
Dering ponsel mengalihkan perhatiannya.
"Sepertinya sudah waktunya aku pergi." gumamnya seraya menyambar ponsel dari atas nakas, lalu melihat notifikasi pesan masuk dari atas layar.
Perlahan ia turun dari ranjang dengan sangat hati-hati agar wanitanya tidak terbangun. Lalu, tanpa membawa barang lain selain ponselnya. Langkah kakinya berjalan menghampiri pintu kamar. Beberapa langkah ia lakukan tanpa suara hingga keluar dari kamar. Barulah nafas kembali normal.
"Ekhem! Bry, kenapa mengendap-endap seperti maling?" celetuk seorang pria yang sudah berdiri dengan bersandar di dinding depan kamar Bryant.
"Apa ini waktunya berdebat? Aku sudah terlambat, mana tiketnya?" tanya balik Bryant tanpa ingin menunda waktu lagi, membuat Muel mendengus seraya memberikan selembar kertas yang merupakan tiket penerbangan kembali ke kota sang sahabat.
"Bry, kapan kamu kembali?" tanya Muel mengikuti langkah sahabatnya yang menjauhi kamar utama.
Bryant memeriksa tiketnya, memastikan dirinya tidak ketinggalan penerbangan. "Aku kembali secepatnya, tapi untuk itu, kamu tahu aku harus melakukan sesuatu agar Hazel tidak curiga....,"
"Bry, apa kamu tidak sadar? Bahkan kepergianmu yang mendadak tidak membuat istri mu itu menanyakan keberadaanmu. Kenapa kamu beranggapan wanita itu mencintaimu." Ucap Muel kesal.
Bryant menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap sahabatnya. "Aku mengenal Hazel, dia hanya sibuk bekerja. Tidak mungkin istriku melupakan suaminya. Hazel....,"
__ADS_1
"Terserah! Aku tidak mau dengar. Ingat ya, Bry. Ara bukan wanita tempatmu melampiaskan keinginan untuk memiliki keturunan! Aku sebagai sahabatmu hanya ingin yang terbaik untukmu, tapi jangan salahkan aku. Jika kamu tidak bisa berlaku adil, aku sendiri akan menjauhkanmu dari istri siri mu." Jelas Muel serius, sontak membuat Bryant menahan amarah dengan tangan mengepal.
Bryant menarik nafas lalu menghembuskan secara perlahan, "Jaga dia! Aku tahu kamu bisa menjaganya. Hubungan bukan didasarkan atas kebohongan, tapi situasi membuat hubungan ku penuh kebohongan. Berikan aku waktu untuk meluruskan semua ini, kamu tahu aku seperti apa."
Samuel menyadari dirinya terlalu terbawa perasaan akan kehidupan sang sahabat. Sikap tenang Bryant menyandarkan akan sikapnya yang cukup frontal. "Sorry, Bry. Ayo kuantar ke bandara!"
"No problem, kita sahabat bukan?" sambut Bryant dengan merangkul pindah Muel.
Keduanya berjalan meninggalkan villa saling merangkul seperti sahabat tak terpisahkan, membuat seseorang yang berdiri di balik pintu keluar dari tempatnya. Bukan maksudnya untuk menguping, tapi semua yang ia dengar terdengar aneh dan susah dipahami.
"Siapa Hazel? Apa benar wanita di atas hanya seorang istri siri?" Ucapnya seraya memutar gelas yang ada di tangannya. "Haduh kenapa aku terlibat di kerumitan hidup orang, sih? Sekarang aku harus apa?"
"Kamu....,"
"Anda seorang dokter, maka jadilah dokter untuk Nona Ara. Cukup itu saja, bukankah Tuan meminta mu berusaha menjadi teman Nona? Fokus itu agar kesehatan dan emosi calon ibu tetap terjaga. Aku sama sepertimu. Tugas, kewajiban dan tanggung jawab kita tidak ada bedanya. Mari bekerjasama?" Ocy mengulurkan tangan kanannya.
Kinara tersenyum simpul mendengar sikap tenang dengan penyampaian yang lugas dari seorang bodyguard. "Teman, panggil aku Kinara."
__ADS_1
"Panggil aku Ocy, sebaiknya kita istirahat. Bukankah jadwal terapi Nona Ara dimulai besok pagi?" tanya Ocy memastikan.
Kinara tersenyum manis, "Iya, bagaimana jika kita jalan pagi bersama? Berkeliling di sekitar villa."
"Boleh, kita kumpul diruang makan setelah sholat. Selamat malam." Jawab Ocy.
"Malam juga," balas Kinara ikut pergi meninggalkan tempatnya untuk kembali ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.
...----------------...
...᭕🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋𓏲...
Makasih buat support kalian semua, READER'S 😘
Sebagai ucapan Terima kasih othoor up double 🥰
Love you All 😍😘😙😗🤗
__ADS_1
Jejak kalian adalah penyemangat ku ❤😊