
"Bang, apa hubungan kita akan serumit hubungan Ara dan Bryant?"
Pertanyaan Ocy, membuat Sam mengusap kepala wanita itu. Saat ini, dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok. Memang benar, hubungan Bryant dan Ara sudah rumit dan mungkin, akan semakin rumit karena pertemuan tiga sekawan nanti. Sebagai seorang sahabat hanya bisa berusaha untuk memberi dukungan dan juga selalu siap menemani. Apapun yang akan mereka lewati nanti.
"Kalian kenapa?" Tanya Kinara yang tidak sengaja lewat karena akan menuju dapur untuk mulai membuat cemilan bagi bumil.
Ocy menggelengkan kepala, "Kamu mau buat apa hari ini?"
"Buat kue, dan juga ice cream buah. Kemarin Ara memakan kue tart terlalu banyak, tapi itu dari luar rumah dan sangat manis. Jika diulang terus. Bisa jadi kebiasaan tidak baik," ucap Nara menjelaskan, membuat Ocy berjalan menghampiri temannya itu, lalu menggandeng tangan si dokter.
Tentu saja, setelah meletakkan undangan ke sofa agar diambil sang kekasih. Kepergian kedua wanita itu, memberikan Sam waktu untuk duduk termenung seorang diri. Ada yang mengganggu pikirannya. Jika Bryant ikut ke acara pesta. Apakah tidak akan tersulut emosi? Meski, wajahnya Darren tidak sama lagi. Tiba-tiba undangan yang ada di sebelahnya mengalihkan perhatian.
Nama yang tertera bukan Darren, tapi Tama dan Bianca. Apakah itu berarti, setelah kembali ke negara ini. Nama sang sahabat diganti? Darren Wiratama. Sam memahami darimana nama Tama diambil. Kini, dia harus melakukan sesuatu, tapi dibandingkan membuat kebohongan hanya untuk membawa Bryant ke pesta. Akan lebih baik, jika berkata jujur.
"Tadi, Bry bilang mau ke makam. Sebaiknya aku ikut saja, dan bisa bicara soal ini saat perjalanan pulang," Sam bergumam pada dirinya sendiri, lalu membawa undangan serta noted untuk kembali ke kamarnya.
Empat puluh lima menit kemudian.
Sam yang menyetir berusaha untuk fokus menatap jalanan, tapi sikap romantis Bryant yang duduk di belakang bersama Ara. Benar-benar membuatnya cemburu. Sedikit menyesal karena tidak mengajak Ocy. Ya sudahlah. Udah resiko semobil dengan pasutri yang lagi kasmaran. Jadi, terima saja apapun yang masuk ke telinga. Maka, biarlah menjadi angin lalu.
__ADS_1
Perjalanan selama satu jam hanya dinikmati sepasang pasutri, hingga mobil memasuki daerah pedesaan. Dimana setelah melewati sebuah gapura hanya ada perkebunan tebu di sisi kanan dan kiri jalan. Tiba-tiba, Ara melepaskan diri dari pelukan Bryant. Wanita itu menatap keluar jendela. Inilah desa yang menjadi tempat kelahirannya.
Disinilah Ara tumbuh besar menjadi putri seorang juragan kebun tebu. Memang tidak kaya, tapi cukup untuk hidup tenang dan berkecukupan. Beberapa ingatan seakan bermain di pelupuk mata. Tanpa sadar lelehan cairan mengalir membasahi kedua pipinya. Sungguh, rasa rindu tidak bisa ditahan-tahan, lagi. Lihatlah bunga di ujung tebu yang melambai karena mengikuti hembusan angin.
"Ara, are you okay?" Tanya Sam lembut, membuat Bryant membalikkan tubuh istrinya, ternyata Ara sedang menangis dalam diam.
Air mata yang mengalir diusapnya, "Kamu kenapa? Kita sebentar lagi sampai di makam ayah. Aku tahu, ini sulit, tapi sekarang sudah ada aku, ada Sam, dan yang lain untuk bersamamu. Jadi, ikhlaskan dan sabar. Okay, Istriku."
"Aku hanya merindukan ayah dan ibu."
Bryant memeluk tubuh istrinya. Tidak peduli, jika kaos yang ia pakai basah. Saat ini yang terpenting menenangkan Ara. Bagaimanapun, bumil tidak boleh emosional berlebihan. Sam memilih diam. Meski dari tadi menyadari. Jika sorot mata sang adik terlihat berbeda. Ada sesuatu yang mengusik adiknya, tapi apa?
