
Pria dengan penampilan kacau serta tatapan mata dingin berjalan menaiki anak tangga. Dari sekilas saja sudah bisa menjelaskan situasi hati pria itu.
"Kalian disini saja! Aku yang akan ke atas."
Langkah Bryant menyusul sang paman. Dimana pria itu tak ingin segala sesuatu menjadi lebih rumit ketika memakai hati. Apapun yang terjadi paman Al. Pasti bukan hal sederhana. Pria yang selalu menjadi ayah keduanya itu benar-benar kacau. Bunga memainkan kedua tangannya hanya untuk mengurangi rasa cemas di hati.
Kegelisahan di mata Bunga, membuat mama Bella ikut bersedih dan hati tak tenang, "Sayang, tenang. Bry, sudah menyusul Al. Sebaiknya kamu istirahat di kamarnya."
"Ma, aku takut. Apa mungkin, Om Al menyesal menikahi ku?" tanya Bunga menatap Mama Bella sendu.
Pertanyaan itu seperti sayatan yang langsung menggores hati. Jika mau jujur, mungkin saja benar. Akan tetapi, ia percaya adik iparnya bukan pria seperti itu. Apalagi mempermainkan ikatan sakral seperti pernikahan. Terlebih tanda yang terlihat jelas di leher Bunga menandakan pasangan baru itu sudah melewati malam pertama.
"Sayang, kemari!" titah Mama Bella merentangkan kedua tangannya, membuat Bunga bangun lalu menghamburkan diri memeluk wanita yang kini menjadi sandaran nya.
Mama Bella mengusap kepala Bunga. Gadis itu memang terlalu muda untuk menjadi seorang istri, tapi ia tahu seperti apa sang keponakan. Bagaimana kemandirian, kecerian dan sikap penyayang yang selalu menghangatkan keluarga. Kini hanya pelukan dengan segenap curahan kasih sayang agar adik ipar sekaligus keponakannya itu bisa lebih tenang.
Sementara di kamar atas. Bryant mengunci pintu dari dalam, lalu melangkahkan kaki menyusuri seluruh sudut ruangan hanya untuk mencari keberadaan sang paman. Pria yang pulang dalam keadaan kacau balau. Lihatlah pintu menuju kamar mandi sedikit terbuka. Sontak saja ia buru-buru memeriksa.
Pemandangan yang ada di depan mata, membuat Bryant bergegas merebut botol wine yang ada di tangan Al. "Om! Apa kamu gila."
__ADS_1
"Istrimu di bawah sana menunggu sejak pagi, dan kamu pulang seperti preman jalanan. Stop! Apa yang Om peroleh dari minuman ini?!"
Bryant tak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup. Bagaimana tidak basah? Saat ini Om Al tengah menikmati wine di bawah air shower. Ntah untuk apa? Wine yang dipindahkan, membuat Al bangkit dari posisinya. Sayangnya ia bukan pria yang tahan untuk minum minuman beralkohol.
"Om ini, ayo!"
Bryant dengan sabar membantu sang paman untuk bangun, lalu ia memapah pria yang setengah sadar itu keluar dari kamar mandi. Tak lupa juga mengganti pakaian basah yang bisa menjadi penyebab demam. Kini om Al sudah terbaring di atas ranjang dengan pakaian bersih, sedangkan Bry masih menikmati rasa dingin yang diabaikan.
"Om, minum!" titahnya memberikan sebuah ramuan herbal agar pengaruh alkoholik ternetralisir.
Al bangun dibantu Bryant, lalu meminum ramuan tanpa mengeluh.
Niat hati ingin berganti pakaian, tapi tangan pamannya menahan kepergiannya. Tatapan mata yang terpejam dengan kesadaran yang minim. Pasti ada yang ingin Al sampaikan. Bryant kembali duduk di tepi ranjang, lalu mengusap tangan sang paman.
"Bry, jangan pernah salah menilai seseorang. Aku tidak mau, kamu kehilangan cinta yang tulus. Biarlah aku saja yang patah hati, tapi jangan kamu...," kata Al dengan suara yang setengah parau.
"Om, tidurlah! Jangan bicara yang aneh," balas Bryant pelan tapi tegas.
Al tak mau diam, ia justru menyibak selimut. Kemudian menurunkan kaki dari atas ranjang. Sontak saja, mau tak mau. Bryant menyusul sang paman seraya berjaga dari belakang untuk mengantisipasi. Jika pamannya hilang kesadaran nanti. Keduanya berjalan menuju balkon rumah. Hembusan angin malam begitu dingin menyusup ke pori-pori.
__ADS_1
Langkah Al di depan kursi balkon, lalu pria itu membaringkan diri menatap langit malam yang begitu tenang di atas sana. Hanya ada kegelapan tanpa sinar rembulan. Sikap sang paman jauh dari kata bertanggung jawab tapi sebagai sesama pria. Pasti tahu, dibalik keterpurukan pasti alasannya sangat besar.
"Om!" panggil Bryant menatap sedih, ia tak bisa melihat orang yang selalu dewasa dalam keadaan lemah tak berdaya.
Al melambaikan tangannya membuat Bryant mendekat seraya berjongkok agar posisinya sejajar dengan sang paman. Kedua tangan saling menggenggam dengan tatapan mata bertautan. Netra pamannya di penuhi luka, kesedihan dan pasrah, sedangkan netranya dipenuhi kecemasan dan rasa takut. Ntah kenapa tatapan mata seperti ingin mengatakan hal besar yang bisa menghancurkan seluruh hati dan kepercayaan.
"Om, ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Bryant tak bisa mengalihkan pandangannya dari netra sang paman.
Al tersenyum, "Kamu bukan hanya keponakan ku, tapi kamu salah satu alasan ku bertahan hidup hingga detik ini. Sejak awal, disaat kamu lahir. Jemari ini menggenggam tanganku seakan berkata. Om ayo main bersamaku."
"Bry, Aku hanya ingin melihat kamu bahagia. Kebahagiaan keluarga kita adalah kamu, dan untuk itu. Aku siap berkorban apapun. Sekali saja, percaya pada kami. Apa kamu bisa?"
Deg!
Kenapa perkataan sang paman terasa menyayat hatinya? Rasa kecewa itu jelas terdengar menyuarakan isi hati Al, tapi apa alasan anggota keluarga kecewa akan dirinya? Kecuali satu hal dan itu adalah tentang pernikahan yang terjadi tanpa restu.
"Om, Aku...," ucap Bryant ingin melakukan pembelaan. Namun, tiba-tiba ucapan sang paman menjadi petir yang menyambar kehidupannya.
"Ceraikan istrimu!" titah Om Al.
__ADS_1