Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 114: NASEHAT - WINE


__ADS_3

Kegilaan yang ntah datang dari mana. Al berusaha menyadarkan pria itu agar tidak mengikuti arus emosi. Saat ini Sam terlihat jelas begitu murka dari sorot matanya, "Apa kamu ini sudah tidak waras? Di sini ada tiga nyawa dan kamu bersikap seperti anak kecil. SAMUEL STOP!"


Sekali lagi, Sam menginjak rem. Namun, kali ini, kecepatan mobilnya terlalu berlebihan hingga mobil itu berputar-putar berulang kali, lalu...


Braaak!


Tabrakan itu tidak bisa lagi dihindari dan bagian belakang mobil harus menghantam sisi jalan. Sontak saja kedua penumpang terkejut, tapi tidak dengan Samuel karena pria itu masih tetap tenang dan juga fokus. Ia memang sengaja untuk melakukan semua itu. Satu harapan agar wanita di belakang menyadari. Jika ia, tak ingin lagi berhadapan. Apalagi memiliki hubungan dengan Rachel.


Setelah mobil benar-benar berhenti karena menghantam sisi jalan. Om Al langsung keluar, lalu berjalan melewati depan mobil, kemudian pria itu membuka pintu kemudi di mana ada Samuel. Kini ia harus bertindak. Tentu saja dirinya tak ingin terjadi apa-apa lagi. Terlebih karena satu kegilaan yang tidak dipahami dari mana asalnya itu, "Turun! Kita ganti posisi."


"Terlalu cepat marah tidak baik untuk kesehatan. Apapun yang terjadi...,"


Samuel tidak bisa melanjutkan pembelaan karena tatapan Om Al semakin tajam dan tanpa meminta izin. Pria itu langsung melepaskan sabuk pengaman, lalu menarik Sam untuk keluar dari mobil. Entah kenapa sahabat sang keponakan yang ada di depannya itu. Masih terlihat begitu tenang. Meski memiliki sorot mata penuh amarah. Ketika ucapan tak mampu lagi untuk memberikan penjelasan. Maka hanya ada satu cara terakhir.


Al mengangkat tangan kanannya, lalu menyentuh pipi Sam. Jangan berpikir sebuah tamparan. Andai kata melayangkan bogem mentah pun, tidak akan mengubah apapun. Terkadang cara halus masih berlaku karena tidak semua harus diselesaikan dengan emosi. Lagi pula, ia tak ingin membuat luka baru di hati Samuel.


"Jika kamu memang tidak peduli dengan wanita itu. Maka, itu bukan masalahku, tapi ini akan menjadi masalahku. Jika kita bertiga kehilangan nyawa. Siapa yang mau bertanggung jawab? Emosimu terlalu berlebihan dan itu karena hatimu yang terluka. Sam, bertindaklah bijaksana. Sebagai seorang pria bersikaplah gentle. Jangan bersikap seperti anak kecil."


"Jika memang dia adalah masa lalu, untuk apa kamu melakukan semua ini? Semua yang sudah berlalu tidak akan pernah ada di dalam masa depan. So, leave it and move on. Cepatlah kamu masuk ke kursi sebelah dan aku yang akan menyetir menggantikanmu. Jika kamu tidak mendengarkan. Jangan salahkan aku bila menghubungi Ocy."


Kali ini, Samuel memilih untuk diam dan menurut karena ia sudah melihat raut marah dari paman Al. Pria itu tidak akan berbicara panjang kali lebar ketika tidak dalam situasi yang mendesak. Akan tetapi, dia juga menyadari memang melakukan kesalahan. Hanya saja, saat ini benar-benar tengah dikuasai emosi yang tidak bisa dipisahkan dari akal sehatnya. Apalagi, sudah membawa Ocy.


Perjalanan itu kembali berlanjut. Namun, tanpa kedua pria itu sadari. Wanita di kursi belakang sedang berusaha menahan diri. Akan tetapi, ia berusaha untuk tenang. Meski, tetaplah tidak bisa tenang, hingga pada akhirnya. Wanita itu berteriak, "Berhenti!"

__ADS_1


Suara teriakan dari belakang terdengar cukup keras dan jelas. Namun, Al tak ingin membuat masalah yang lain. Pria itu tetap fokus, sedangkan Samuel memilih untuk menggunakan earphones, lalu menutup telinga mendengarkan musik kesukaannya. Mau, tidak mau. Wanita itu harus tetap mengikuti arus perjalanan untuk kembali ke rumahnya.


Meninggalkan ketegangan di dalam mobil. Kita beralih ke tempat, dimana dua orang tengah berbincang cukup serius untuk misi selanjutnya. Meski perbincangan begitu serius. Tetap saja, keduanya tak berhenti untuk meneguk wine yang ada di gelas masing-masing. Sementara di tengah meja ada denah sebuah rumah. Rincian dari bangunan bertingkat dua terlihat tergambar begitu rinci.


