
KAKAK CARI SIAPA?"
Pertanyaan yang jelas, keras dan juga begitu tegas. Darren mengerjapkan mata, "Ayra."
"Ayra? Tidak ada Ayra di hotel ini, Ka. Ayo, kita balik ke kamar," ajak Denis berniat untuk menarik tangan kakaknya kembali ke masuk ke hotel, tapi jawaban sang kakak, membuat pemuda itu tersentak.
"Wanita itu Ayra ku. Kemana dia pergi? Aku mau Ayra ku."
Denis menatap mata Darren begitu dalam, tapi sorot mata kerinduan dengan cinta. Jelas nampak dari sorot mata sang kakak. Namun, jika wanita itu adalah Ayra. Sudah pasti, kakaknya tidak bisa memiliki. Jadi, bagaimana mengatakan pada pria dewasa itu. Jika sang pujaan hati, saat ini sudah menikah dengan seorang pebisnis yang menyelamatkan perusahaan keluarga mereka.
"Ka, aku akan membantu Kakak untuk menemukan Ayra. Sebelum itu, tenanglah!"
Denis berusaha membujuk. Hanya dengan memberikan harapan, maka kakaknya bisa kembali tenang. Saat ini, hanya ada satu kemungkinan. Ingatan Darren sudah kembali. Jika benar, pasti akan terjadi keributan dan juga masalah baru. Apalagi, kebenaran yang ingin diketahui. Masih belum dia dapatkan.
Darren menurut, dan ikut kembali masuk kedalam hotel bersama adiknya. Sebanyak apa ingatan pria dewasa itu kembali. Hanya dia yang tahu, namun sekarang sebelum mencari keberadaan Ayra. Ada satu masalah yang harus diselesaikan. Yaitu acara pertunangan yang batal karena gagal total. Bagaimanapun, keluarga Wiratama harus bertanggung jawab.
Mengingat situasi semalam cukup menjadi perbincangan para pebisnis dan pasti Tuan Erlangga sudah melakukan provokasi agar tidak seorangpun mau menjadi mitra saham keluarga Wiratama. Hal itu, membuat perubahan yang signifikan terhadap nama baik yang mereka miliki saat ini. Darren dan Denis harus menerima ceramah dari sang papa selama tiga jam tanpa air minum.
Tiba-tiba, Tuan Wiratama memegangi dada. Sontak saja berhenti memarahi kedua putranya, "Dadaku, sakit...,"
__ADS_1
"Pa! Denis cepat panggilkan dokter. Kita akan bawa Papa ke rumah sakit terdekat."
"Ok, Ka. Ayo, kita bawa Papa turun. Aku akan hubungi dokter pribadi menggunakan earphones."
Di saat kakak beradik itu sigap menolong Papa mereka. Justru di tempat lain, seorang wanita yang terkapar akibat diberikan obat terlarang mulai kejang-kejang. Akan tetapi, pria yang menyuapi obat hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk menghisap asap barang haram. Apalagi, jika bukan sabu racikannya sendiri.
"Bos, bantal ranjangmu bisa sekarat. Apa sudah bosan?" Anak buah yang sibuk memijat kaki bosnya cukup berani untuk bertanya, tapi bukan karena lancang. Pria plontos itu tahu, bosnya tidak akan memberikan hukuman. Jika tidak melakukan kesalahan fatal.
Cerutu panjang diletakkan ke asbak seraya mendorong kaki si anak buah. Tatapan mata bengis dengan bibir yang menyeringai, "Dia itu aset. Biarkan saja, nanti juga baikan. Dosis yang kuberikan. Tidak akan mengambil nyawanya. Setelah cukup pantas. Jual saja ke MamCa. Pasti rumah podjok akan menjadi ramai karena wanita ini."
"Wah, wah. Bos benar-benar memiliki ide cemerlang. Puas dipakai, trus buang aja ke tempat yang seharusnya. Boleh lah, ikut mencicipi kalau udah jadi anak rumah podjok," sanjung si anak buah begitu bangga dengan cara kerja bosnya.
Penderitaan yang tengah dirasakan seperti hukum karma yang berlaku. Sehingga rasa penyesalan di dalam hatinya mulai menyadarkan dirinya atas semua tindak kejahatan yang dia lakukan selama ini. Wajah- wajah para korban, dan juga semua upaya yang telah menjadi kenangan bergulir bagaimana irisan ingatan yang menyesakkan dada.
