
"Om, Aku...," ucap Bryant ingin melakukan pembelaan. Namun, tiba-tiba ucapan sang paman menjadi petir yang menyambar kehidupannya.
"Ceraikan istrimu!" titah Om Al.
Perintah sang Paman benar-benar seperti petir yang menyambar. Dia tak pernah menyangka perkataan itu akan keluar dari bibir pamannya. Apalagi di saat kondisinya tengah mabuk berat.
"Om, istirahat saja dan aku akan menjaga, tapi jangan membahas apapun. Saat ini, Om tidak menyadari akan melukaiku," ujar Bryant seraya melepaskan tangan sang paman.
Iya tak ingin melukai pamannya dengan membahas hal yang tidak seharusnya. Malam semakin larut. Kegelisahan Bryant, sama halnya dengan hati Bunga yang benar-benar khawatir akan keadaan sang suami. Apakah sudah makan? Kenapa di saat pulang begitu kacau? Seketika, ia berharap agar bisa menemui Al yang ada di kamar sebelah.
Meskipun kini ia telah menjadi seorang istri, tapi kenapa sang suami seperti tak menganggap dirinya ada. Apakah ada yang salah atau memang benar seperti yang ada di dalam pikirannya. Jika sang suami memang belum bisa menerima dirinya sebagai seorang istri, atau memang pria itu tengah menyesal telah menikah dengan gadis labil.
"Aku, sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu seperti ini? Aku pikir, setelah kita menikah. Kita akan bahagia dan aku bisa memilikimu selayaknya seorang istri. Kita bisa berbagi suka duka dan semua akan kita lalui bersama. Sayangnya, mungkin itu hanya ada di pikiranku, saja."
Bunga menatap langit malam dimana tak ada bintang sama sekali, bahkan semua lampu kamar pun tak dinyalakan. Kegelapan itu tak berarti baginya karena saat ini di hatinya sangat merindukan sang suami. Suami yang baru saja ia miliki.
__ADS_1
"Rasanya seperti ini. Aku menikah, tapi rasaku masih seorang diri. Meskipun malam berlalu, tetap saja hatiku rasanya tak mampu untuk bertahan. Ya Allah, apakah aku terlalu mencintainya atau memang ini sudah takdirku?"
"Ya Allah, tolong kuatkan aku. Jika memang dia jodohku. Tolong jaga dia, meskipun aku tak ada lagi di sampingnya. Aku tak ingin melihat air mata, atau pun melihat luka yang terpancar dalam matanya. Aku hanya ingin kebahagiaan dan melihat senyuman manis yang tersungging di bibirnya. Limpahkan kebahagiaan untuk suamiku."
Kebersamaan tak bisa selalu ada, tapi bukankah ini sangat sulit? Ketika sepasang suami istri tak ada untuk saling berbagi. Di satu sisi ada Bryant yang tengah menatap sang Paman penuh makna. Ia berpikir dengan keras kenapa permintaan pamannya adalah perceraian. Bukankah sekarang ini ia memiliki istri? Tentu tahu rasanya hubungan suami istri tak semudah itu disatukan, lalu dipisahkan.
Istri sah dengan pekerjaan tetap dan selalu ada disampingnya selama ini, tapi tidak untuk beberapa hari terakhir. Pada akhirnya sebuah permintaan itu kembali muncul. Permintaan di mana ia menikah kembali dan memiliki istri siri. Yah, ada sesuatu yang mungkin harus dia pikirkan lagi, tapi tentang perceraian.
Apakah dia harus menceraikan sang istri siri? Ada sesuatu yang sebenarnya diketahui. Akan tetapi Bryant tak paham ingin memulai dari mana. Sebuah kebenaran yang mungkin akan mengubah segalanya. Ada rasa takut di hatinya, tapi apa yang akan ia lakukan?
"Aku, tahu kamu ingin yang terbaik untukku. Tunggulah sebentar lagi, aku ingin menyelesaikan semuanya dengan caraku. Apapun yang aku lakukan hanya untuk keluarga kita demi kebahagiaan dan masa depan, hingga pada akhirnya nanti. Aku akan membawa orang yang memang membawa kebahagiaan untuk kita semua."