"Bos, apa kita harus ke rumah ini dan melakukan perampokan malam ini juga? Bukankah rumah ini terlalu besar. Aa tidak terlalu berbahaya?" Tanya si anak buah memperhatikan setiap detail dari rincian denah peta yang ada di depannya


Sang Bos masih meneguk wine dari gelasnya sendiri, lalu menunjuk ke salah satu titik di peta, "Ini pintu samping yang jarang digunakan. Rencanaku adalah...,"


Si Bos menjelaskan detail dari rencana perampokan yang akan mereka lakukan, membuat anak buahnya memperhatikan dengan seksama. Setiap kali akan melakukan pekerjaan besar. Maka, rincian apapun itu. Baik dari peta rumah dan rencana eksekusi tidak boleh ada kesalahan. Sepuluh menit berakhir begitu saja untuk membuat kesepakatan ditemani sebotol wine yang kini habis berpindah ke dalam perut kedua pria itu.


Sementara di lantai sudah ada tiga botol wine yang berserakan ditambah beberapa bungkus snack ringan. Kesadaran yang semakin menipis, membuat kedua pria itu tak bisa fokus lebih jauh lagi, "Cukup sampai disitu, kepala ku sudah berputar dan membutuhkan pelampiasan. Jadi aku akan menemui tawanan ku. Kamu tidur saja!"


Sang anak buah tak memperdulikan ucapan bosnya karena mata sudah teramat berat, hingga tubuh memilih untuk langsung berbaring dan tak sadarkan diri. Akan tetapi, pria satunya berjalan sempoyongan membawa kunci kamar. Meski begitu sulit untuk bisa masuk ke dalam, tetap saja usahanya tidak sia-sia. Tatapan mata kembali melebar. Ketika melihat wanita berpakaian tipis terikat di atas ranjang besi.


Naluri sebagai pemangsa seakan tertantang untuk mengalahkan buruannya. Yah, tanpa panjang kali lebar. Pria itu mendekati sang tawanan seraya membuka kancing kemeja satu persatu, lalu melemparkan pakaiannya ke sembarang arah. Langkah kaki yang terseok-seok, tapi tak membuat niat hati berganti haluan. Hawa panas di tubuh semakin membakar hasrat terlarang.


"Siapa kamu, emmptt...,"


Pertanyaan yang sia-sia. Pria itu langsung membungkam bibir sang tawanan dengan pagutan ganas. Hawa panas yang menyebar di seluruh nadi, membuat olahraga ranjang menjadi brutal. Ntah nasib macam apa yang dialami Anggun. Wanita itu harus menjadi pemuas nafsu, meski ia sering bermalam dengan berganti pria. Tetap saja melakukan pergulatan atas persetujuan kedua belah pihak.


Dua jam kemudian.


Tubuhnya ambruk dengan nafas memburu. Setelah mengeluarkan lahar panas miliknya untuk kesekian kali. Kini yang tersisa hanya rasa nikmat yang luar biasa. Ia memilih wanita yang tepat. Dimana tawanannya mampu menahan goyangan maut yang selama ini bisa menjadi ketidakberdayaan untuk kaum hawa. Yah, kelainan yang ia miliki adalah tentang olahraga ranjang.

__ADS_1


Kenapa begitu? Semua itu karena dirinya seorang pemain ulung. Dimana untuk bermain di atas ranjang. Ia tidak puas, jika hanya untuk satu ronde saja. Orang-orang biasa menyebut sebagai hyper s3x. Dimana kelainan ini merupakan sebuah penyakit ketidaknormalan.


...----------------...


...🍂Ilmu Pengetahuan🍂...


Hiperseksual, Gangguan yang Menyebabkan Kecanduan *3**.


Anda mungkin pernah mendengar mengenai hypers3x atau hipersexualitas. Hiperseksualitas atau hypers3x adalah gangguan yang membuat seseorang mengalami kecanduan *3**. Seseorang dengan kondisi ini memiliki dorongan seksual yang sangat kuat dan terobsesi pada hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas seksual, tidak hanya hubungan *3**.


Namun, alih-alih memperoleh kepuasan seksual, kondisi ini justru berbahaya bagi pengidapnya. Bisakah gangguan seksual ini disembuhkan?


Apa itu hiperseksualitas (hypers3x)?


Hiperseksualitas yang secara medis dikenal sebagai hypersexual addiction atau compulsive sexual behaviour adalah satu dari beberapa gangguan seksual.


Ketika mengalami hypersex, seseorang seolah memiliki dorongan untuk melakukan aktivitas seksual secara berlebihan.


...----------------...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭

__ADS_1



......................


__ADS_2