
"Wuih, cantik semuanya, bening pol para cewek itu, samperin yuk!" ajak seorang pemuda dengan penampilan santai yang memiliki kebiasaan menyugar poninya ke belakang.
Lirikan mata tajam dengan jemari yang berhenti memainkan ponsel. Sesaat teralihkan karena ajakan sang adik. Tatapan mata tertuju pada empat wanita yang tertawa riang di bawah sebuah pohon rindang. Namun, ada seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wanita dengan celana putih berpadukan kemeja kotak-kotak hitam biru tua yang ditutupi jaket coklat. Penampilan tomboy, tapi tetap anggun karena rambut yang tergerai bebas.
"Kalian ini, tidak ada kerjaan? Ayo cabut!" ucap Pria itu setelah kembali sadar dari pikiran yang ambigu, akan tetapi pergerakannya langsung terhenti karena ulah sang adik.
"Punya kakak dingin kaya kulkas. Mana ada cewek yang mau," sindir pemuda itu dengan bola mata memutar malas, lalu kembali menyugar poninya, "Guy's, kita ajak mereka kenalan, yuk. Bosen tahu, di kawal kulkas berjalan."
"Woy, sotoy. Loe, ngomong kagak di atur. Dingin-dingin gitu, Darren kakak terbaik."
"Iya, nih. Denis ngaco, masa wajah ganteng mirip Bruce Lee di samain ama kulkas. Lagian, kalau ka Darren senyum. Noh semua cewek ngantri,"
Denis langsung terkekeh mendengar gombalan dan sindiran para kroco teman kampusnya. Bukan soal mereka membandingkan ketampanan wajah bersanding dengan sang kakak. Namun, karena pemikiran konyol temannya itu bisa seperti doa terakhir untuk sang mama. Ayolah, Darren Wiratama. Tunggu dulu, daripada kalian bingung. Yuk kenalan dulu.
Darren Wiratama dan Denis Wiratama adalah dua bersaudara dari keluarga Wiratama Group. Kedua pria dengan beda usia lima tahun itu seperti bukan anak kandung. Wajah memang tampan dan tidak bisa diragukan lagi, tapi sikap kedua pria itu seperti langit dan bumi. Darren adalah CEO Wiratama group selama dua tahun terakhir, tapi selalu bekerja di balik layar dan membiarkan sang adik menjadi tokoh publik.
Banyak orang yang akan mengenal Denis Wiratama sebagai wakil CEO Wiratama group, tapi hanya beberapa orang yang pernah melihat wajah Darren. Semua ini karena si kakak tertua tidak menyukai interaksi dengan banyak orang. Namun, masalah bisnis. Pria itu lebih mahir. Meski memiliki perbedaan. Keduanya tetap saling mengasihi dan menjaga satu sama lain. Hanya satu yang begitu kontras.
Darren tidak berminat mencari pasangan. Pria itu terlalu tenggelam di dalam dunia bisnis, hingga melupakan kesenangan masa mudanya. Maka dari itu, acara piknik yang saat ini ia ikuti. Semua berkat pemaksaan sang mama tercinta. Meski alasannya adalah untuk menjaga sang adik yang terbiasa membuat ulah. Di antara kelima pemuda itu, tidak ada seorang gadis pun. Ini adalah hari bebas tanpa perasaan.
"Ka, maafin Denis, ya. Kebiasaan adik kakak itu, selalu menyebalkan," ujar Wahyu dengan gelengan kepala melihat tawa Denis yang masih terus berlanjut.
Denis menahan perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa, "Kalian pikir, senyuman Ka Darren bakalan bikin para cewek antri. Iya 'kan? Ok, untuk itu. Kakak ku harus buktiin. Kenapa gak taruhan aja, kalian setuju guy's?"
__ADS_1
Wahyu langsung menjitak kepala Denis, "Loe ini waras? Masa bahan taruhan kakak sendiri. Emang gak takut dipotong jatah jajan...,"
"Setuju, maaf nie, ya, Ka Darren. Zaki juga penasaran, kalau kakak menang. Setidaknya aku bisa belanja juga, biar gak jomblo mulu."
"Hahaha, itu memang takdir Loe yang ngenes. Woy, loe ikutan gak nih? Jangan sampai yang taruhan. Cuma dua orang aja ya," sindir Denis melirik ke arah Waktu sinis, membuat yang dilirik menggaruk kepala yang tidak gatal.
