
Duo K memulai pekerjaan dengan berjaga di pintu. Meski ingin sekali bisa mencicipi wanita yang ada di dalam kamar. Keduanya tetap berusaha menahan diri, hingga penantian selama beberapa lama. MamCa datang dengan merangkul seorang pria. Apapun yang tertangkap mata. Lebih baik dilupakan.
"Biarkan saja. Beberapa hal lebih baik tetap menjadi orang buta demi keselamatan kita."
Benar. Jika muncul banyak pertanyaan. Maka harus dihentikan. Apa gunanya sebuah pertanyaan? Ketika jawabannya saja sudah ada di depan mata. Seperti itulah hubungan MamCa dan Akbar. Seluruh rumah bordil perlahan, tapi pasti mulai mengetahui hubungan gelap sepasang teman ranjang itu.
Sementara di tempat pegadaian. Yashinta masih menunggu antrian. Gadis itu sudah bertekad akan menggadaikan motor dan juga perhiasan terakhirnya. Meski banyak kenangan. Saat ini yang terpenting mendapatkan biaya operasi sang ayah.
"Nomer antrian dua puluh. Loket lima."
Suara yang terdengar dari speaker di atas membuat Yashinta bergegas meninggalkan tempat duduknya. Setelah bertemu dengan pihak pegadaian. Gadis itu harus menunggu untuk proses pemeriksaan barang dan juga keasliannya. Waktu yang berlalu hingga menghabiskan kurang lebih setengah jam.
Senyuman tipis dengan peluh yang menetes bersambut suara keroncongan dari perutnya. Amplop coklat yang berisi uang sudah tergenggam di tangan. Tentu gadis itu bersyukur karena pengorbanannya akan mengembalikan kesehatan sang ayah. Langkah kaki yang ringan menyusuri jalanan.
Yashinta tidak mempedulikan perut kosongnya, bahkan tidak berniat untuk naik taksi. Tentu karena memikirkan bagaimana jika uangnya nanti kurang untuk biaya pengobatan? Gadis yang pantang menyerah. Namun, tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah motor yang melaju cukup kencang.
Pengendara motor itu semakin menambah kecepatan dan tepat sebelum mendekati Yashinta. Dia mengulurkan tangannya, kemudian menyambar amplop coklat yang sudah menjadi incaran sejak beberapa menit terakhir. Tidak hanya sampai di situ, rebutan amplop tak terelakkan hingga membuat gadis itu terhempas menabrak pagar di pinggir jalan.
Duuaak!
"Aauuww .... "
__ADS_1
Situasi yang cukup sepi di jalan para pejalan kaki, tapi ramai oleh kendaraan yang lalu lalang. Justru memudahkan si penjambret kabur melarikan diri. Yashinta bisa merasakan aliran hangat dari sudut atas matanya. Apalagi di kepala begitu banyak burung yang berterbangan dengan pandangan yang semakin kabur menghilang dalam kegelapan.
Jangankan berteriak meminta tolong. Justru berakhir tak sadarkan diri dengan ingatan cincin pria yang mengambil harta terakhirnya. Gadis itu tak bisa membawa uang pengobatan ayahnya. Dari dalam relung hati hanya tersisa serpihan keputus-asaan. Selesai sudah.
Beberapa jam kemudian.
Ditemani malam penuh bintang. Usapan di atas kepala menemani kebersamaan sepasang pasutri. Sungguh baik pemandangan dan juga keromantisan tidak bisa diduakan. Apalagi setelah menikmati matahari terbenam di atas ayunan.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?"
Anggukan kepala dari sang suami menghadirkan senyuman manis yang melengkung sempurna, "Siapa sebenarnya Zack?"
Al menghela nafas, lalu menepis ponsel itu agar tetap disimpan Bunga. Kali ini, mungkin semua kebenarannya bisa terungkap, tapi apa secepat ini? Jika jujur semakin mempererat hubungan. Pasti akan dia lakukan. Namun, siapa yang bisa mendapatkan berita kejutan secara bertubi-tubi?
Al memilih berjalan meninggalkan Bunga beberapa langkah ke depan. Pria itu berdiri di depan api ingin yang berkobar dengan tatapan mata kosong menatap langit malam. Apa sudah waktunya, sang istri mengetahui pekerjaan yang asli. Tentu selain menjadi wakil CEO dan pengacara di perusahaan keluarga.
