
"Kisah ini dimulai dari empat tahun yang lalu. Dimana kami masih menjadi mahasiswa sebuah universitas. Kenapa aku hanya menyebut tiga sekawan? Semua itu karena hanya tiga orang yang menjadi dasar perkumpulan pada anak muda geng sukarelawan. Sang pemimpin bernama Bryant Angkasa Putra. Wakilnya bernama Samuel dan tangan kanan bernama Darren Wiratama. Kami anak-anak fakultas memanggil ketiganya dengan tiga sekawan."
"Aku mulai dari seorang Bryant Angkasa Putra. Tuan muda keluarga Putra yang digadang-gadang menjadi pewaris perusahaan keluarganya itu selalu dipanggil dengan nama King Ryan. Dia adalah pria lembut dengan sikap dilema, tapi sekali dingin. Bisa melebihi dinginnya Samuel. Kemarahannya melebihi emosi dari Darren. Sang pemimpin yang rumit, tapi hati terlalu perasa."
"Urutan kedua adalah Samuel. Dulu, anak ini sangat ceria melebihi film kartun. Tidak satupun candaan teman-teman menjadi masalah. Apalagi akan diperdebatkan. Hidup baginya adalah have fun. Meski begitu, Sam tidak pernah menganggap cinta sebagai candaan. Justru karena cintalah proses kemarahan anak ini meledak. Jangan tanya seberapa besar rasa cinta untuk Rachel. Itu seperti menyiram minyak tanah ke api yang menyala."
"Darren Wiratama. Apa yang bisa ku katakan. Sikapnya yang ambigu dengan irit bicara. Justru menjadi awal perbedaan pendapat diantara tiga sekawan. Anak itu mendapatkan pendidikan yang cukup keras dari papanya. Satu hal yang akan sulit di dapatkan dari pria itu yaitu senyumnya. Kalau kita bercanda dari pagi sampai pagi pun. Belum tentu dia tersenyum."
Nancy menjeda ceritanya. Tentu saja cape bercerita tanpa rem begitu. Jadi beberapa saat berhenti untuk meminum teh hijau yang ia buat. Tehnya saja, sudah tidak panas lagi, sedangkan Ocy memainkan kedua tangan yang saling bertautan. Sam sendiri tak membiarkan kepala wanita itu untuk beranjak bersandar dari dada yang berdegup mulai normal kembali.
"Sam, apa kamu ingat. Hari dimana kalian mendengar Darren membahas soal perjodohan keluarga bersama Rachel di laboratorium?" tanya Nancy, membuat Sam mengangguk seraya mengingat masa lalu. Dimana masa itu mereka semua masih memiliki sebuah ikatan sebagai sepasang kekasih.
"Hari itu, Darren berniat memberikan peringatan. Aku tidak ada di tempat itu, tapi salah satu mahasiswa menjadi saksinya. Yah, perdebatan itu sebagai bentuk penolakan Darren karena dia tidak mau merebut yang menjadi milikmu. Hanya saja, kamu dan Bryant datang di waktu yang salah. Disaat Rachel memohon agar sahabat kalian mau menerima cintanya."
"Jiwa muda selalu memiliki emosi dan tenaga yang luar biasa. Baku hantam antara kalian membuat para dosen kelabakan. Aku ingat, wajahmu lembam, begitu juga dengan Bryant, tapi justru Darren yang harus mendapatkan luka serius. Dia mengalami luka cukup besar di bagian wajah dan harus melakukan operasi. Jangan menatapku seperti itu, Sam."
__ADS_1
Bagaimana tidak terkejut. Ia ingat benar. Setelah terjadi baku hantam. Para dosen memisahkan, dan membawa dirinya serta Bryant ke tempat lain. Sementara Darren langsung dibawa rektor ntah kemana. Jangankan untuk menatap hasil dari perkelahian. Sekedar minta maaf pun, hatinya tidak rela. Lalu, kenapa Nancy mengatakan Darren terluka parah, bahkan harus melakukan operasi? Jelas-jelas tidak ada yang menggunakan benda tajam.
Kebingungan dari tatapan mata Sam, membuat Nancy mengisyaratkan agar pria itu bersabar dan menunggu sebentar. Nancy pergi ke kamarnya, lalu kembali dengan membawa sebuah amplop coklat. Ntah itu apa isinya, tapi pasti sebentar lagi akan tahu. Benar saja, begitu duduk di tempat semula. Amplop dibuka, kemudian isi dikeluarkan. Beberapa foto yang langsung menjadi sorot mata terbelalak Sam.
