
Suara itu sangat familiar, tapi bagaimana bisa orang itu ada di taman? Apalagi, rencana dinner dilakukan secara dadakan. Bryant dan lainnya beranjak dari tempat duduk masing-masing. Kemudian serempak berjalan meninggalkan meja makan. Tatapan mata terus terfokus ke depan.
"Apa maumu?" tanya Bryant dingin.
Kedatangan Hazel Laurent, seketika mengubah suasana bahagia menjadi tegang. Wanita yang pernah menjadi cinta dan prioritas seorang Bryant. Malam ini terlihat seperti barang tak berguna yang tepat menempati tempat sampah. Tatapan mata jijik yang tersorot dari keluarga Putra. Tak membuat wanita itu berhenti melangkahkan kaki.
"Honey, please. Kembalilah ke rumah kita. I miss you so much." Kata Hazel memelas, tetapi senyumnya menyeringai.
Rasanya geram sekali. Baru saja ingin bergerak dari tempatnya. Sayangnya, Om Al menahan pergerakannya dengan bisikan yang bisa meredam emosiku. Satu yang patut disyukuri. Dimana Ara sudah pergi bersama Sam. Setidaknya wanita yang ia cintai aman dan tidak melihat drama dari mantan istrinya.
Itu yang Bryant beserta keluarga pikirkan. Mereka mencoba membiarkan dan melihat apa yang akan Hazel lakukan. Siapa yang sadar dengan pisau di tangan kiri yang disembunyikan wanita itu di belakang punggung? Tidak ada.
Langkahnya semakin mendekat. Al waspada, ia memberikan kode pada Bunga agar membawa para wanita mundur ke belakang. Sementara dia sendiri maju ke depan untuk menjadi pelindung keluarga. Tatapan mata keduanya beradu, "Bryant tidak akan kembali pada siluman sepertimu."
"Ouh, Om tampan. Ayolah, lihat diriku. Cantik 'kan? Setiap lelaki akan tergila-gila, termasuk ....,"
Al mengangkat tangan kanannya, ''Shut up! Cantik. Bagian mana yang kamu banggakan? Setiap inci tubuhmu hanya untuk dibayar. Berapa? Satu juta, lima juta, atau hanya untuk memuaskan hasrat terlarang mu. C!!h. Kamu bukan wanita, tapi siluman."
Pernyataan Alkan tak membuat Hazel berhenti. Justru wanita itu tertawa terbahak-bahak. Tubuh yang selalu memuaskan pelanggan, malam ini mendapatkan penghinaan. Bukan, itu sebuah pujian baginya. Tahu, kenapa begitu? Karena tanpa tubuh yang menggoda. Maka, uang tidak akan mengalir. Apa pedulinya dengan cinta. Jika cinta tidak mengenyangkan.
Pikiran aneh. Hazel bukan membutuhkan uang. Melainkan kesenangan. Jika melayani para pria hanya demi uang. Bisa saja melayani suami dengan baik, memberikan keturunan. Maka uang tidak akan pernah berhenti mengalir. Dunia wanita itu sudah tenggelam dalam kegelapan dan nafsu hingga tidak bisa membedakan kebutuhan dan kesenangan sesaat.
__ADS_1
Perceraian antara dia dan Bryant. Justru menjadi candu, ia ingin kembali merengkuh bahtera rumah tangga bersama pria satu itu. Namun, semua cara yang dilakukannya gagal total. Bagaimana tidak. Alkan lah, alasan kegagalannya. Sang paman yang menggoda iman mengatur sedemikian rupa, hingga dia tak lagi bisa bertemu Bryant.
Akan tetapi, malam ini. Setelah mendapatkan kabar dari salah satu teman model yang mengatakan suaminya ada di taman tengah makan bersama. Tentunya, ia tak ingin kehilangan kesempatan. Tekad memiliki Bryant semakin besar, dan tanpa berpikir dua kali. Ia bergegas mendatangi taman.
Benar saja. Seluruh keluarga putra berkumpul. Kesempatan akan datang bersama keberuntungan. Yah itu yang selalu dipercaya Hazel. Apapun rintangannya, pasti dia hadapi. Tidak peduli dengan tatapan jijik dan penghinaan yang ia dapatkan. Semua akan sebanding, jika bisa kembali bersama Bryant.
''Om, kamu itu benar-benar menggoda, tapi aku tetap mau kembali sama Bryant. Lagi pula, apa kalian mau. Jika aku sebarkan video malam pertama sebelum pernikahan kami? Coba pikirkan lagi." Hazel menyeringai, langkahnya sudah berhenti menyisakan jarak dua meter dari keluarga Putra.
Ancaman dari Hazel mengubah ketegangan itu menjadi tanda tanya. Mereka mengalihkan perhatian sesaat menatap Bryant, tetapi nampak perubahan wajah yang menyeramkan dari seorang Bryant. Tak ingin keluarganya salah paham, ia juga muak dengan semua tipu muslihat sang mantan istri.
"Jadi, kamu punya Video malam itu? Aku tidak percaya."