Seketika, rasa sakit yang menjalar di seluruh saraf dan nadi. Tidak berarti apapun. Di titik ini, hanya satu yang bisa dilakukan yaitu menyerah memperjuangkan kehidupan. Mata yang meredup dengan tubuh semakin menggelepar seperti cacing kepanasan. Pandangan mata yang mulai kabur, hingga kegelapan meninggalkan senyuman tak bersahabat dari sang penawan.
Satu jam kemudian
Terdengar suara berisik orang-orang yang ntah datang dari mana. Suara yang berebut untuk memutuskan. Siapa yang benar, dan siapa yang salah. Kelopak mata yang terbuka menyambut wajah yang tidak asing tengah berdiri di sisi dekat jendela kamar. Niat hati ingin bangun, tapi kepalanya terasa berat.
__ADS_1
"Mau kemana? Tetaplah berbaring. Ayo, minum dulu!"
Ara menoleh, ternyata sang suami duduk disebelah tempatnya berbaring. Senyuman tampan dengan tatapan mata meneduhkan, "Mas, tumben di rumah? Apa tidak kerja?"
"Minumlah. Ini akan meredakan rasa pusing mu. Setelah itu, bisa ceritakan. Apa yang terjadi semalam?"
Melihat tatapan mata Bryant. Ara bisa merasakan ada kecemasan yang bercampur menjadi satu dengan perasaan lain. Ntah apa yang menjadi dilema sang suami. Air beraroma buah segar diambilnya, lalu meneguk beberapa tegukan. Kemudian, meletakkan ke atas nakas yang ada di samping tempat tidur.
Ara berusaha untuk bangun dan dengan sigap. Bryant membantunya agar bisa duduk dan bersandar ke belakang. Namun, istrinya justru langsung memberikan pelukan hangat. Rasa nyaman itu, sedikit mengurangi kegelisahan hatinya. Akan tetapi, saat ini pikiran tengah berkelana ke tempat lain.
"Mas, aku tidak tahu, apa masalahmu. Apa itu menyangkut pekerjaan, atau keluarga. Apapun yang mengusik hati dan pikiranmu. Tariklah nafas, lalu hembuskan secara perlahan. Coba ceritakan padaku," Ara mencoba memberikan dukungan dengan cara berbincang sebagai sepasang suami istri, "Jika mungkin, tutup matamu, lalu katakan. Aku siap menjadi pendengar yang baik."
Bryant menarik nafas, yang dia lakukan hanya bisa membalas pelukan Ara. Bibirnya kelu, tak mampu mengatakan kebenaran tentang Hazel. Hal ini, akan menjadi serangan keterkejutan. Jika menuruti ego. Sudah pasti akan berkata semua isi hatinya. Hanya saja, semua masih harus ditahan. Kali ini, semua dilema kembali muncul ke permukaan.
Semua itu karena agent's yang dia sewa memberikan hasil penyelidikan yang sangat mencengangkan. Kebenaran yang selama beberapa hari dianggap sebagai fatamorgana. Hari ini, semua sudah jelas. Itu kenapa, saat ini. Dia memilih untuk tetap bersama Ara. Lagi pula, Hazel tidak ada dirumah. Wanita itu, tidak pulang sejak berpamitan untuk pergi melakukan pekerjaan.
Tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Ingin sekali bisa melihat secara langsung disaat sang istri memuaskan hasrat pria lain. Setidaknya hati yang selama ini tercantum nama Hazel, bisa terhapus tanpa harus bersedih. Pelukan Bryant begitu erat, membuat Ara bertahan diri. Bukan karena tidak nyaman, tapi ntah kenapa tiba-tiba perutnya terasa eneg.
Padahal hari ini, dia hanya makan buah sebelum melanjutkan tidur. Satu yang dia sadari, aroma keringat Bryant menghadirkan rasa tak nyaman yang menumpuk di dalam perutnya. Semakin mencoba ditahan. Justru, rasa eneg semakin kuat dirasakan. Ara mendorong tubuh suaminya, lalu berlari turun menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Ara!"