Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 152: Karena Gaun


__ADS_3

"Aku sudah menikah, dan memiliki istri siri."


Ucapan itu, membuat Hazel tercambuk semangat baru. Kini, ada tujuan yang harus dia selesaikan. Tatapan mata kosong dengan suara tawa keras menggema memenuhi kamarnya, "Hahahahahaha, akhirnya Aku bisa mendapatkan alasan untuk hidup kembali."


Tok!


Tok!


Tok!


"Zel, buka pintunya." ucapnya lembut tanpa memberikan penekanan suara.


Selembut apapun suara Gio. Hazel tidak peduli, wanita itu tengah menikmati sisa waktu menjadi dirinya yang frustasi. Perlahan, semangat dalam kobaran api untuk balas dendam mulai membakar jiwanya. Waktu berlalu seperti hembusan angin yang menerpa.


Dua hari sebelum acara pernikahan Samuel dan Ocy. Seluruh keluarga sudah berkumpul dan menempati hotel tempat berlangsungnya acara. Berhubung mereka tidak ingin terlalu lelah mondar-mandir dan mengantisipasi drama calon mempelai telat. Maka, seluruh anggota keluarga di boyong menginap di hotel selama tiga hari empat malam.


Hotel Bintang Andhara menjadi pilihan Papa Angkasa. Sementara pihak WO Gemilang yang menghandle setiap acara nanti. Dua hari akan menjadi kebersamaan keluarga dengan serangkaian acara keharmonisan dan sakral. Meski begitu, Sam dan Ocy tetap dalam masa pingitan.


Berhubung beberapa anggota sudah berpasangan. Ocy harus sekamar dengan Nara, sedangkan yang lainnya sudah sekamar bersama pasangan masing-masing. Pagi ini, agenda seluruh keluarga mencoba pakaian untuk acara pertunangan yang akan dilakukan pada malam harinya.


Para wanita sudah berkumpul di ruangan khusus yang menyediakan seluruh gaun rancangan request Ara. Tak beda jauh dari mereka, para pria juga harus ikut menerima kesibukan agar tidak terkena omelan para istri. Namun, ditengah kebahagiaan itu. Al bersama Bunga masih belum menampakkan batang hidungnya.


"Ma, kenapa rasanya sesak ya? Gaunnya kurang nyaman kalau buat duduk." keluh Ara merajuk, membuat Mama Bella melirik sang desainer tajam.


Sementara yang dilirik menggaruk kepalanya. Padahal tidak gatal. Dia lupa, saat ini Nona Muda tengah hamil dan harus membuat rancangan khusus agar bisa nyaman dalam kondisi apapun. Senyuman bersalah yang tersungging di bibir sang desainer, sudah cukup menjelaskan. Wanita itu pasti melupakan hal penting.


Mama Bella membantu Ara melepaskan tali yang ada di samping, lalu terlihat wajah sang menantu kembali normal, "Sudah nyaman? Kalau belum lepaskan saja dulu. Nanti biar dibenarkan, lagi."


"Lebih baik, Ma. Sayang sekali, jadi kelihatan gak cantik, padahal mau kaya itu, Ma." Ara menunjuk ke arah foto model yang terpampang jelas menjadi poster di sebuah majalah yang terbuka di atas meja.


Mama Bella mencoba melihat. Siapa tahu bisa mengabulkan permintaan kecil sang menantu, tetapi seketika tertegun karena foto yang ditunjuk Ara adalah foto Hazel. Mantan menantunya. Tak ingin menimbulkan kecurigaan. Mama Bella berdehem, membuat istri putranya bergegas mencari air putih.

__ADS_1


"Mama, minum dulu. Maaf ya, gara-gara Ara ....,"


Mama Bella meneguk airnya seraya menatap menantunya yang terlalu polos dan baik. Setelah merasa cukup baik, barulah gelas diletakkan ke atas meja. Tiba-tiba, satu gerakan tak terduga membuat gelas yang berisi air setengah gelas tumpah membasahi majalah.


"Mama tidak apa-apa? Sudah biarkan saja, lihat tangan Mama basah." Ara panik, padahal hanya tangan yang basah, "Mba! Kenapa bengong? Buruan atuh, ambilin tisu atau apa gitu."


Kekhawatiran Ara memang berlebihan, tetapi justru menjadi rasa haru yang selama ini dirindukan mama mertuanya. Sedangkan sang desainer harus berusaha mengendalikan diri. Setiap kali berhadapan dengan nona muda. Jantungnya selalu saja bermain lompat jumping.


Mama Bella tersenyum tipis. "Nak, ini cuma basah. Jangan panik. Sekarang kamu harus istirahat, ya. Kinara, kemari!"