Sudah pasti urusannya akan semakin panjang. Jangan sampai wanita itu salah paham lagi dengannya. "Hey, Aku bicara denganmu." Panggil Ara berpura-pura tidak tahu nama dari mantan istri Bryant, "Ka, siapa namanya? Tidak sopan memanggilnya, hey."
"Hazel. Panggil saja dia, siluman." tukas Sam tanpa hati.
"Hazel. Wah, nama yang cantik. Apa hubungannya dengan suamiku? Apa dia pelakor?" tanya Ara pada Sam, membuat pria yang ditanya mengerutkan alisnya.
Kenapa pula, tiba-tiba Ara mengaku sebagai istri Bryant dan menganggap Hazel sebagai pelakor. Kebingungan akhirnya terjadi, hingga kerlingan mata nakal adiknya mengubah seluruh rasa bingung menjadi ilham. Manis sekali, punya adik pemain drama dadakan.
"Pelakor? Bukan, De, tapi lebih tepatnya siluman cicak. Kamu tahu cicak bukan? Hewan yang suka nemplok di dinding larinya cepet. Nah, dia itu persis." balas Samuel mencoba mengimbangi permainan Ara.
__ADS_1
Olokan pedas menusuk memanaskan hati yang membara. Hazel berbalik melihat siapa yang berani menilai hidupnya, tetapi wanita itu lupa. Jika ia menyembunyikan pisau di tangan kirinya. Ketika berbalik mencari tahu, keluarga Putra melihat kilatan tajam dari pisau itu, sedangkan Sam dengan cekatan berdiri di depan Ara untuk melindungi adiknya.
"Kau? S!alan." Umpat Hazel geram sesaat setelah melihat Samuel yang mengolok dirinya. "Minggir, tunjukkan wanita ...,"
Tubuhnya terhuyung, ntah apa yang terjadi. Tiba-tiba ada nyamuk yang menggigit, lalu rasa panas itu menjalar cepat. Perlahan kesadarannya berlari meninggalkan raga. Semakin mencoba untuk melangkahkan kaki, kepalanya semakin berat dan jatuh tak sadarkan diri. Bayangan Alkan jatuh ke tubuh Hazel, tangan pria itu memegang sesuatu seperti jarum mini.
"Sam, bawa Ara pergi! Bryant bawa keluarga kita pulang. Sekarang!" Titah Alkan dengan suara dingin tak bernada.
Tidak lagi ada kata negosiasi. Apapun yang telah ia putuskan. Maka itu yang akan terjadi. Sepuluh menit, Alkan terdiam di tempat menunggu seluruh anggota keluarga pergi meninggalkan taman, lalu berlanjut dengan kedatangan para anak buahnya. Termasuk Zack. Sang tangan kanan yang siap mendapatkan perintah dari Bos Altra.
"Siksa dia, tapi pastikan tetap hidup hingga hari pernikahan keponakan ku. Ingat, wanita ini haus sentuhan. Kirim saja pria bayaran untuk memuaskan setiap malamnya. Zack, kamu tahu apa tugasmu bukan?" Lirikan mata Al tajam menembus bak pedang, Zack menganggukkan kepala.
Tubuh lemah tak berdaya dengan sisa kesadarannya. Hazel hanya pasrah ketika tubuhnya di gendong seperti karung beras. Jangankan melawan, mengucapkan satu gumaman saja, ia tak mampu. Tentu karena Alkan menusuk leher wanita itu menggunakan serum terbaru. Dimana tubuh yang diberikan serum pelumpuh syaraf berubah menjadi seonggok daging tak berguna.
Andai saja, Hazel tidak datang dan memilih menjauh dari keluarganya. Sudah pasti, kejadian naas tidak akan menimpanya. Al tersenyum evil. Masalah terakhir teratasi. Apa gunanya penjara? Jika hukum sendiri lebih memadai. Setidaknya, dia telah memberikan beberapa kesempatan agar wanita itu memulai hidup normal. Nyatanya, masih hidup dengan ketidakwarasan.
Kini, hukuman siap menanti. Al tidak perlu membayangkan. Bagaimana Hazel akan mendapatkan sentuhan dari pria-pria bayaran yang gila goyangan ranjang. Kali ini, bisa jadi wanita itu kewalahan melayani pelanggan nya. Oh tidak. Tubuhnya saja hanya memiliki kesadaran tanpa pengendalian.
Siksaan yang akan Hazel nikmati hanya bisa menjadi bayangan semu, imajinasi liar dengan menerka suara teriakan dari balik pintu besi yang terus menggema, merintih memohon ampunan. Tidak ada kekerasan fisik. Kesenangan yang menjadi pengkhianatan adalah hukuman terbaik. Dimana Zack mengirimkan pria pilihan untuk melayani nafsu sang model.
Namun, jeda yang diberikan untuk istirahat hanya satu jam. Sudah pasti tubuh wanita itu terus digempur dengan berbagai ukuran pisang tegak yang selalu mencari tempat adonannya. Sementara di dunia yang normal. Keluarga Putra mulai mempersiapkan acara terbaik sepanjang tahun. Mereka memulai merancang agenda runtutan wedding yang akan di langsungkan tiga bulan lagi.
__ADS_1