Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 145: RUMAH TANGGA


__ADS_3

"Aku tidak tahu, apakah kamu benar anakku atau anak Katrina dan Saif. Siapapun kamu, aku akan bertanggung jawab." Al menatap bayinya, lalu membenamkan bayi itu agar tidak kedinginan. "Ayo, kita bujuk Mama kecilmu. Semoga kehadiranmu menjadi kekuatan dan kebahagiaan kita bersama."


Al kembali melanjutkan perjalanan membelah jalanan hutan yang harus ekstra hati-hati karena kondisi tanah basah. Pria itu tak membiarkan bayi mungilnya kedinginan, bahkan terlihat begitu tenang dan nyaman seakan merasakan kasih sayang seorang ayah. Sementara di tempat lain, Bryant baru saja pulang.


Setelah seharian di luar rumah untuk menyelesaikan pekerjaan, akhirnya bisa kembali. Memang waktu sudah menunjukkan malam yang begitu larut hingga saat memasuki kamar. Ternyata Ara sudah tidur tanpa mengenakan selimut. Langkahnya berjalan memutari ranjang, lalu menarik selimut agar menghangatkan tubuh sang istri.


Cup!


"Good night, Ara. Sweet dreams, maaf aku terlambat pulang. Semoga kamu dan anak kita selalu sehat. Amiin,"


Doa harapan dari Bryant mengusik tidurnya Ara. Apalagi selimut yang menutupi tubuhnya, justru menimbulkan hawa panas, "Mas, baru pulang? Mau ku buatkan kopi?"


"Kenapa bangun, hmm. Tidurlah! Aku bisa buat kopi sendiri ....,"


Ara mengucek matanya, lalu menyibak selimut, kemudian beranjak dari tempat tidurnya, "Aku istrimu, sudah sepantasnya melayani kebutuhan suamiku. Jangan khawatir, Mas. Aku tidur setiap waktu, lihat pipi ku saja sudah mengembang begitu besar."


Gemas sekali melihat Ara yang menggembungkan kedua pipinya seperti balon. Sontak saja, tangannya refleks memberikan usapan sayang ke puncak kepala sang istri. Jujur saja, dia tidak pernah merasakan ketenangan dan keharmonisan rumah tangga yang seperti ini.


Selama ini, hanya ada urusan ranjang dan uang bulanan. Kebersamaan sederhana yang berasal dari perhatian kecil. Tidak sekalipun ada di dalam rumah tangganya bersama Hazel. Sungguh, malam ini kesadaran kembali menyentuh relung hatinya.


Senyuman Ara seperti bulan sabit. Tiba-tiba saja, bibirnya ikut tersungging mengikuti senyuman manis istrinya. Ternyata melepaskan Hazel menjadi anugrah terindah karena malam ini. Semua akan berubah menjadi lebih baik. Masa depan telah melambai memberikan sinar harapan baru.


Bryant membiarkan Ara melakukan tanggung jawab sebagai seorang istri dengan melayaninya. Entah sadar atau tidak. Hubungan kedua insan itu semakin lebih baik dan semakin lebih dekat ke hati. Malam ini menjadi bukti, ikatan keduanya menuju jalan yang dipenuhi bunga.


"Mas, kopi mu. Mau aku buatkan makanan juga?" Ara bertanya seraya meletakkan kopi ke atas meja kaca yang ada di kamar mereka.


Jangan berpikir, wanita hamil itu harus turun ke bawah hanya untuk membuat kopi, ya. Kamar yang ditempati pasutri itu. Kini sudah di desain ulang dengan kelengkapan layaknya hotel. Ada pantry mini untuk membuat makanan dan minuman, bahkan kamar dijadikan satu agar memperluas ruangannya.

__ADS_1


Bryant menggelengkan kepala, "Duduklah, katakan. Apa saja kegiatanmu hari ini?"


"Apa kamu tidak lelah, Mas? Kita bisa bicara besok ....,"


"Aku tidak akan lelah hanya karena menemani malam milik istriku yang cantik. Seharian aku akan diluar untuk bekerja. Jika kita bisa saling berbagi cerita di malam hari. Lalu, kenapa tidak? Bukankah kita masih proses untuk memahami satu sama lain. Iya bukan?"


Penjelasan Bryant bukan tanpa sebab. Sebagai seorang pria, dia sadar memiliki banyak kekurangan. Apalagi wanita seperti Ara bulan mengedepankan uang, melainkan hanya mengikuti perasaan di hati. Hal sederhana seperti bertanya hal sepele adalah suatu hal yang harus dilakukan.


