
Knop pintu diputar, tapi pintu tidak terkunci. Langkah kakinya berjalan memasuki kamar yang ternyata sangat sepi. Kemana penghuninya? Bahkan pintu balkon juga tertutup rapat. Itu hanya berarti satu hal. Si pemilik kamar tidak ada ditempat. Wajah yang cemas semakin menegang. Tanpa ini dan itu, ia mengambil ponselnya lalu mendial sebuah nomor.
"Cari adikku sampai ketemu! Bawa dia pulang!" perintah Angkasa pada anak buahnya.
Suasana bahagia di bawah berbanding terbalik dengan perasaan gemuruh di dada menahan emosinya. Pria yang kini terduduk lemas di ranjang adiknya. Bagaimana tidak? Persyaratan sudah disepakati. Bahkan surat pra nikah pun telah siap, dan sekarang. Kemana perginya sang adik? Bagaimana jika yang lain tahu soal ini? Hubungan keluarga yang baik, mungkin bisa langsung terputus.
Tiga puluh menit kemudian.
Seluruh pelayan yang bekerja di rumah keluarga Angkasa duduk rapi di tempat yang sudah siapkan. Sementara keluarga pihak mempelai wanita sudah ada di tempat yang khusus. Bahkan pak penghulu berulang kali melirik jam di pergelangan tangannya.
"Permisi, dimana mempelai prianya? Bisa tolong dipanggilkan?" tanya Pak Penghulu, membuat Bram menganggukkan kepala, lalu meninggalkan kursinya.
Bram berjalan menuju ke dalam rumah karena pernikahan diselenggarakan di tepi kolam renang dengan dekorasi ala pantai. Dimana tirai putih menjuntai dengan untaian bunga mawar putih dan pink tersebar melingkar sepanjang tiang penyangga atap tempat yang dijadikan pengucapan janji suci. Puluhan lilin menyala dalam wadah khusus terapung menghiasi kolam renang.
"Ma, Bunga takut. Bagaimana jika Om Al tidak datang?" bisik Bunga.
Mama Milea mengusap kedua tangan putrinya. Rasa cemas yang dirasakan Bunga, ia pun ikut merasakannya juga. Terlebih sedari tadi tidak ada tanda akan sosok calon menantu yang menjadi cinta putrinya. Bella yang duduk disebelah Milea masih bisa mendengar suara bisikan gadis itu.
Al, dimana kamu? Mba harap kamu tidak melukai hati seorang wanita. Pulanglah, Al. ~batin Bella penuh harap.
Kecemasan dan rasa takut mengubah suasana bahagia menjadi ketegangan. Hingga suara langkah kaki terdengar jelas dari arah dalam, membuat orang-orang yang berkumpul di area kolam renang mengalihkan perhatian mereka. Semakin lama semakin mendekat. Hembusan angin yang menerpa menari bersama untaian tirai putih. Aroma mawar yang segar menyebar.
"Dia datang....,"
Bunga bangun, lalu berjalan meninggalkan tempatnya.
"Nak! Mau kemana?" Milea berusaha memanggil, tetapi gadis itu tetap melangkah maju dengan senyuman manis tersungging di bibir cherry nya.
__ADS_1
Tap!
Langkah mempelai wanita terhenti. Disaat siluet tubuh familiar mulai menampakan diri. Bukan hanya Bunga, tapi semua yang menyaksikan ikut terpana dengan kehadiran pria tampan yang kini terbalut tuxedo hitam. Sebuket bunga lili putih juga tergenggam di tangan kanan pria itu. Benar-benar mengeluarkan aura kharisma.
Ia berjalan menghampiri mempelai wanita. Langkah kaki yang pasti tanpa keraguan, hanya saja ekspresi wajahnya sangat dingin. Pria itu berhenti di depan Bunga dengan jarak satu meter setengah. "WILL YOU MARRY ME, BUNGA ANGELA?"
Deg!
