Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 38: KEJUJURAN ALKAN


__ADS_3

"AKU SETUJU!"


Belum sempat satu langkah menapaki lantai. Suara lembut dengan persetujuan membuat dunianya menjadi terbalik. Rasa sesak di dada tiba-tiba saja datang menyapa.


"Bunga," gumam Alkan memejamkan matanya.


Tidak ada lagi kata apalagi semangat. Niat hati memberikan syarat agar semua merasa keberatan, tapi justru yang bersangkutan memberikan persetujuan. Bukan hanya Alkan yang harus menerima kenyataan itu, kedua orang tua Bunga dan juga Angkasa serta Bella sontak langsung menatap gadis yang kini duduk di sofa.


"Pa, bisakah pernikahan dilakukan hari ini?" tanya Bunga dengan binar mata kebahagiaan, membuat Bram melirik istrinya.


Anggukan kepala sang istri benar-benar menjadi keputusan yang berat sepanjang hidupnya. Melepaskan putri tunggalnya menikahi pria dewasa dengan syarat yang jelas akan membelenggu seumur hidup. Andai menolak, sudah pasti Bunga akan melakukan sesuatu yang nekat.


"Al!" panggil Bram mencoba memastikan semua akan baik.


"Berikan aku waktu satu jam. Bunga, aku tunggu kamu di kamarku!" Jawab Alkan berlalu meninggalkan ruangan keluarga yang memanas.


Angkasa tahu apa tujuan adiknya meminta waktu. "Bram, izinkan Bunga berbicara empat mata dengan Al. Kita tunggu mereka di sini."

__ADS_1


"Nak, pergilah!" titah Bram menerima permintaan kakak beradik yang menjadi tuan rumah.


Bunga tak ingin memberikan jawaban ataupun argumen. Ia memilih berlari kecil meninggalkan ruang keluarga, menapaki setiap anak tangga dengan detak jantung tak karuan. Langkahnya tak sabar mencapai kamar utama di lantai atas. Kamar yang beberapa jam lalu menjadi saksi pencurian ciuman pertamanya.


Tap!


"Masuk!" seru dari dalam dimana pintu tidak tertutup rapat.


"Aduh, kenapa jantungku tidak mau diem? Masuk? Gak? Masuk? Gak?" Bunga menghitung jemarinya dengan gugup, pipinya bahkan merona memikirkan apa yang akan Alkan katakan.


"Om, sabar donk. Bunga....,"


Tak ingin mendengar lebih banyak hal tidak berguna. Alkan menarik tangan gadis itu agar berpindah tempat. Tak lupa pintu ditutup, lalu di kunci. Tindakannya benar-benar menambah warna merah di pipi Bunga. Keduanya bergandengan tangan berjalan bersama hingga berhenti di depan ranjang king size.


"Apa kamu siap mendengarkan kebenaran tentang hidupku?" tanya Alkan.


Imajinasi gadis itu mencapai makan malam romantis dengan menari bersama diiringi lagu favorite nya mohabbatein. Pasti menjadi pasangan paling romantis, apalagi jika ada alunan musik biola. Lamunan yang sempurna ketika cinta berbalas. Hingga sebuah jentikan jari memudarkan lamunan Bunga yang melambung tinggi.

__ADS_1


Alkan menaikkan alisnya menatap Bunga. "Are you okay?"


"Hehehe sangat okay. Sekarang, apa yang mau om bicarakan?" tanya balik Bunga menyunggingkan senyum manisnya.


Alkan menggelengkan kepala. Bagaimana ia bisa mengatakan kebenaran akan hidupnya? Lihatlah senyuman gadis itu, apa sebaiknya sembunyikan saja? Tidak! Kebenaran harus dikatakan meskipun sangat pahit. Helaan nafas dalam lalu dikeluarkan. Kedua tangannya memegang bahu Bunga. Tatapan mata saling memandang.


Bunga yang terlihat serius diselimuti kebahagiaan. Tidak sabar mendengarkan isi hati dari calon suaminya. Bahkan senyuman di wajahnya tidak luntur sedikitpun. "Katakan! Apa yang harus aku ketahui dari hidup om?"


"Aku akan berkata jujur. Dengarkan aku baik-baik. Setelah ini keputusan ada di tanganmu." Alkan melepaskan kedua tangannya yang beralih kembali masuk ke dalam saku celana.


"Selama bertahun-tahun aku hanya mencintai satu wanita. Cinta di hatiku menjadi nafas dan detak jantungku. Cintaku Sifani. Kesederhanaan dan kebaikan hatinya terpatri mengukir indah namanya. Tidak ada waktu untukku mencari wanita lain. Bagiku dia yang pantas menjadi pasangan hidupku."


"Hari ini aku menerima kebenaran. Jika Sifani telah bersama orang lain. Aku masih bisa menerima karena itu demi kebahagiaannya, tapi bukan itu yang menjadi masalah ku. Hubungan kami lebih dari sebatas kekasih. Di malam pesta perpisahan, kami bermalam bersama. Akulah alasan cintaku kehilangan kehormatan yang ia jaga."


"Bunga, aku bisa menyembunyikan semua ini darimu. Tetapi sebuah hubungan tidak baik didasari kebohongan. Maaf, aku bukan pria yang pantas untukmu. Jika mungkin, pilihlah seseorang yang bisa menjadi pasangan ideal mu."


"Sudah?" tanya Bunga menatap Alkan serius.

__ADS_1


__ADS_2