Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 159: HADIAH PERPISAHAN


__ADS_3

MUA itu menutup pintu ruangan Hazel tanpa perasaan. Suara gebrakan membuat semua orang yang ada di luar ruangan terkejut. Wajah gemulai berubah menjadi geram dan kesal. Tidak seorangpun berani bertanya karena bukan rahasia umum lagi. Jika model satu itu perlahan mulai jatuh popularitasnya.


Si MUA meninggalkan gedung tempatnya mencari nafkah. Disaat semua orang mulai membubarkan diri. Justru langkah Al memasuki gedung. Pria itu sudah membawa sesuatu untuk dijadikan sebagai hadiah. Langkahnya tanpa bertanya dan langsung saja, tanpa permisi membuka pintu ruangan Hazel.


"Uft, berantakan sekali. Apa ini kantor seorang model? Aku rasa mirip tempat pembuangan sampah." Al berjalan mendekati meja, dimana Hazel menatapnya dengan tatapan datar. "Hadiah untukmu. Aku lupa memberikan salam perpisahan."


Sebuah bingkisan kado dengan kertas pembungkus polkadot putih hitam. Terlihat seperti hadiah di acara ulang tahun anak usia lima tahun. Kado itu diletakkan ke atas meja, dan tanpa dipersilahkan. Al menarik kursi, lalu duduk seraya menaikan kedua kakinya keatas meja dengan tatapan terpatri pada sang mantan istri keponakan.


"Bukalah! Aku sudah bosan menunggu." Pintanya dengan serius, padahal baru hitungan detik masuk keruangan. Bagaimana bisa berkata sudah bosan? Sedangkan Hazel mendengus sebal seray meraih kado dari Al.


Kado yang sebesar kotak pembungkus sarung itu, perlahan dibuka. Tetapi, ternyata memiliki banyak lapisan pembungkus, hingga menambah rasa emosi yang kian tak mampu terbendung lagi. Hazel mengambil gunting, lalu menusuk hadiah itu tanpa perasaan. Disaat itulah, kado bisa dengan mudah dibuka.


Ketika gunting yang menancap dikeluarkan. Hazel terkesiap karena warna merah kental yang menetes di ujung gunting menyebarkan aroma anyir segar. "Darah?" Sontak saja, kado dibuka secara perlahan.


"Huuek!"


"Huuek!"


Al hanya menatap Hazel tanpa berniat menolong. Hadiah yang pantas untuk sang mantan istri keponakannya. Semua itu karena kini, dia tahu penyebab Bryant melawan keluarga. "Well, happy ending. Selamat atas kesendirianmu. Satu pesanku, jangan pernah kembali ke dalam keluargaku."

__ADS_1


Setelah melakukan apa yang seharusnya. Al kembali meninggalkan ruangan itu. Meski saat ini, Hazel harus menikmati mual yang parah. Ntah apa yang menjadi hadiah perpisahan. Wanita itu bahkan tak sanggup menatap ke atas meja. Dimana seonggok daging berbentuk sosis besar menjadi persembahan yang langsung mengaduk isi perutnya.


Al tersenyum puas. Setelah melakukan pekerjaan satu yang ternyata beruntun ke masalah lain. Akhirnya, dia menemukan salah satu sasaran yang bisa menjadi hadiah untuk Hazel. Pria itu memerintahkan anak buahnya untuk memotong alat vital salah satu pelanggan sang model.


Benar, itulah hadiah perpisahan darinya. Sadis, tapi hanya untuk peringatan. Siapapun yang mengusik keluarganya harus mendapatkan hukuman setimpal. Dia memberikan belas kasih untuk orang-orang yang menjadi bagian hatinya, tetapi memberikan darah untuk orang-orang yang melakukan tipu muslihat.


Waktu berlalu begitu cepat. Malam ini, sebuah acara pertunangan akan dilangsungkan. Dimana seluruh anggota keluarga sudah terbagi menjadi dua kubu. Bukan untuk bermusuhan. Akan tetapi agar kedua mempelai memiliki keluarga untuk saling berbagi dan saling mendampingi.


"Ma, Ocy cantik, ya." Celetuk Ara yang duduk disebelah Mama Bella dengan tatapan tertuju ke depan. Dimana Ocy masih sibuk menerima sentuhan para MUA untuk menyelesaikan hiasan kepalanya.