Mobil memasuki pelataran halaman di depan sebuah gapura pemakaman umum yang ada di desa itu. Setelah mematikan mesin mobil. Barulah Sam mengambil sebotol air mineral, lalu membukanya, kemudian diberikan ke Bryant. Tentu saja untuk Ara agar kembali tenang. Setelah beberapa saat berdiam diri di mobil. Akhirnya situasi mulai kembali normal.
Langkah kaki ketiganya berjalan memasuki pemakaman umum. Tidak ada orang yang berziarah pagi menjelang siang itu. Yah, seperti biasa. Dimana orang-orang akan melakukan ziarah sebelum hari raya tiba. Sementara hari biasa, kemungkinan satu atau dua yang akan meluangkan waktu untuk melihat makam keluarga mereka.
Ara berjalan di depan untuk menuju makam ayahnya. Setelah melewati beberapa papan nisan yang berbeda-beda bentuk. Di barisan ketiga dengan patok pohon Kamboja. Sebuah makam menjadi tujuan wanita itu, "Ini makam ayahku. Maaf karena tidak terurus. Sudah lama aku tidak kesini. Boleh minta bunganya?"
Bryant menganggukkan kepala seraya memberikan keranjang bunga ke Ara. Ziarah kali ini terasa berbeda. Ada penyesalan, tapi tidak bisa diubah. Dulu saat bersama Akbar. Ketika meminta izin untuk pergi ziarah, selalu saja dicegah. Namun, sekarang. Justru suaminya mau ikut datang ke makam untuk berziarah. Perbedaan yang kontras dan itu seperti anugrah.
__ADS_1
Kesibukan Bryant dan Ara melakukan doa bersama. Berbeda lagi dengan Sam. Dimana pria itu mencoba melihat ke sekelilingnya. Seluas mata memandang hanya ada makam dari segala arah. Mungkin itu adalah pemakaman satu-satunya yang ada di desa itu. Bisa jadi seperti itu. Di saat sibuk mengamati, tiba-tiba netra mata menangkap seseorang yang terlihat mencurigakan.
Kenapa orang itu bersembunyi di balik semak? Apa lagi berteduh? Cuaca tidak sepanas itu hingga takut kulit terbakar. Ntah orang itu menyadari tengah di awasi oleh Sam atau tidak. Satu hal pasti, sikap anehnya patut dicurigai. Kewaspadaan Sam teralihkan karena ulah Bryant yang menepuk tangannya.
"Kamu mau pulang tidak? Jangan jelalatan di makam. Ketemu mba Kun baru tahu rasa...,"
Ara langsung mencubit perut Bryant agar tidak bercanda, "Mas, jangan sembarangan. Aku gak mau punya kakak ipar dari dunia lain."
"Kalian ini, ayo!" Sam mengajak pasutri itu dan tidak ingin menanggapi apapun karena saat ini masih memiliki firasat yang tidak enak, "Bry, bisa jalan duluan? Aku belakangan aja."
"Haduh, udah betah aja. Yuk, biarin Sam jadi bodyguard dadakan," goda Bryant menghadirkan senyuman manis sang istri.
Ketiganya kembali berjalan, tapi kali ini Sam memilih untuk memperlambat langkah kakinya dan membiarkan pasutri berjalan di depan dengan jarak dua meter. Benar dugaannya. Orang yang bersembunyi di balik semak ikut bergerak dan sejajar dengan posisi pasangan itu.
Siapa dia? Wajahnya tidak jelas karena hanya alis dan rambut yang terlihat, tapi jika semak itu berakhir. Pasti orangnya kelihatan. Ya, tunggu dulu. Semak itu sampai dimana?~batin Sam melihat ujung semak yang menjadi tempat persembunyian seseorang.
Sayangnya. Semak itu tumbuh sepanjang garis lurus gapura pemakaman. Jadi, sudah jelas tidak akan bisa melihat siapa orang yang bersembunyi. Sam berusaha menjadi jalan pintas, agar rasa penasaran dan juga bisa menjaga Ara serta Bryant. Pria itu melihat sekitarnya dan menemukan ranting pohon sebesar jari tengah. Cukup besar, dan jika digunakan untuk memukul seseorang. Pasti sakit, meski tidak akan berdarah.
Diambilnya ranting itu, lalu dengan gerakan cepat. Satu ayunan menghasilkan suara panggilan yang mengejutkan. Bukan hanya Sam, tapi Bryant dan Ara langsung berbalik ke belakang. Tatapan mata terkejut tak bisa abaikan.
__ADS_1
"Araa! Awas!"