Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 161: CINTA KAKAK BERADIK


__ADS_3

Almaira adalah putri kandungku." jawab Al tanpa basa basi, membuat Papa Angkasa melotot dan tanpa sadar langsung beranjak dari tempat duduknya. "Ka, tenang. Aku akan jelaskan semuanya, tapi duduklah!"


Bryant ikut beranjak, lalu mengusap lengan sang Papa. Kemudian mengajaknya kembali untuk duduk dengan tenang. Ketika orang terkejut wajar bertindak secara reflek, tetapi keluarga tidak akan meragukan anggota keluarganya sendiri. Kini mereka kembali duduk bersama mencoba mendinginkan pikiran.


Al menjelaskan darimana asal usul Almaira. Dimana, dia mengatakan jika Almaira lahir atas keteledorannya yang bermalam dengan seorang wanita di saat keluar kota setahun yang lalu. Cerita yang disuguhkan memang bukan cerita yang sebenarnya. Akan tetapi, semua itu demi kebaikan sang putri.


Biarkan keluarga menyalahkan dirinya atas kecerobohannya. Namun, setelah malam ini, Almaira akan sah menjadi anggota termuda keluarga Putra. Sementara Bima yang mendengar dongeng dari sang menantu hanya bisa menahan diri agar tidak ikut campur.


Bagaimana bisa semudah itu? Al sepenuhnya menjatuhkan seluruh kesalahan Zack pada dirinya sendiri hanya demi seorang anak yang masih belum dilakukan tes DNA. Ketika mengakui bayi itu sebagai anaknya. Memang termasuk perbuatan mulia, tetapi ketika menjadikan diri sendiri sebagai tempat berdosa. Apakah itu wajar?


Ingin rasanya memberikan pelajaran dan juga meluruskan apa yang tidak benar. Sayangnya tidak bisa. Tangannya terikat akan janji pada sang putri tercinta. Yah, sebelum sekeluarga berangkat ke pesta. Bunga meminta satu hal dan siapa sangka gadis itu hanya ingin papa dan mamanya tidak ikut campur. Apapun yang akan dilakukan oleh Alkan.


Beginilah jadinya, tersiksa menahan rasa geram, tetapi jika di pikirkan lebih matang, lagi. Tindakan Al memang paling efektif. Wajah tampan itu, tidak akan keberatan jika ada bogem mentah yang melayang, lalu mendarat sempurna memberikan tanda kekesalan. Namun, jika jujur.


Bisa jadi, Almaira harus melakukan tes DNA dan keributan lebih jauh lagi tidak bisa dihindari. Tidak salah, ketika Bunga sangat bermimpi memiliki suami seperti Al. Pria dewasa dengan kepintaran yang mampu disembunyikan dari keluarganya sendiri. Bagaimana bisa ada pria seperti itu, ditengah keluarga yang harmonis?


Hatinya hangat, tetapi jiwanya dingin. Sungguh untuk memahami pria satu ini, seseorang harus menyatukan doa dan harapan untuk memiliki ketenangan. Akhirnya, Papa Angkasa hanya bisa menggelengkan kepala. Kenapa keluarganya dipenuhi dengan wanita tak bernama?


Awalnya Sifani, sekarang entah siapa nama dari Almaira. Lalu, putranya sendiri yang harus menikah dengan wanita murahan. Benar-benar menguras emosi dan pikiran. Al yang tahu, sang kakak merasa gagal memberikan didikan. Tetap tidak bisa berkata jujur, kali ini tanggung jawabnya mengalahkan rasa duka di hati.


"Aku tidak akan menyusahkanmu, Ka. Jika Almaira tidak bisa tinggal dirumah kita. Aku akan membawa Bunga dan putri kami ke rumah yang lain. Ini memang kesalahan ku, dan aku akan bertanggung jawab." bujuk Al agar kakaknya mau luluh dan tidak lagi bersikap tegang seperti kue kering yang baru saja keluar dari oven.

__ADS_1


Papa Angkasa masih terdiam, tetapi pria itu mengambil sesuatu dari balik sakunya. Kemudian meletakkan benda yang mengkilap ke atas meja. Ketika tangannya terangkat, semua mata menatap sebuah kalung liontin bunga matahari yang terlihat indah apalagi terkena pantulan cahaya lampu gantung.


"Hadiah pernikahan untuk istrimu. Aku menyiapkan ini dan di balik liontin ada inisial kalian berdua." Papa Angkasa melambaikan tangan pada seorang pelayan, dimana pelayan muda menghampiri meja para pria itu, "Tolong, ambilkan kami sebotol soda ukuran jumbo."


