trending topic. Bahkan dalam kemarahan itu, Hazel masih belum menyadari jika sang suami sudah menghilang tanpa pemberitahuan. Sungguh aneh tapi nyata. Seorang istri yang sibuk dengan kesenangannya sendiri bisa melupakan keberadaan pasangannya.


"Hahahaha," Hazel tertawa seorang diri dengan tubuh perlahan ambruk menyapu beberapa lembar foto. "Tidak akan kubiarkan, pernikahan ku hancur hanya karena semua bukti ini. Aku pastikan Bryant hanya akan percaya padaku. Yah, pria itu sangat mencintai ku, dan....,"


Sesaat setelah mengucapkan nama Bryant barulah ia sadar. Sang suami tidak ada di kamar, dan sejak berpamitan untuk pergi bekerja. Sontak Hazel bergegas bangun, lalu menyambar ponselnya untuk menghubungi Bryant. Sekali, dua kali, tiga kali, bahkan sampai lima kali. Tetap saja panggilan hanya tersambung tanpa ada jawaban.

__ADS_1


Tingkah Hazel berubah menjadi gelisah, dan frustasi. Lihatlah mata yang bergerak kesana-kemari, dengan wajah memucat serta langkah kaki mondar-mandir dari ujung cermin ke ranjang. Begitu pula sebaliknya tanpa ada jeda. Untuk kesekian kali panggilan dilakukan, tapi hanya nada dering yang terdengar.


Wuusshh!


Pyaaar!


"Aaarrrrrgggghhhh!"


Cermin bulat besar di depannya hancur tak berbentuk. Benda pipih yang menyala langsung padam menjadi patahan. Jeritan Hazel hanya menggema di dalam kamarnya. Tidak seorangpun bisa melihat seberapa besar rasa putus asa model papan atas itu.


"Dimana kamu? Aku harus cari, yah. Tidak akan kubiarkan Alkan merusak rencana ku." Hazel tak peduli dengan kekacauan yang dirinya buat, ia justru meraih kunci mobil lalu berjalan meninggalkan kamar utama.


Lelehan air mata bahkan enggan berhenti. Namun, tekadnya masih tetap teguh. Rasa sesak di dada masih sanggup dirasakan tanpa harus mengeluh betapa hancur remuk tak tersisa dunia miliknya. Hingga sebuah tangan mengulurkan secangkir kopi hitam tepat di depan wajah, membuat pria itu mendongak melihat siapa yang datang memberikan perhatian.


Senyuman tulus dengan kedipan mata yang mengisyaratkan agar Alkan menerima kopi mengalihkan perhatian pria itu dari layar laptopnya. "Aku bisa buat sendiri."


"Benarkah? Hapus air matamu! Bagaimana jika para staf kantor melihat idola mereka cengeng? Aku jamin dunia akan gempar....,"

__ADS_1


"Apa kamu kesini hanya untuk berceramah?" Alkan menerima kopi seraya membalas tatapan sang pengganggu dengan sinis.


Bukannya terkejut, apalagi takut. Sang pengganggu justru terkekeh seraya mengangkat tangan kanan berniat mencubit pipi pria dewasanya, tapi dengan cepat Alkan menepis tangan mungil yang selalu menjadi monster kecil menyebalkan baginya.


"Aduh, sakit." keluh sang pengganggu mengubah ekspresi wajahnya memelas, membuat Alkan menghela nafas, lalu mengulurkan tangan kanannya.


"Sorry," ucap Alkan enggan.


Pluk!


Sang pengganggu bukan menyambut damai permintaan maaf Alkan. Justru memberikan tepukan sekuat tenaga yang langsung membangkitkan sisi kesal pria dewasanya itu.


"Heh! Kamu....,"


"Papa!"


Seruan sang pengganggu sontak membuat Alkan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebentar lagi pasti akan drama besar karena monster kecilnya berulah. Suara sepatu dengan nada tegas terdengar semakin mendekat.

__ADS_1


Ceklek!


"Ada apa, Nak?"


__ADS_2