Ini adalah salah satu cara untuk bisa memahami pasangan. Apalagi Samuel sudah memberikan peringatan. Dimana dirinya harus mengubah sikap. Ara akan memahami bahasa cinta, tapi tidak bahasa kekerasan apalagi bahasa pria dingin. Masa lalu yang buruk harus dihilangkan.


"Hari ini, kami bertemu beberapa orang. Mas pasti tahu, Si Mba sexy yang menjadi desainer. Trus juga ketemu ama paman pemilik catering. Aku lupa namanya, tapi masakannya, uuumm, enaak banget, Mas. Pokoknya nanti aku mau coba semua makanan yang dimasak ....,"


Suara Ara terdengar begitu merdu, membuat Bryant tak berhenti tersenyum. Panjang seperti kereta curahan hati sang istri yang sesekali ditanggapi dengan antusiasme. Bagaimana ekspresi bumil yang begitu ceria dan terkadang menirukan cara bicara orang lain.


Wanita itu berkelana dengan seluruh kata yang menggambarkan kesibukan hatinya, bahkan sampai berpindah tempat pun tidak sadar. Bryant sengaja terus merespon seraya membimbing sang istri untuk kembali berbaring di atas ranjang. Meski tubuhnya masih berkeringat. Tetap saja tidak mengusik kesenangan Ara.


Dua puluh menit kemudian, sebuah kecupan mendarat menghangatkan kening, tak lupa memberikan salam pada bibir manis yang lelah bercerita. Sejenak, tatapan matanya mengamati paras wajah sang istri. Polos, anggun, manis, cantik. Tidak ada make up yang menutupi kecantikan alami Ara.


Tok!


Tok!


Tok!


Ceklek!


Tatapan mata menelusuri seluruh sudut kamar, tapi lampu masih menyala terang. Itu berarti penghuni kamar masih dalam keadaan sadar, tetapi ada dimana? Di saat hembusan angin menyapa meniupkan tirai dari arah balkon. Ia sadar, pasti orang yang dicari ada di luar di tempat yang memberikan ketenangan.

__ADS_1


Suara langkah kaki terdengar semakin menjauh dari pintu kamar, hingga langkah itu terhenti. Ketika netra nya melihat wanita yang berdiri di depan pagar pembatas dengan posisi membelakangi. Ingin melangkah lagi, tapi kenapa terasa berat. Padahal jarak tidak jauh. Tetap saja, seperti ada yang menahan.


Bagaimana cara mempermudah kesulitannya. Jika hati seakan terlilit rasa takut dan khawatir. Kenapa ada keraguan yang menyapa. Selama ini, meskipun harus melawan musuh terkejam. Tetap saja tidak ada kata gentar. Lalu, apa yang terjadi padanya hari ini?


"Sampai kapan berdiri disitu? Hubungan ini tidak akan maju. Jika salah satu diantara kita hanya diam ditempat." Tegas wanita itu seraya berbalik, kini tatapan matanya tertuju pada pemilik hatinya. Biarlah malam menjadi saksi.


"Aku akan diam dan mendengarkanmu. Silahkan, katakan apapun isi hati dan pikiranmu. Ingatlah, Aku tidak akan menyela. Sebelum kamu berkata sudah selesai. Mari kita selesaikan sisa rasa ragu di hati masing-masing. Jika setuju, duduklah!"


Itu bukan sebuah pernyataan biasa. Namun, ini awal dari kepercayaan yang tidak bisa digapai. Rasa percaya itu bukan untuk diminta, tapi untuk diperjuangkan. Hati bisa merasakan, apakah seseorang berkata jujur atau dipenuhi kebohongan. Sadar, tidak sadar. Setiap manusia memiliki perisai untuk melindungi diri sendiri.


Langkahnya kembali menapaki lantai menuju tempat yang sudah disediakan. Rasa ragu di hatinya seketika menghilang. Apalagi ketika netra yang menatapnya tidak memiliki kekhawatiran, bahkan nampak begitu tenang.


"Kita akan duduk bersama. Dua cangkir teh, tidak mungkin untukku semua. Duduklah!"


.


.


.


.


...🍫🍫🍫...


...Hay readers tersayang 🤭...


...yuk, kepoin karya teman othoor. ...

__ADS_1


...Jangan lupa, kita bagi semangat 🔥...



__ADS_2