Ara menghela nafas karena dia baru tersadar. Memang benar tidak ada luka. Ntah kenapa, sejak hamil. Emosi tidak menentu, bahkan hal sepele saja sudah memicu kepanikan luar biasa. Apalagi, jika tiba-tiba ada yang terluka. Seperti tempo hari, di saat jari Bryant tidak sengaja tergores kaca.


Dia meminta suaminya untuk rujuk ke rumah sakit. Bukannya mengambil P3K untuk mengobati luka yang hanya sepanjang setengah centi. Kehebohan pun selalu mewarnai rumah tangga bersama keluarganya. Sejak hamil, semua orang menjadi over protective.


Memang, dia semakin bertindak ceroboh. Meski sudah berulang kali di ingatkan. Syukurlah, tidak seorangpun merasa terganggu. Apalagi merasa keberatan akibat ulah jahilnya yang seringkali datang tanpa diundang.


Kinara yang baru keluar dari ruang ganti dan kembali berpakaian santai. Berjalan menghampiri Ara dan Mama Bella. "Iya, Nyonya. Ada yang bisa aku bantu?"


Tak rela meninggalkan gaunnya. Yah itu yang saat ini merasuk ke dalam pikiran Ara. Seperti suara hati yang memiliki telepati. Maka Bella hanya menggelengkan kepala. Ketika bibir Ara maju beberapa senti. Justru itu mengingatkan dirinya saat hamil Bryant dulu.


Sadar diri karena tingkah Ara sama persis seperti dirinya. "Nak, pergilah! Kamu bisa memakai gaunnya, tapi lepaskan saat merasa semakin tidak nyaman. Paham?"


"Boleh, Ma?" Ara bertanya dengan kerjapan mata yang menggemaskan, ketika mendapatkan jawaban anggukan kepala. Senyuman manis tersungging, "Ayo, Nara. Kita balik ke kamar, inget ya. Kamu udah janji mau kasih aku sop buah yogurt rasa blueberry."


Setelah mengatakan apa yang dimau dan membuat Kinara menggelengkan kepala pasrah. Ara berjalan menjauh dari semua orang. "Nyonya, permisi dulu. Bu bos sudah menagih janji." pamit Kinara, lalu berjalan mengikuti Ara yang terlihat begitu semangat dan ceria.


Bayangin deh, Ara memakai gaun ala princess dengan desain bahan kebaya Indonesia bercorak bunga. Tetapi, kaki wanita itu berjalan tanpa alas kaki. Jangan dibayangkan, karena itu justru terlihat aneh. Apalagi keduanya berjalan di lorong hotel, bahkan beberapa staf hotel yang tak sengaja berpapasan harus menahan senyum.


Kepergian Ara dan Nara, membuat Mama Bella menatap sang desainer tajam. Wanita itu siap untuk memberikan ultimatum keras. "Kemari! Duduk."


Sang desainer menundukkan kepala dengan langkah kaki berjalan menurut. Suasana ruangan itu berubah menjadi dingin seketika. Ntah apa yang akan terjadi, tapi pasti kesalahannya karena desain yang tidak tepat. Apalagi, nona muda merasa tidak nyaman dengan gaun yang dia berikan. Itu yang ada di pikiran sang desainer.

__ADS_1


Sementara Mama Bella menyambar majalah yang basah, lalu merobek tanpa hati foto Hazel. Kemudian membuat bola dari selembar kertas majalah itu, "Peringatan pertama dan terakhir. Aku tidak keberatan dengan desain yang kamu buat karena itu bisa diperbaiki. Hanya satu yang menjadi masalahku."


Dag.


Dig.


Dug.


Suara detak jantung terdengar cukup keras dari tubuh Sang desainer. Wanita sexy itu bisa merasakan amarah seorang ibu. Sebenarnya apa yang salah? Kenapa harus merobek majalah? Aneh, tapi situasi tegang yang dialaminya masih terus berlanjut.


"Hazel Laurent. Jika kamu masih ingin memiliki bisnis WO. Pastikan, tidak menggunakan apapun yang berkaitan dengan wanita itu. Singkirkan semua yang memiliki label atau bersinggungan dengan wanita malam seperti model tak berakhlak. Paham?!"


Deg!


Apa maksudnya itu? Ada apa dengan Hazel? Bukankah, wanita itu model terkenal dengan banyak prestasi. Akan tetapi, kenapa sorot mata kliennya dipenuhi amarah dan kebencian? Apakah karena masih awam di dunia para pebisnis. Maka, seluk beluk para kliennya jauh lebih besar dan dalam dari yang terlihat?


Prook!


Prook!


Prook!


"Haloo! Apa kamu mendengarkan aku?" tanya Mama Bella setelah bertepuk tangan agar mengembalikan kesadaran sang desainer.


.


.


.


...💕💕💕💕🍃🍃🍃🍃💕💕💕💕...

__ADS_1



__ADS_2