Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 70: PERDEBATAN BERAKHIR SATU KESEMPATAN


__ADS_3

"Ayo, turun. Kita sampai," ajak Ocy membuka pintu mobilnya.


Ocy, membawa Ara untuk memasuki kediaman Putra. Para pelayan yang tak sengaja melihat Ocy memberikan salam dengan anggukan kepala dan sang bodyguard pun, juga membalas dengan senyuman manis yang ia miliki. Meskipun wajahnya tetap datar dan dingin.


Ara menahan tangan Ocy, ketika keduanya telah berdiri di depan pintu utama, "Ocy, ini rumah siapa? Kenapa, kamu membawa aku ke sini."


"Kamu nanti tahu, ini rumah siapa. Sekarang kita masuk dulu. Bukankah, kamu ingin bertemu dengan suamimu. Disini adalah tempat yang tepat. Dimana suamimu berada," Ocy tak ingin menjelaskan panjang kali lebar pada Ara, lalu dia menggandeng tangan Ara agar ikut masuk ke dalam rumah.


Suasana begitu sepi dan senyap seperti tidak ada kehidupan, tapi dari lantai atas terdengar suara berisik. Itu artinya, semua orang ada di sana. Ocy tidak hanya berdiam diri. Wanita itu mengajak Ara untuk menuju lantai atas dan duanya berjalan cukup normal bukan tergesa-gesa.


"Neng Ocy," Panggil salah satu pelayan ketika melihat kedatangan Ocy bersama seorang wanita cantik.


Ocy menoleh ke belakang. Dimana nampak pelayan wanita dengan seragam yang memang dikhususkan untuk pelayan rumah kediaman Putra, "Bibi, apa kabar? Bi, di mana tuan muda?"


"Tuan muda, ada di kamar atas. Bibi nggak tahu tadi kenapa. Tiba-tiba saja nyonya besar teriak, terus Tuan besar juga langsung lari ke kamar atas." Jawab bibi dengan sedikit cemas.


"Ya udah, Aku mau ke atas dulu, ya. Oh, ya, Bi. Tolong nanti kalau ada yang tanya, bilang aja Ocy cuman sebentar kemari." Ocy berpesan agar para pelayan lain tak membuat pertemuan khusus untuk menyambut dirinya.


Bagi para pelayan, Ocy bukan hanya salah satu diantara mereka yang bersama-sama bekerja di kediaman Putra. Namun, wanita itu juga seperti seorang pemimpin yang bisa mengajarkan banyak hal kepada pelayan lain. Baik itu dari segi bela diri ataupun bermain teknologi seperti bermain ponsel pada umumnya.

__ADS_1


"Yah, Eneng. Ya udah, nanti Bibi sampaikan ke yang lain. Neng, mau ke atas 'kan? Boleh titip sekalian ini, untuk diantar ke atas." Bibi menyerahkan nampan yang berisi semangkuk bubur ayam.


Ocy menerima nampan itu dengan senang hati, lalu mengangguk. Ia juga tak lupa mengatakan permisi. Kini kedua wanita itu kembali melangkah berjalan menuju lantai atas. Suara yang memang terdengar cukup keras itu, perlahan terdengar cukup jelas hingga keluar dari dalam kamar. Diatas sana ada sesuatu yang tengah dibicarakan dan tak seorangpun mau berbicara pelan.


"Al, sampai kapan, semua ini akan berlangsung? Apa kamu tidak melihat bagaimana keadaan Bryant, anakku. Aku harus melihat luka yang tidak seharusnya aku lihat." Teriak seorang wanita dengan nada khawatir, tapi juga mengandung sayatan yang begitu menyesakkan dada.


"Ka, tunggulah sebentar lagi. Aku juga tidak tahu. Kenapa semua ini bisa terjadi. Padahal kemarin hanya ku berikan beberapa bukti dan bukti yang dilihat Bryant seharusnya bukan tentang siluman itu. Aku tidak bisa jujur. Sebelum keponakan ku mau mendengarkan aku sebagai pamannya dan sekarang semua sudah terlanjur. Sedikit waktu lagi, biarkan ada pembicaraan dari hati ke hati." jelas Paman Al dengan pembelaannya.


Jujur saja, dia pun tak menyangka. Jika bukti perselingkuhan Hazel diketahui Bryant begitu cepat. Apalagi sang keponakan tidak memberitahu dirinya atau bertanya tentang benar dan tidaknya, semua bukti yang sudah ditemukan.


