
Lirikan mata tertuju pada jam di pergelangan tangan kiri. Sekarang pukul delapan belas lebih dua puluh lima menit. Seharusnya orang yang ia tunggu sudah di tempat pertemuan, tapi mungkin saja akan telat. Dari tempatnya menunggu hanya ada pepohonan rindang dengan sebuah kursi kayu tunggal.
"Ayolah, kenapa jadi nyamuk yang nemenin, sih. Ish, lupa bawa obat nyamuk lagi," keluh nya dengan mengusir nyamuk yang suaranya mengganggu sekali.
Kesibukan menepuk pipi kanan, kadang lengan kadang kaki. Jelas sekali nyamuk menjadi pengganggu setianya. Bibir ngedumel seperti penjual sayuran keliling, menambah suasana malam menjadi kehebohan seorang diri. Sepuluh menit berlalu hingga akhirnya sorot mobil terlihat mulai mendekat, membuat pria itu menarik nafas panjang.
Ciit!
Mobil sedan hitam berhenti di depannya dengan jarak lima meter, lalu jendela kaca perlahan turun. Sebuah lambaian tangan memanggilnya, membuat pria itu berlari kecil menghampiri orang yang mengorbankan dirinya untuk transfusi darah pada keluarga nyamuk.
Braak!
Pintu mobil ditutup begitu kencang tanpa memakai perasaan. Jelas saja, rasa kesal karena harus digigit nyamuk ia lampiaskan pada pintu bahkan duduk pun seperti orang jatuh dari pohon. Hanya saja tidak sampai bunyi *gedebuk*. Hehehe yah bayangin aja gimana rasanya darah dihisap nyamuk yang lagi mode demo.
Skip. (Othoor nya kurang kerjaan)
"Bos, kenapa gak dateng tahun depan aja? Nungguin aku jadi tulang belulang." sindir pria itu mendengus sebal, tapi yang mendengarkan malah masa bodo dan kembali menyetir mobilnya dengan konsentrasi.
__ADS_1
"Hadeh, punya Bos satu, gini amat, ya. Nasib...,"
"Mau ke padang sahara atau ke kutub selatan?" tanya sang bos menghentikan keluhan anak buahnya.
"Hehehe, ampun, Bos. Aku disini aja bareng bos yang cakep," bujuk pria itu dengan kedua tangannya memberikan kode peace.
Perjalanan berlanjut hingga kendaraan itu keluar dari daerah pertemuan. Jalanan kota kembali terlihat dengan lampu-lampu jalan yang cukup menyilaukan mata. Sang anak buah memilih memasang ponselnya di tempat navigasi khusus, tentu saja setelah mengunci titik tujuan malam ini.
"Rumah itu? Apa kamu membawanya kesana?" tanya Sang bos dengan suara bergetar.
"Yup, Bos. Aku hanya tahu tempat itu paling aman untuknya, tapi ada sesuatu yang harus ku katakan," Sang anak buah menyiapkan diri agar bisa mengatakan sebuah kebenaran yang pasti bisa menjadi skot jantung bagi bosnya, "Bos, keadaannya tidak sama lagi."
Hening.
"Zack Maulana!" panggil Al dengan rasa tak sabar.
Zack meringis, bahkan tangannya spontan menutup kedua telinga, "Bos, gak usah teriak. Nanti lihat saja sendiri, aku bingung mau jelasinnya."
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban itu, Al menambah kecepatan mobil. Ia tak peduli dengan peraturan ataupun rasa terkejut Zack yang berteriak mengumpat. Ada sesuatu yang tidak bisa ia singkirkan. Rasa khawatir dan takut kehilangan. Seperti cahaya yang bersinar akan selalu menyinari, tetapi akan ada bayangan gelap yang menyapa.
Sepuluh menit berlalu. Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah berukuran sedang. Rumah minimalis di depannya itu memiliki banyak kenangan. Al masih terdiam duduk di kursi menatap kedepan. Setelah sekian lama pertemuan akan hadir di dalam takdirnya. Perlahan ia melepaskan sabuk pengaman, lalu mendorong pintu mobil. Kemudian melangkahkan kaki keluar dengan irama detak jantung tak menentu.
Setiap langkah terasa begitu berat. Namun, tetap tak ingin melarikan diri. Zack yang melihat bosnya emosional memilih bersabar untuk menunggu langkah pria itu mencapai pintu. Waktu yang berlalu terasa berhenti. Seakan dunia tak memiliki kehidupan lainnya hingga pintu rumah terbuka dan Al berhenti dengan jarak menyisakan dua meter.
"Tuan, Anda disini?" tanya seorang wanita berpakaian pelayan.
Al menoleh kebelakang dimana Zack bersandar di depan mobil dan langsung berlari menghampirinya. Tentu saja ada sebuah. Apalagi ada salah satu anak mansion yang keluar dari rumah itu, dan yang bertanggung jawab pastilah tangan kanannya. Zack Maulana.
"Irene, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Zack santai, dan dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.
"Bos, Irene bertugas membersihkan rumah ini dan juga memastikan semuanya baik dalam pengawasan," lapor Zack seraya memberikan kode mata agar Irene pergi dari rumah itu secepatnya.
Kode yang selalu menjadi ciri khas Zack tertangkap basah, membuat Al menghela nafas pelan. "Irene, pergilah! Tidak perlu kode segala. Aku mau melihat dia sekarang."
Tanpa menunggu reaksi Zack atau Irene. Langkah Al kembali berjalan maju, dan memasuki rumah itu, membuat kedua anak buahnya saling pandang. Jelas sekali tatapan mata cemas dan takut hingga suara teriakan dari dalam menyadarkan Sang anak buah yang langsung ikut masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bos!" panggil Zack dan Irene serempak.