"Baik, Tuan. Permisi." pamit si pelayan, membuat Papa Angkasa mengubah posisi duduknya.


"Kita ini satu keluarga. Apakah ada keluarga yang tinggal terpisah? Yah ada, keluarga yang memang tidak memiliki tempat luas dan terpisah karena jarak. Itu wajar, tapi kamu." Papa Angkasa menunjuk wajah Al, membuat adiknya tertunduk. "Sejak kapan, keluarga kita menjadi terpisah? Pernahkan aku mengusir orang-orang yang aku cintai?"


"Ka, bukan itu ....,"


Papa Angkasa menaruh jarinya ke depan bibir, "Diam! Dengarkan aku. Setelah kedua orang tua kita meninggal. Kakak berusaha untuk membuatmu tidak kehilangan kasih sayang yang selama ini, kita rasakan. Lalu, malam ini dengan mudahnya membicarakan meninggalkan rumah? Apa kamu masih sadar, Al?"


"Pa, Om Al tidak bermaksud seperti itu. Tenang, ya, Pa. Kita coba selesaikan masalah ini baik-baik." bujuk Bryant seraya menatap lembut Papa Angkasa, sedangkan Bima tak bisa menahan diri lagi.


Memang benar. Angkasa selalu berusaha menjadi seorang kakak, ayah, sekaligus ibu. Pria satu itu selalu memberikan cinta kasih untuk membuat Alkan tidak kehilangan kepercayaan diri. Ada masa, dimana duka hati menghancurkan semangat setiap hati insan yang bernyawa.


Dulu, Al hanya pemuda biasa dengan kehidupan mewah dan kasih sayang orang tua, hingga sebuah kecelakaan pesawat terbang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dunia. Pada saat itu, Al terpuruk karena sebelum berita kematian sampai. Justru berita kepergian Sifani menjadi awal dunia yang suram.


Disaat itulah, Angkasa berusaha jungkir balik untuk mengembalikan senyuman seorang Al. Adik yang selalu menjadi alasannya bertahan hidup hingga detik ini, jadi tidak ada yang salah. Ketika Angkasa bersikap tegas dengan semua rasa yang dia miliki.


"Aku bukan Tuhan. Al, kita ini, saudara. Apapun masalahnya, apapun yang akan terjadi nanti. Rumah itu, milik kita bersama. Tidak peduli karena alasan apa. Kakak akan selalu di sisimu. Tangan ku masih sanggup untuk menggenggam tangan adikku yang selalu menjadi kekuatanku." Tegas Papa Angkasa, membuat Alkan beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Pria itu tanpa sungkan memeluk kakaknya. Pelukan yang selalu meredam semua emosi. Bukan maksud untuk menjadikan kelemahan sang kakak untuk menyelesaikan masalahnya, tetapi ini yang terbaik untuk semua orang.


"Kakak yang terbaik. Terima kasih, jadi Almaira resmi menjadi keluarga Putra dengan panggilan nona muda." goda Al mencoba mencairkan suasana, sontak saja membuat Angkasa memukul lengan adiknya sedikit kuat. "Ka, sakit."


"Jangan bikin ulah, lagi." Papa Angkasa meraih kalung dari atas meja, lalu memberikannya ke Al. "Katakan pada Bunga. Segera berikan Almaira adik yang tampan. Iya gak, Bim?"


Hening.


Ternyata yang ditanya malah sibuk melamun tetapi entah apa yang dilamunkan. Sam menoel lengan adik ipar dari Pap Angkasa, "Om, ditanyain tuh. Jangan bilang, Om juga mau anak."


"Mentang-mentang mau nikah. Kamu udah berani sama, Om, ya?" Sindir Bima mencoba mengalihkan perhatian dari inti pertanyaan Angkasa.


Ntah kenapa, wajah dari istri Bryant tiba-tiba saja melintasi imajinasinya. Sesuatu yang terlupakan. Tiba-tiba saja teringat kembali. Ingin mencari tahu, atau setidaknya bertanya, tetapi pada siapa? Orang-orang yang ada di masa lalu, semua sudah tinggal di beda kota. Tanpa sadar. Bima kembali melamun, membuat yang lain saling pandang tak paham.


"Bima!" Panggil Angkasa sedikit keras, sayangnya pria yang mendapatkan seruan itu, tiba-tiba mengusap wajahnya dengan kasar dan tanpa permisi, meninggalkan tempat perkumpulan. Melihat itu, tentu menimbulkan kecurigaan. "Sam, bisa susul Bima? Aku tidak mau, adik iparku mabuk sendirian. Temani saja, tapi kamu jangan ikut minum."


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2