Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 143: GEMAS - MAYAT


__ADS_3

Al sadar, istrinya baru melihat sisi lain dari dirinya. Inilah yang tidak diinginkannya. Dimana ada yang mengenal dunia gelapnya. Sekarang hanya bisa menghela nafas untuk kembali tenang, lalu meletakkan ponsel ke atas nakas. Kemudian, memposisikan diri untuk menghadap Bunga.


"Tatap aku! Tundukkan wajah hanya berarti rasa takut. Dunia ku tidak sebersih itu, apa kamu mau mendengarkan aku?"


Bunga mengangguk menurut, membuat Al tersenyum tipis. Diraihnya kedua tangan sang istri, lalu menggenggamnya dengan perasaan. Dia tahu, jika sang istri selalu hidup dipenuhi kasih sayang. Jadi berkata kasar atau keras akan menjadi pemberontakan. Meski, wanita itu memiliki sisi dewasa kadang kala.


"Aku tidak akan berbohong denganmu. Kedatangan kita kesini hanya untuk menyelesaikan pekerjaan ku, tapi bukan berarti aku memanfaatkan istriku sendiri. Kamu tidak ingin pulang ke rumah dan aku harus pergi untuk menyelamatkan seseorang. Kedua keinginan bisa terwujud."


"Jika kamu bertanya, kenapa aku tidak pergi meninggalkanmu di villa untuk menyelesaikan pekerjaan. Aku hanya bisa mengatakan, pekerjaan ku yang utama menjagamu. Di sini bukanlah tempat aman karena sekeliling hanya ada hutan dan pesisir pantai. Jangan khawatir karena keamanan sudah terjamin."


"Sekarang tidurlah! Ini bukan permintaan, tapi perintah seorang suami." Al melepaskan tangan Bunga, lalu membimbing sang istri untuk berbaring, kemudian menarik selimut. "Good night, Bunga."


"Om, boleh minta sesuatu?" tanya Bunga mengerjapkan mata, gadis itu berharap suaminya akan memberikan keinginannya.


Al hanya tersenyum dengan tatapan menunggu permintaan sang istri. Akan tetapi, bukannya mengatakan sesuatu. Wanita itu memilih untuk menyentuh keningnya sendiri. Apa maksudnya?


Lima menit kemudian. Keduanya masih saling menenggelamkan diri dalam tatapan mata. Rasanya gemas punya suami tidak peka. Tangan sudah lelah memegang kening. Eh, tetap saja tidak mendapatkan ciuman selamat malam. Pengen banget gigit bibir yang mengembangkan senyuman tipis.


"Om, maju deh." pinta Bunga, membuat Al menaikan alis, tapi tetap melakukan permintaan istrinya.


Al mendekati Bunga tanpa mengalihkan tatapan matanya. Semakin dekat hingga suara hembusan nafas keduanya saling beradu. Mata hazelnut yang menjadi magnet memikat begitu dalam. Tanpa permisi, Bunga melingkarkan kedua tangannya mengunci pergerakan sang suami.


"Om, ajari aku menjadi istrimu. Apa harus aku yang memakan suamiku sendiri? Ide bagus, iya 'kan?"


Absurd dan blak-blakan. Istri nakal, tapi tatapan mata menggoda iman. Siapa yang bisa menahan rasa dag dig dug di hati, jika istri saja seperti kuncup bunga yang akan mekar.


Gleek!


Bagaimana tidak menelan saliva. Ketika istri sendiri bersikap agresif. Sekarang, dia paham apa keinginan Bunga. Tatapan mata menggemaskan dengan bibir manyun. Ntah bagaimana cara memulainya. Tiba-tiba saja sudah ada benda kenyal yang menabrak mencoba menerobos pertahanannya.


Pagutan dengan kelembutan tak terelakkan hingga mengalirkan gelenyar aneh. Al memejamkan mata, kali ini dia membiarkan istrinya memulai malam panas. Kebersamaan pasutri ditemani malam yang dingin. Perlahan tapi pasti akan mencapai peraduan cinta dengan harapan menjadi cinta yang nyata.