Semua orang tertegun dengan suara lantang yang melamar Bunga. Bunga lili putih terulur, membuat gadis itu tak mampu lagi berkata. Tangannya gemetar menerima pemberian pertama pujaan hatinya. Hari yang tidak akan pernah terlupakan. Tidak perlu bicara soal cinta. Cara Alkan sudah meluluhkan dunianya.
"YES!" Bunga langsung memeluk pria di depannya dengan lelehan air mata haru.
Tidak ada kata yang bisa mewakili hari bahagianya. Suara tepuk tangan mengiringi persetujuan gadis itu, Alkan melepaskan pelukan Bunga. Kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah calon istrinya. "Ayo, sudah waktunya pernikahan dilakukan."
"I love you, Om." Bunga menerima uluran tangan Alkan.
Kedua mempelai berjalan berdampingan menuju kursi pelaminan. Dimana pak Penghulu ikut menangis melihat semuanya. Sementara di belakang mempelai. Tepatnya di depan pintu kaca. Dua pria saling memandang, tatapan tercengang melihat sebuah keajaiban. Emosi yang menjadi gunung langsung hancur berkeping-keping.
Angkasa hanya bisa menahan nafas. "Kita urus dulu pernikahan. Aku tahu dibalik tindakan Al, pasti ada alasannya. Ayo!"
"Aku titipkan putriku padamu. Jangan sampai....,"
"Adikku bukan bajing@n. Bunga akan mendapatkan kasih sayang dari kami semua. Kalian boleh tinggal disini juga, kalau mau!" Angkasa tak rela jika ada yang meragukan karakter Alkan.
Kepergian Angkasa yang berjalan terlebih dulu, membuat Bram menyadari akan kesalahannya. "Semoga ini jalan terbaik putriku."
Semua orang berkumpul bersama, dan menempati tempat masing-masing. Milea duduk bersebelahan dengan Bella dan Angkasa, sedangkan Bram sudah duduk di sebelah pak Penghulu. Di depan keduanya dengan penghalang meja kedua mempelai sudah siap.
__ADS_1
"Silahkan dimulai!" titah Alkan.
Pak Penghulu memulai acara dengan membaca doa, lalu dilanjutkan dengan menasehati kedua calon pengantin. Setelah itu barulah mempersilahkan Bram untuk melakukan kewajiban seorang ayah menjadi wali nikah putri tunggalnya.
"Al, sebelum aku serahkan putriku. Boleh sebagai seorang ayah, aku meminta sebuah permainan?" ucap Bram menatap pria dewasa pilihan putrinya sendiri.
"Silahkan!" Jawab Al.
"Perbedaan usia kalian sangatlah jauh. Dari segi kedewasaan, aku percaya kamu lebih dewasa. Aku hanya ingin kamu membimbing putriku ke jalan yang benar. Ajari dia ketika tidak memahami apapun. Maafkan kelalaiannya ketika melakukan kesalahan. Tegurlah dengan lisan, bukan tangan. Tanggungjawab ku tidak akan pernah berakhir, tapi setelah menikah. Semua berpindah di pundakmu. Jagalah putriku, cintai dia sebagaimana mestinya." Ucap Bram menitikkan air mata.
Alkan mengambil kertas yang bertuliskan perjanjian pra nikah. Perjanjian itu masih blum ditandatangani. Semua yang menatap tindakannya mengalami ketegangan, tapi tidak dengan Bunga. Ia siap segala resikonya. Apapun yang terjadi, inilah pilihan yang terbaik.
"Berikan! Aku akan tanda tangan." pinta Bunga mengulurkan tangannya.
"Pernikahan bukanlah sebuah kesepakatan. Aku mengubah keputusan ku....,"
Deg!
Tangan bunga langsung terkulai lemas mendengar ucapan Al yang masih belum usai. Hantaman keras membuat pandangannya menghilang. Semuanya berubah menjadi gelap.
"BUNGA....,"
...----------------...
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Kenapa nulis part ini nangis 🤧
__ADS_1
Jangan ikutan nangis ya, 🤧
Dah mau lanjut nulis, aku gak sanggup lanjut ðŸ˜ðŸ˜