"Ini...,"
"Kondisi Darren setelah baku hantam. Pukulan terakhir Bryant memang hanya melukai perut, tapi saat tubuh terpental ke sudut laboratorium. Tiba-tiba ada cairan kimia yang tumpah ke wajahnya, bahkan sedikit mengenai dada. Rasa sakit akibat cairan itu ditahan, agar kamu dan Bryant tidak merasa bersalah. Yah, Sam. Inilah kebenaran yang selama ini dirahasiakan."
Nancy menunjukkan sebuah foto seorang pemuda dengan wajah baru, "Darren Wiratama yang sekarang. Wajah baru dengan kehidupan baru. Dia melakukan operasi di luar negeri, tapi pesawat yang ditumpangi mengalami kecelakaan. Orang-orang berpikir, jika Putra sulung sudah tiada. Namun, itu hanya bentuk perlindungan seorang ibu terhadap anaknya. Nyonya Anyelir memaksa Tuan Wiratama untuk melakukan pemalsuan kematian."
"Semua ini benar. Berhubung kamu seorang dokter. Relasi rekan kerjamu pasti banyak. Kenapa tidak tanyakan di rumah sakit xxx karena rumah sakit itu yang menjadi tempat perawatan Darren setelah kembali dari luar negeri. Satu lagi yang perlu kamu tahu dan mungkin akan menjadi penghalangmu untuk mendapatkan kepercayaan Darren, kembali."
"....,"
"Darren mengalami amnesia. Ingatannya seperti terblokir. Meski begitu, dia hanya mengingat nama-nama orang di masa lalunya, sedangkan wajah tidak bisa mengenali. Beberapa bulan lalu, aku mendapatkan peringatan dari Nyonya Anyelir. Nyonya besar memintaku untuk tutup mulut soal cerita kehidupan putranya. Jadi, sejauh apapun kamu mencari tahu. Kemungkinan terbesar adalah semua kisah telah usai."
__ADS_1
Penjelasan Nancy yang beruntun, membuat Sam mengepalkan tangan kanannya. Tidak habis pikir, bagaimana bisa masa lalu yang dikira pengkhianatan. Justru sebuah pengorbanan. Kenapa dulu, dia tidak mencoba mendengarkan penjelasan Darren terlebih dulu? Kenapa justru tersulut emosi ketika mendengar pengakuan cinta Rachel untuk sang sahabat, bahkan terang-terangan mengatakan.
Jika gadis itu berpacaran dengannya hanya karena nilai. Memang benar, diantara tiga sekawan yang paling pintar adalah dirinya. Siapa sangka, kesalahpahaman itu justru menjadi akhir dari persahabatan. Bodoh sekali telah mengikuti nafsu emosi yang tidak bertuan. Kini, dia harus apa? Darren saja hilang ingatan. Ditambah lagi, Rachel sudah kembali.
"Berikan aku alamat Darren!" tukas Sam setelah terdiam beberapa saat, apapun yang ada di dalam isi kepala pria itu. Jelas ingin mendapatkan arah jalan pulang, agar bisa membayar rasa bersalahnya.
Nancy menggelengkan kepala, lalu mengambil semua foto Darren, kemudian dimasukkan kembali ke amplop coklat, "Aku memiliki undangan pertunangannya. Ambil saja! Anggap sebagai permintaan maafku. Oh, ya, satu lagi. Ajak Bryant, kalian harus menyelesaikan masalah secara bersama. Satu harapanku. Aku ingin melihat kekompakan tiga sekawan, sekali lagi."
Pertemuan itu membawa Sam kembali ke masa persahabatan, sedangkan Ocy mencoba untuk memahami situasi dan perasaan sang kekasih. Jujur saja, kisah tiga sekawan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Tentu saja harapan Nancy menjadi harapannya juga. Apalagi, sekarang dia tahu titik permasalahan dari satu nama yang menggoyahkan hatinya.
Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Apapun yang terjadi. Aku siap memperjuangkan cintaku karena aku tahu. Abang tampan dokter ku akan aman bersamaku. Semangat Ocy.~batin Ocy menyemangati dirinya sendiri seraya mengusap lengan sang kekasih agar tetap tenang.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...