__ADS_1


Kehangatan yang dirasakan pasutri itu, berbanding terbalik dengan rasa dingin dan kesepian dari bayi yang mulai kehilangan kesadarannya. Suara tangisan mulai terdengar semakin pelan. Apakah akan ada yang menyelamatkan nyawa anak itu? Di tengah hutan yang lebat ditemani kegelapan.


Sementara beberapa orang sudah mulai berpencar tanpa memperdulikan rasa dingin. Cahaya senter ada dimana-mana. Waktu semakin larut, tapi tidak ada tanda dari orang yang mereka cari. Dua jam kemudian, salah satu anggota berteriak seraya memberikan kode cahaya dengan memantulkan sorot cahaya ke langit.


Dua puluh menit kemudian, semua tim pencarian berkumpul di satu tempat. Di depan mereka ada satu mayat, tapi kondisinya sangat mengenaskan. Dimana banyak sayatan di sekujur tubuh dan setelah dilakukan pemeriksaan. Jari tengah tangan kanan hilang. Melihat dari darah yang masih segar. Sudah pasti mayat itu masih baru.


Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang langsung mengalihkan perhatian tim pencarian. Mereka memberikan jalan agar sang pemimpin bisa melihat mayat itu.


"Periksa area sekitar! Temukan bayinya." Sang pemimpin memberikan perintahnya tanpa peduli dengan rasa penasaran para tim pencarian, saat ini ada yang lebih penting dan harus segera dikerjakan.


Namun, salah satu anak buah merasa tidak mungkin ada bayi. Mayat wanita itu hanya seorang diri, "Bos, wanita ini .... "


"Lakukan saja! Dia tidak sebodoh itu dan pasti bisa menyelamatkan bayinya. Cepat cari!"


Sang pemimpin memberikan perintah sekali lagi. Akan tetapi, kali ini tidak menerima penolakan dengan meninggikan nada suaranya. Mana mungkin wanita pejuang menyerahkan hal paling berharga pada musuh begitu saja. Sungguh tidak mungkin.


Melihat keseriusan sang pemimpin, tidak seorangpun yang berani membantah. Tim pencarian meninggalkan sang pemimpin bersama mayat itu, tapi tidak ada rasa takut dimata pria itu. Tangan yang berselimut sarung tangan khusus mulai memeriksa setia inci dari tubuh si mayat. Dia juga mengambil beberapa foto untuk disimpan sebagai bukti.


Di saat merenung menikmati rasa sakit hati, dari arah kejauhan terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Hembusan angin yang menerpa membawa aroma yang sangat familiar. Langkah tegas yang terdengar bisa mengatakan siapa orang itu, membuat sang pemimpin beranjak dari posisinya.


Lalu, menunggu kehadiran orang yang pasti dalam hitungan kesepuluh muncul dari balik kegelapan malam. Hitungan itu pasti benar karena suara yang terdengar bisa memberitahu dimana posisi dari orang itu.


"Sepuluh .... "


"Sembilan .... "


"Delapan .... "


"Tujuh .... "


"Enam .... "

__ADS_1


"Lima .... "


"Empat .... "


"Tiga .... "


"Dua .... "


"Sa .... "


Wajah dingin dengan mantel hitam memakai kacamata khusus, sepatu boots, sarung tangan kulit. Pria dengan aroma cool muncul tepat pada hitungan terakhir dari sang pemimpin. Langkah tegas dengan aura intimidasi berjalan menghampiri mayat yang tergeletak di atas tanah basah.


"Katrina. Bagaimana dengan Saif. Apa dia aman?"


.


.


.


.


.


...----------------...


Hai reader's tersayang, stay tuned, ya. Jangan lupa jejaknya juga. Meski gak crazy up, othoor tetep up kok, jadi tetaplah bersabar 🤭


Sembari menunggu karya othoor up, boleh deh mampir ke karya temen ku. Kepoin juga, biar kita menularkan semangat. Semua karena seorang penulis tidak bisa maju tanpa support dari kalian 😉


__ADS_1


...----------------...


__ADS_2