Kesepakatan di antara anak muda itu, membuat Darren terdiam menahan nafas. Jika boleh, sudah pasti lebih baik duduk di ruangan kerja untuk menyelesaikan beberapa proyek yang membutuhkan tenaganya. Sayang sekali, hari ini harus terjebak di antara drama pemuda labil. Mau, tidak mau, dia harus menjadi bahan taruhan.
Setelah menentukan apa yang akan dilakukan Darren dan juga hadiah dari taruhan kali ini. Denis meletakkan kaleng soda yang ada di tangannya, lalu menatap sang kakak dengan manis seperti anak kecil. Akan tetapi, baru saja mulutnya terbuka. Sang kakak langsung membungkam menggunakan keripik kentang, "Makan saja cemilan mu! Aku tidak peduli dengan taruhan kalian."
"Ish, Kakak. Pantes aja mama ngedumel trus. Umur sudah tua masih aja betah ngejomblo," Denis langsung menutup bibir karena tatapan Darren tidak lagi bersahabat, tapi hanya sesaat karena akhirnya pria pemilik mata abu-abu itu beranjak dari tempat duduknya, "Semangat, Kak!"
Darren mengibaskan tangan, tak ingin mendengarkan apa yang adik dan teman-temannya itu katakan. Langkah kakinya berjalan menapaki rerumputan hijau dengan tatapan ke depan. Dimana air danau begitu memikat nya. Ia tahu, jika Denis dan para kroco berpikir. Dirinya akan melakukan tantangan, tapi semua pemikiran itu tidak benar. Justru, disaat hampir mendekati para wanita yang menjadi target.
Darren hanya melewati para wanita yang sibuk berceloteh berbagi cerita seperti para remaja. Tingkah pria itu, membuat sang adik dan para temannya menepuk kening secara serempak. Satu kata yang patut di umpat yaitu KACAU. Ekspektasi sudah melambung setinggi awan di langit, dan akhirnya terhempas kembali ke tanah. Hanya ibarat, kalau sungguhan pasti sakit dan bisa patah tulang.
"Ini jelek, boleh hapus? Aku terlihat sangat tembem...," protes Ara di saat melihat foto kedua puluh yang memperlihatkan pipi tembemnya, membuat yang lain bahagia, tapi tidak dengannya.
Ocy justru langsung mencium pipi Ara, "Kamu cantik, dan juga imut. Aku jamin, Bos Bryant gak bakalan lirik wanita lain, iya gak?"
"Huft, kalian ini, kalau kakak ku macem-macem. Kita bisa sunat lagi, beres kan." sambung Bunga dengan suara ketus, membuat Kinara dan Ocy saling pandang menikmati bulu kuduk yang meremang.
Kalau senjata keramat disunat lagi. Lah gimana nasib Ara? Ya kali, punya suami, tapi rasa single. Jangan deh, kasian. Baru juga mau punya anak satu, harusnya nunggu punya anak tiga atau lima dulu. Eh, kenapa jadi absurd, ya? Ginilah pemikiran para jiwa yang meronta menghalu tanpa arah tujuan. Sementara Ara sendiri langsung memanyunkan bibir lima senti seraya menghentakkan kaki.
__ADS_1
"Mendingan aku jalan-jalan, daripada kesel ama kalian. Jangan ikut-ikutan, kalian disini aja!"
Bunga, Ocy dan Kinara tertegun karena Ara terlanjur ngambek dan berjalan memisahkan diri dari mereka. Meski begitu, si bumil tetap di awasi dan memang sengaja tidak di susul. Sebagai sesama wanita. Mereka memahami yang namanya menikmati waktu sendiri. Jadi, tidak masalah untuk membiarkan Ara menikmati suasana danau seorang diri.
Ara berjalan mendekati tepi danau. Wanita itu tidak memperdulikan sekitarnya. Termasuk keberadaan Darren yang sudah ada di tepi danau duluan. Mood yang tiba-tiba buruk hanya karena hal sepele. Justru menambah pipi si bumil mengembang. Wajah manis semakin menggemaskan. Apalagi pancaran cahaya yang mengeluarkan inner beauty.
Ara duduk di atas rumput dengan kedua kaki bersila, lalu menatap air danau begitu dalam, "Kilauan itu mampu melukai mata. Apakah ini yang dinamakan kebenaran? Sampai kapan, rasa yang tertinggal menjadi pelipur lara? Aku ingin berteriak agar rasa ini pergi untuk selamanya."
"Teriak lah! Siapa yang melarangmu."
......................
VISUAL DARREN WIRATAMA 👇
VISUAL DENIS WIRATAMA 👇
...****************...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
__ADS_1
...****************...