Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 90: KENYATAAN YANG DISEMBUNYIKAN


__ADS_3

"Aku akan menikahi Ocy."


Satu jawaban tanpa keraguan Samuel dengan tatapan mata tenang dan sikap tegas, membuat Papa Angkasa langsung memeluk tubuh dokter muda itu. Rasa bahagia tidak bisa dipungkiri. Setelah semua yang terjadi, akhirnya putra sang sahabat siap menikah. Pelukan itu berbalas saling memberi harapan, dukungan dan tepukan bahu.


Pemandangan yang mengharukan, membuat wanita yang duduk di kursi roda tersenyum dengan rasa syukur di hati. Ntah kenapa, perasaan nya mengatakan kebahagiaan datang mengetuk pintu rumahnya. Hanya satu harapan yang selalu ia panjatkan di setiap tangkupan do'a yaitu keselamatan dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga.


Ya Allah, terimakasih. Sejak Ara menjadi menantu kami, keluarga Putra mulai bersatu disertai kebahagiaan demi kebahagiaan. Rasanya, kami terlepas dari belenggu rasa takut dan putus asa.~batin Mama Bella seraya menghapus air matanya yang membasahi pipi.


"Pa, Ayo! Bukankah kita akan pergi kerumah sakit," Mama Bella terpaksa menyudahi sesi mengharukan itu karena mengingat waktu semakin sempit, dan suaranya mengalihkan perhatian Papa Angkasa dan Samuel.


Kedua pria itu serempak terkekeh kecil. Ternyata mereka larut dalam suasana hingga tidak menyadari keberadaan sang nyonya besar. Namun, kata rumah sakit mengubah ekspresi Samuel. Sontak saja, pria itu berjalan menghampiri Mama Bella dan tanpa permisi memeriksa denyut nadi, suhu tubuh yang ternyata semua normal.


"Semua baik, kenapa ke rumah sakit?" tanya Muel menatap Mama Bella, tapi yang ditatap justru menatap Papa Angkasa.

__ADS_1


Jika keadaan seperti itu, berarti yang bisa menjawab hanya Papa Angkasa. Muel menoleh ke belakang dimana pria paruh baya itu mulai berjalan menghampirinya. Wajah bahagia yang baru saja nampak sudah berganti kecemasan. Pasti ada sesuatu, dan itu bukan hal sepele, tapi apa? Apakah Bryant sudah tahu? Terlebih lagi, saat ini tidak ada paman Al.


Papa Angkasa berdiri di samping Muel, lalu ikut berjongkok di depan sang istri. Tatapan matanya hanya terpatri pada netra mama Bella. Dimana wanita itu menyunggingkan senyuman tulus seraya menganggukkan kepala memberikan izin pada suaminya untuk berkata jujur, pada pria yang kini sudah menjadi putra kedua keluarga Putra.


Muel kebingungan dengan sikap pasutri di depannya, "Bisa katakan! Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Kami akan kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang. Setahun lalu, Bella mengalami kecelakaan saat kami honeymoon di villa Bali. Saat itu, aku langsung membawanya ke rumah sakit terbaik. Dokter mengatakan ada masalah dengan paru-paru istriku, karena keadaan darurat itu. Akhirnya, aku menyetujui untuk operasi."


"Hari ini, pemeriksaan terakhir untuk memastikan proses pemulihan selama setahun ini berhasil atau kamu lebih tahu apa istilah medisnya. Jadi, itu tujuan kami ke rumah sakit. Papa mohon, jangan beritahu siapapun. Apalagi Bryant, masalahnya sudah cukup banyak. Selama aku ada untuk istriku dan istriku ada untukku. Semua akan baik, dan kami bahagia."


"Muel akan ikut kalian ke rumah sakit, ini bukan ancaman atau negoisasi. Jika, Papa dan Mama tidak ingin yang lain tahu. Maka, kalian tidak bisa melarang diriku untuk ikut campur. Ok, sekarang sebaiknya kita masuk dulu. Lihat pakaian sudah basah," Muel berdiri dan berniat untuk membantu untuk mendorong kursi roda Mama Bella, tapi tertahan karena isyarat Papa Mahendra.


Setengah jam berlalu, kini Muel tengah menyetir. Sementara Papa Angkasa dan Mama Bella duduk di kursi belakang. Mereka bertiga pergi ke rumah sakit utama. Dimana rumah sakit itu memiliki fasilitas yang lengkap. Selain itu, para dokter yang bekerja juga dari berbagai negara dan sudah memiliki setiap dokter spesialis ternama.

__ADS_1


Perjalanan selama empat puluh lima menit hanya ada obrolan santai. Sekedar membahas masa lalu yang bisa mengubah suasana mencair, hingga akhirnya mobil memasuki area parkir rumah sakit. Barulah Muel fokus memarkirkan mobil. Untung saja, parkiran begitu banyak tempat yang kosong.


"Pa, nama dokter yang menangani Mama Bella, siapa?" tanya Samuel agar lebih mudah berkoordinasi saat sudah memasuki rumah sakit.


"Namanya Dokter Patel Akashi. Dokter itu berumur seperti Al, yah mungkin. Penampilan klimis dengan pulpen selalu terselip di daun telinga kanan, gaya bicaranya campuran antara Indonesia dan juga bahasa asalnya," Papa Angkasa menjelaskan secara detail seraya membantu sang istri untuk pindah ke kursi roda.


Tentu saja, mereka sudah keluar dari mobil. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju pintu utama rumah sakit. Jarak tempat parkir menuju bangunan di depan sana sekitar lima belas meter. Cukup jauh, meski semua jalan sudah diaspal. Tetap saja, harus sabar dibawah terik matahari yang menyengat. Beberapa menit berlalu, langkah kaki mencapai bawah atap rumah sakit.


"Pa, Ma. Kalian tunggu dulu, aku akan tanya temu janji kita sudah terlewat atau bagaimana...,"


Papa Angkasa mengambil ponselnya, lalu menyerahkan ke Muel, "Hubungi dengan ponselku saja, kami akan tunggu di sini."


Samuel mengangguk, mengingat suasana cukup ramai. Pria itu memilih berjalan ke pojokan dan berhenti di depan papan nama para dokter yang tertera rapi berderet seperti absen para siswa sekolahan. Beginilah, jika ponsel punya orang tua. Tidak ada kata sandi, ataupun sidik jari. Los gitu aja, padahal ia tahu. Meski Papa Angkasa sudah pensiun, tetap saja memiliki pekerjaan sampingan.

__ADS_1


Tanpa menunda waktu, ia menghubungi Dokter Patel Akashi yang ternyata menjadi kontak hubungan terakhir. Suara nada panggilan tersambung, tapi si pemilik ponsel ntah kemana. Beberapa kali mencoba untuk melakukan panggilan, dan hasilnya nihil. Tidak ada jawaban. Jika sudah seperti ini, tidak ada cara lain lagi. Ia harus bertanya pada petugas rumah sakit yang lain.


Namun, disaat ingin beranjak dari posisinya. Tatapan matanya tak sengaja melihat seorang pria dengan wajah yang familiar yang terpantul dari tong sampah stainless di sudut depan sana, "Apa yang dilakukannya di rumah sakit?"


__ADS_2