Bryant duduk dibawah seraya menjaga sang paman yang sudah tak sadarkan diri. Semua menjadi rumit karena kebenaran datang tanpa permisi. Keduanya telah memikirkan semuanya. Bunga mencemaskan tentang nasib pernikahannya dan Bryant memikirkan bagaimana ia akan melakukan sesuatu untuk membuktikan kesalahan yang istrinya lakukan.
Sementara itu di tempat lain. Seorang wanita tengah bersujud memohon doa untuk perlindungan semua keluarga yang ia cintai. Orang-orang yang dengan rela merentangkan tangan untuk memeluknya. Memberikan cinta kasih, "Ya, Allah. Limpahkanlah kebahagiaan untuk keluarga baru hamba. Lindungi mereka dan jauhkan dari marabahaya. Hamba hanya bisa memohon dan berserah diri pada-Mu. Ya Allah, apapun yang Engkau rencanakan, kami percaya semua itu adalah yang terbaik untuk kami. Amiin."
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat malam berganti pagi. Sinar mentari bersinar begitu indahnya ditemani suara kicauan burung yang bertengger di pohon. Terdengar sangat merdu. Seseorang menggeliat merasakan pegal diseluruh tubuhnya. Kesadaran yang masih setengah, membuatnya tak bisa berpikir, "Apa yang terjadi padaku? Kepalaku pusing sekali dan ini, kenapa aku tidur di sini?"
Aroma wangi seduhan kopi sangat menggugah selera membuat rasa kantuk yang mendera seketika hilang. Terlihat dari tirai yang menjuntai. Bayangan seseorang terlihat tengah melakukan sesuatu di dalam sana. Jika dilihat sekilas itu seorang wanita. Sepersekian detik masih dalam kebingungan dan tak sadar siapa wanita itu. Akan tetapi ketika wanita itu berbalik, membuat tatapan matanya terkejut. Sungguh ia lupa, jika sudah menikah dan yang ada di depan mata adalah sang istri.
"Bunga, apa yang terjadi? Kamu, kenapa? Kenapa wajahmu begitu sendu. Apa aku melakukan sesuatu? Katakan. Jangan buat diriku khawatir," Al menatap wanita yang sekarang ini telah menjadi istrinya dengan khawatir.
Wajah cantik yang harusnya ceria dan memiliki kebahagiaan, tapi pagi ini benar-benar terlihat murung dan masam. Tidak ada senyuman meskipun itu sekilas. Apakah ia telah melukai atau berkata sesuatu yang kasar pada gadis itu? Terlebih lihat saja penampilannya, masih terlihat sangat berantakan. Rambut yang tergerai dengan gaun sederhana yang dikenakan Bunga begitu kusut.
Al meraih tangan Bunga, lalu menatap mata itu dengan dalam. Mata hazelnut yang telah membuatnya jatuh ke dalam hubungan. Hubungan seorang suami dan istri. Keduanya saling menatap semakin lama semakin dalam, hingga Bunga memilih mengakhiri pandangan itu.
"Katakan padaku! Jika aku melakukan kesalahan, tolong hukum aku. Aku siap menanggungnya, tapi jangan diam, karena aku tidak akan memahami apa yang telah terjadi." pinta Al berusaha untuk tetap tenang, meskipun banyak pertanyaan yang menyapa kepalanya.
Perkataan sang suami menyentuh hatinya, tapi ia tak sanggup mengatakan apa yang telah terjadi. Mungkin saja, itu akan memperburuk keadaan. Bunga tersenyum dan menatap sang suami penuh cinta, "Aku tidak kenapa-napa. Aku hanya merindukanmu. Bukankah, aku boleh merindukanmu sebagai seorang istri?"
"Aku adalah suamimu dan kamu Istriku. Kamu berhak atas diriku begitu juga sebaliknya. Jangan pernah sungkan. Apapun yang terjadi kita bisa bicara dengan baik-baik, kamu paham?"
__ADS_1
Perkataan Al sungguh menenangkan dan benar adanya. Namun, pria itu tidak menyadari anggukan sang istri menyimpan luka. Luka yang bersembunyi di balik senyuman manisnya.