
Terima kasih Ya Allah, Engkau hadirkan dia sebagai suami bertanggung jawab. Aku ikhlas menjalani pernikahan singkat kami. Lindungi mimpi kami, Ya Allah. Ameen. ~ Ara menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata, membiarkan sesaat menikmati kebersamaan sebagai seorang istri seseorang.
Kebersamaan Ara dan Bryant menjadi awal baru bagi pernikahan siri mereka. Begitu juga dengan perasaan lega keluarga pihak pria. Dimana keluarga besar Bryant bersyukur bisa melihat putra termuda menjalani kewajiban sebagai seorang suami. Hanya saja ada kecemasan yang masih saja enggan menghilang dari raut wajah mereka.
Seorang wanita yang duduk di atas kursi roda dengan tangan menopang dagunya hanya menatap lesu makanan di atas meja. "Pa, apa tidak sebaiknya kita bawa Ara ke rumah ini? Jujur saja, mama takut dengan Hazel. Bagaimana jika wanita itu mencelakai menantu kita?"
"Ma, jangan bicara yang tidak-tidak, ya! Ingat ucapan adalah do'a. Semakin sering kita berpikir tidak baik dan mengucapkan tanpa sengaja. Bisa jadi itu yang terjadi, apapun yang kita ucapkan. Sebaiknya dijaga dan diam ketika tidak bisa berkata yang baik....,"
"Maaf, Pa. Bukan itu maksud mama, mama hanya cemas dan khawatir. Kita tahu bagaimana kenekatan Hazel. Rasanya mama ingin ke pengadilan agama dan menggugat cerai wanita berbisa itu," Mama Bella menghela nafas panjang seraya melepaskan topangan dagunya. "Dee, apa bisa dipercepat semua rencanamu?"
Pertanyaan mama Bella, membuat pria yang sejak awal hanya diam menikmati buah apel merah kesukaannya menelan kunyahan apel, lalu menatap sang kakak ipar yang ada di seberang meja. "Ka, tenanglah. Semua berjalan sesuai rencanaku. Hari ini siluman cicak pasti akan jatuh dari dindingnya."
"SILUMAN CICAK?" Papa Angkasa menaikkan satu alis kirinya, sungguh dirinya tidak paham siapa itu siluman cicak.
"Siapa itu siluman cicak?" tanya mama Bella yang ternyata juga tak paham maksud adik iparnya.
Alkan terkekeh melihat reaksi sang kakak dan kakak iparnya. Bukan berniat kurang ajar, tapi wajah pasutri itu benar-benar polos seperti anak kecil. Melihat tingkah sang adik yang justru menertawakan dirinya, membuat Papa Angkasa mengambil buah jeruk yang langsung di lemparkan tepat ke wajah Alkan.
Hap!
__ADS_1
Buah jeruk ditangkap, "Ayolah, Ka. Sayang buahnya kalau jatuh. Lagian kenapa harus berpikir keras? Bukankah kita hanya membahas soal Hazel? So, sudah pasti SILUMAN CICAK itu Hazel."
"Dee, kamu ini sadar 'kan? Mana ada siluman cicak. Pantasnya wanita itu di panggil mba kun aja, iya gak, Ma?" Papa Angkasa melirik meminta persetujuan sang istri.
''Terserah kalian. Mau siluman cicak, mba kun, wanita berbisa atau apapun itu karena aku hanya ingin putraku bebas dari cengkraman cinta buta yang menyesatkan. Kita tahu sejak awal Hazel bukan wanita yang baik. Meskipun Bryant tetap menikahinya, aku tidak pernah ridho dengan pernikahan mereka." Mama Bella menegaskan harapannya, membuat Alkan mengangguk paham.
"Mba, Aku akan melakukan segala cara demi membebaskan Bryant. Semoga saja program kehamilan Ara berjalan lancar. Aku akan atur agar pernikahan siri mereka terkuak ke publik, atau setidaknya kalian berdua memergoki kebersamaan pasutri itu, dan untuk saat ini. Biarkan siluman cicak menerima hadiah dariku." jelas Alkan yang siap dengan segudang ide agar menyatukan keluarga besarnya.
"Kakak tunggu kabar darimu, de. Oh iya bagaimana dengan hadiah yang kamu katakan? Kenapa aku masih tidak paham." tanya Papa Angkasa sembari menikmati secangkir kopi hangat.
"Soal itu, cukup aku yang tahu. Aku tidak mau siluman cicak membuat rencana dan menjebak kalian hanya untuk informasi apapun terkait rencanaku." Alkan meletakkan jeruk kembali ke tempatnya. "Disini, aku hanya mau kerjasama dari kalian berdua. Anggap berita pernikahan siri Bryant dan Ara masih tertutup rapat, dan kalian tidak tahu apapun. Just it, no more."
Papa Angkasa dan mama Bella menganggukkan kepala serempak. Tidak ada komplain dari mereka berdua karena paham benar. Jika hanya Alkan yang bisa membuat rencana terperinci. Banyak musuh dunia bisnis harus mengakui kehebatan pria dewasa satu itu, hanya saja sangat disayangkan tidak berniat memiliki pasangan. Padahal usianya sudah pantas memiliki anak.
Alkan mengangkat tangan kanannya seraya menggelengkan kepala. "No! Please, aku tidak ingin menjelaskan apapun. Aku bahagia sendiri, jadi lupakan soal pasangan. Jangan buat aku harus memilih. Perasaan ku masih hanya untuk DIA."
Setelah mencegah sang kakak ipar untuk mengutarakan niat hati, yang pasti hanya tentang pernikahan dirinya. Ia memilih mengambil apel yang tersisa, lalu meninggalkan meja makan. Kepergian pria itu, membuat mama Bella menatap punggung sang adik ipar nanar.
"Ma, jodoh sudah ditentukan oleh Allah. Percayalah saat ini seseorang yang layak untuk Alkan tengah Allah siapkan. Kita hanya bisa berdo'a, semoga hati adikku itu bisa melepaskan cinta masa lalunya." Papa Angkasa bangun dan memeluk tubuh istrinya yang duduk di kursi roda seraya mengusap kepala wanitanya penuh cinta.
__ADS_1
"Kenapa harus ada DIA? Mama tidak tega melihat luka dan cinta di mata Alkan, Pa."
...****************...
Selamat malam readers 🙃
Apa kabar kalian? 😍
*Othoor harap semua dalam keadaan sehat 🤲
Makasih buat support kalian semua😍
Teruntuk Ela, part ini terinspirasi dari julukan khusus buat Hazel darimu 🤭
Othoor kok jadi main tarik kata dari kalian, ya🤔
apapun itu, othoor mencoba berkarya sepenuh hati. 😍
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, ya🤧
__ADS_1
Salam dari Othoor 🥳*
...****************...