"Om Al? Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku. Kenapa kamu diam? Baru satu jam lalu, kita saling memberikan syarat poin agar bisa memperbaiki hubungan kita. Salah satu poin menyebut tentang kejujuran .... "
Al memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu berbalik menatap mata Bunga yang memiliki sorot mata penasaran. Hak dan kewajiban yang mereka berdua cetuskan akan menjadi dasar dari hubungan keduanya. Dimana semua itu bisa menjadi arah jalan pulang. Jika suatu saat ada yang tersesat.
Point pertama tentang kebebasan. Dimana baik Bunga atau Al tidak harus selalu izin ketika ingin keluar rumah. Hal itu hanya memiliki satu maksud yaitu agar keduanya bisa saling menghargai. Seperti waktu kerja yang mungkin lembur, atau tugas kuliah yang menyita kegiatan di luar rumah.
__ADS_1
Point kedua tentang kejujuran. Seperti yang dibilang Bunga. Dimana harapan kecil tidak harus mendapatkan siraman hujan, tapi cukup setetes air setiap waktu agar tidak menjadi bom waktu. Apalagi hubungan yang baru saja dimulai masih berselimut masa lalu.
Poin ketiga tentang kebersamaan. Dimana keduanya memutuskan untuk menyediakan waktu sebisa mungkin satu minggu sekali untuk menjadi quality time sebagai pasangan.
Masih ada poin lain, tapi Al memikirkan apa yang akan terjadi. Jika Bunga tahu, dirinya seorang pemimpin mafia. Tentu bukan hal baik. Bagaimana jika mengatakan kebenaran itu pada anggota keluarga yang lain. Hmm. Sudah pasti menjadi hukuman berat.
Baru saja ingin menjawab dengan alibinya. Tiba-tiba dari belakang Bunga terlihat seorang pria yang memberikan isyarat tangan. Setiap huruf yang diberikan menjadi rangkaian kata. Melihat dan memahami pesan rahasia itu, Al memejamkan mata. Kemudian berjalan menghampiri sang istri.
"Point terakhir tentang kesabaran. Beri aku waktu untuk memutuskan mana yang bisa dilakukan. Siapapun Zack, dia bekerja untukku. Apa alasan ini cukup, untukmu?" tanya Al tanpa ragu dengan tatapan semakin dalam membuat Bunga menganggukkan kepala setuju.
Namun, di belakang sana. Zack mengacungkan jempol. Kemudian bergegas lari pergi dari hadapan Al. Apapun yang menjadi informasi. Sudah pasti menjadi pertanda untuk tetap menyembunyikan pekerjaannya yang lain, sedangkan Bunga menghamburkan diri memeluk tubuh pria yang selalu menjadi raja di hatinya.
Sedikit keraguan, tapi dia masih bisa mengatasi itu. Bukankah janji dari seorang Alkan Putra bukan hanya bualan semata? Sekarang hanya waktu yang akan menjadi jawaban atas kerisauan hati seorang istri. Mengingat istri. Di belahan bumi lain, suara jeritan terdengar menggema di seluruh ruangan.
Bukan karena rasa sakit, tapi rasa haru yang menghampiri hati matinya. Apalagi suara tangisan bayi terdengar seperti nyanyian yang begitu merdu. Sungguh inilah hari yang dia tunggu selama lima tahun terakhir. Bayi mungil dengan tubuh berlumuran darah dan air ketuban.
"Cantik sekali, tapi bagaimana aku memberitahu pria itu, jika kamu putrinya? Pasti tidak ada yang percaya. Jadi, apa yang harus aku lakukan. Jangan sampai putriku hidup ditempat yang kejam ini."
Rasa sakit dengan remuk tubuhnya karena melahirkan tanpa bantuan siapapun, membuat wanita itu berpikir cepat untuk menyelamatkan nyawa bayinya. Tentu dia berharap akan ada malaikat penolong. Namun, di zaman sekarang sangat sedikit orang berhati baik.
Waktu semakin menipis, ketika dia melihat sebuah keranjang usang dengan beberapa bekas koran. Sebuah ide terlintas begitu saja membuat wanita itu tersenyum penuh arti.
__ADS_1