"Om, Tante. Aku rasa, sebaiknya kita bawa Bryant ke rumah sakit. Keadaannya tak mau membaik dan ini sudah lebih dari satu jam. Dia masih saja demam tinggi. Jika ini berlanjut maka kemungkinan bisa fatal. Jadi aku telepon ambulans saja." Muel berusaha menengahi perdebatan antara orang tua, ia semakin cemas karena melihat sahabatnya tak mau membuka mata meskipun setelah diperiksa dan diberikan obat penurun panas.


Semua orang mengalihkan tatapan mata tertuju pada siapa yang bertanya. Mama Bella menatap Ara dengan intens. Sekali pandang saja, ia tahu jika itu adalah menantu barunya. Istri siri Bryant. Jujur saja melihat kedatangan sang menantu, ia ingin sekali bergegas memberitahukan. Akan tetapi kode mata dari sang adik ipar membuat keinginannya kandas.


Ia harus menahan diri dan Angkasa yang tahu sifat sang istri, hanya memberikan usapan bahu pada istrinya agar tetap tenang dan tidak ada yang mengatakan apapun. Al bersyukur situasi aman terkendali. Bryant masih tak sadarkan diri, dan Ara baru saja masuk. Ia hanya berharap, istri keponakannya tidak mendengar semua perdebatan tadi.


"Dek, Kamu di sini? Ocy, kenapa kamu tidak memberitahuku. Jika membawa Ara kemari." Muel memberikan pertanyaan terhadap sang kekasih, pria itu tak menyangka jika Ocy akan melakukan tindakan itu.


"Semua sudah terjadi. Sebaiknya kita urus Bryant terlebih dahulu. Aku tidak mau, masalah ini keluar dari kamar ini. Apalagi semakin melebar dan sekarang lebih baik kita bahwa Bryant ke rumah sakit." Al membuat keputusan cepat agar tidak semakin jauh lagi perdebatan yang pasti tidak ada ujungnya.

__ADS_1


"Maaf, sebelumnya. Jika kalian mengizinkan. Bolehkah, saya merawat Tuan muda. Saya berjanji tidak akan membuat ulah dan akan berusaha menstabilkan suhu tubuhnya." Ucap Ara pelan tapi semua orang mendengar.


Mama Bella ingin memberikan kesempatan pada menantu baru karena ia juga ingin tahu. Apakah kali ini putranya bisa memiliki istri yang tepat untuk memberikan kebahagiaan nyata. "Satu kesempatan. Pastikan putraku kembali sadar, dan rawat dia dengan tulus."


Keputusan Mama Bella, membuat Muel, Papa Angkasa dan Alkan, saling pandang. Ketiga pria itu memilih untuk diam dan menerima keputusan yang ada di tangan Mama Bella.


"Terima kasih, Ka, apa yang harus aku lakukan untuk membantu memulihkan keadaan Tuan muda?" tanya Ara yang tak ingin melakukan kesalahan. Apalagi ia mengingat bagaimana Bryant merawatnya dengan baik juga. Saat ia tengah sakit beberapa waktu yang telah berlalu.


"Aku akan membantumu. Sementara itu yang lainnya. Silahkan keluar kamar dan biarkan ruangan ini tidak sesak, agar lebih mempermudah sirkulasi udara." Jelas Muel mengusir semua orang, tentu saja selain Ara yang memang ingin merawat suaminya sendiri.


"Ocy, berikan nampan itu, padaku. Aku akan memberikan pada Tuan muda muda. Setelah dia sadar." pinta Ara dengan sopan dan membuat Oci mengangguk seraya menyerahkan nampan yang ia pegang.


Satu persatu keluar dari kamar itu. Kini hanya tinggal tiga orang. Dimana Bryant yang tidak sadarkan diri. Muel yang berdiri tak jauh dari ranjang dan Ara yang menatap sang suami dengan tatapan sendu. Sementara nampan yang ia pegang sudah diletakan di atas nakas.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Bryant bisa seperti ini." tanya Ara penasaran.


Muel berjalan memutari ranjang, lalu dia mendekati sang adik. Di mana Ara tengah duduk di tepi ranjang sembari menatap Bryant yang masih memejamkan mata. Dari sorot mata wanita itu terlihat jelas memancarkan rasa sedih. Seperti seseorang yang telah kehilangan orang yang ia cintai.


"Ara, apa kamu mencintai Bryant?" tanya Muel serius.

__ADS_1


__ADS_2