"Menantuku juga cantik, bahkan manis. Ara mau pake hiasan itu juga? Kalau iya, biar MUA memakaikan nya untukmu, Nak." balas Mama Bella berusaha menyenangkan hati Ara, tetapi bumil menggelengkan kepala dan justru terpesona dengan jepit rambut salah satu MUA.


"Nak, itu punya orang. Lihat banyak hiasan kepala yang lain. Kamu bisa pilih salah satunya." Mama Bella berusaha mencegah karena memang tidak baik untuk mengambil milik orang lain.


Si MUA yang masih cukup mendengar jelas perbincangan dua wanita yang duduk di ranjang itu tersenyum, lalu melepaskan jepitan rambutnya. Kemudian berbalik ke belakang, langkahnya berjalan menghampiri Ara.


"Ambillah. Kata kakakku, ini jepit keberuntungan. Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang tetap. Semoga, ini juga memberikan kebaikan." kata Si MUA mengulurkan jepitan rambutnya pada Ara.


"Apa tidak apa-apa, Mba? Kalau ini memang dari kakaknya, Mba. Aku tidak jadi ....,''

__ADS_1


Si MUA menata rambut Ara, lalu menjepitkan jepitan kupu-kupu agar menjadi hiasan kepala yang indah. "Kebahagiaan itu untuk dibagi. Kakak ku tidak akan keberatan. Nona begitu manis. Semoga ibu dan anak selalu sehat. Amiin."


"Amiin. Bagaimana kamu tahu, menantuku tengah mengandung?" tanya Mama Bella heran, sedangkan Ara menyunggingkan senyuman terbaik karena jepitan itu benar-benar cantik.


"Mba, giliranmu. Aku sudah selesai dengan riasan pertama."


Panggilan itu, membuat si MUA pemilik jepit rambut harus permisi meneruskan pekerjaannya. Berhubung waktu semakin menipis. Mama Bella membiarkan wanita itu sibuk kembali. Setelah menunggu dua puluh lima menit. Akhirnya, semua siap dengan penampilan yang elegan.


Sementara di tempat acara. Para pria sudah duduk menanti para keluarga mempelai wanita. Pingitan yang dilakukan untuk Ocy, berlaku juga untuk semua para istri. Benar-benar keluarga itu niat untuk memberi dukungan sepenuh hati dan tindakan. Nampak Sam gusar berulang kali menoleh ke arah pintu masuk, berharap segera bertemu dengan Ocy.


Bryant yang masih sibuk memikirkan masalahnya hanya memilih diam dan menjadi pengamat, sedangkan Papa Angkasa dan juga beberapa pria lain yang merupakan teman bisnis masih sibuk membicarakan tentang perkembangan pasar saham. Namun, ketika pintu ruangan terbuka secara perlahan dan semua mata sudah teralihkan.


Justru yang menampakkan diri adalah Al bersama keluarga Bunga. Pria itu baru terlihat setelah hampir seminggu menghilang. Mungkin saja memang sengaja memberikan waktu untuk keluarga istrinya agar tidak kesepian. Tetapi, Papa Angkasa berbeda arah tatapan mata.


Bayi yang tenang di gendongan Bunga. Terlihat begitu mencolok. Satu minggu dan datang sudah membawa bayi? Apakah adiknya mengadopsi anak secepat ini. Jika iya, kenapa? Mereka berdua baru menikah. Jadi bisa melakukan program hamil untuk mendapatkan seorang anak.


"Al, apa ini benar? Aku sudah bilang. Biarkan Almaira bersama kami dirumah dan kalian bisa menghadiri acara pertunangan Sam dan Ocy. Lihat, kakakmu siap memakan hidup-hidup." kata Bima yang terdengar seperti bisikan, tetapi bisa di dengar Milea dan sang putri.


Al tak gentar dengan langkah kakinya. Apalagi Bunga memberikan senyuman untuk tetap maju, "Keluarga adalah tempat kejujuran. Jika hari ini, Aku menyembunyikan Almaira. Suatu saat nanti, Aku tidak berhak dipanggil papa oleh putriku sendiri."

__ADS_1


"Mas Al benar, Pa. Almaira putri kami. Tidak ada yang salah untuk itu. Jika kami menyembunyikan putri secantik dia. Dunia bisa merenggutnya dari kami. Percaya saja, jika ini yang terbaik untuk keluarga kita."


__ADS_2