
Darren hanya tersenyum tipis seraya mengusap kepala Ara. Tatapan mata keduanya, tidak saling memandang, namun saling menatap matahari tenggelam yang kian bersemu jingga. Indah, mengagumkan. "Bagaimana harimu? Apa ada cerita baru untuk malam ini? Aku tidak sabar untuk mendengarkan."
"Cerita? Ka Tama tahu sendiri, aku hanya dirumah, berjalan di kebun, dan ngobrol bareng Bi Inah, dan lainnya sambil bikin lutisan. Jadi, bagaimana dengan kakak? Apa dikantor semua lancar."
Pria itu terus menyunggingkan senyum, rasa lelah di tubuhnya tak lagi dirasakan. Setiap kali melihat Ara semakin sehat dan stabil emosinya. Seluruh beban hidup menghilang begitu saja. Dunia lebih baik, meski kehidupannya tengah mengalami perubahan drastis. Keuangan yang perlahan menurun, membuat Darren harus bekerja keras.
"Aku mandi dulu. Kamu tutup jendela trus siap-siap sholat. Aku akan datang tepat waktu. Kita bisa sholat berjamaah. Ok." Ucap Darren beranjak dari tempatnya, membuat Ara melakukan permintaan pria yang telah memberikan perlindungan dan tempat bernaung.
Satu minggu yang lalu. Ketika Ara pulang ke Villa milik Darren. Berita akan keguguran masih tersimpan rapat, tapi ketika dokter datang untuk memeriksa. Disaat itulah, kebenaran itu menjadi ledakan emosi yang luar biasa, bahkan Darren hampir kewalahan karena ia mencoba menenggelamkan diri di kolam renang.
Bukan untuk bunuh diri, tetapi hanya untuk meredam rasa kecewa, luka dan setiap sisa rasa dari masa lalunya. Setiap kenangan buruk yang berubah menjadi cambuk. Setiap kenangan manis yang menjadi sesapan rindu. Sungguh tidak ada lagi kata yang tersisa.
Setengah jam kemudian. Dari lantai bawah terdengar suara adzan yang merdu. Suara yang selalu menggema menyejukkan hati, Ara segera memakai mukena, lalu bergabung dengan yang lain. Dimana seluruh penghuni Villa berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah. Darren yang menjadi imam mulai melantunkan bacaannya.
Sholat berjamaah yang khusyuk, membuat suasana ruangan itu begitu damai dengan laungan lantunan ayat suci Al-Quran. Setelah menunaikan ibadah, akhirnya terdengar ucapan salam dari sang imam. Para makmum terus mengikuti hingga bacaan doa mengakhiri kebersamaan mereka. Satu persatu keluar meninggalkan mushola, namun Ara masih terdiam dengan kedua tangan menengadah.
__ADS_1
Wanita itu terus memanjatkan doa, tetapi hanya dia dan Allah yang tahu. Setelah menunggu beberapa saat, Darren yang menatap Ara dengan tatapan lembut. Lalu menggeser posisinya, kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi wanita itu. "Ayra, apa kamu tidak bahagia bersama ku dan tinggal di Villa?"
"Apa ada diantara kami yang menyakitimu, hingga air mata berharga jatuh begitu deras membasahi pipi ....,"
"Bukan itu, Ka." Ara menghela nafas, ia merasa selama ini terlalu jauh dari Allah. Hubungan pernikahan yang ntah kini disebut apa? Sesak yang semakin menghantam jiwa. Tak ayal, seluruh emosi selalu terombang-ambing bagaikan kapal terhempas ombak lautan. "Apa aku terlalu kotor, ya, Ka? Aku....,"
Jujur, hatinya tak sanggup untuk mengikhlaskan. Pernikahan yang tanpa kejelasan, ditambah ia kehilangan calon buah hatinya. Sakitnya seperti berlipat-lipat ganda, bahkan lebih sakit dari pengkhianatan sang mantan suami. Darren mengalihkan tangannya mengusap kepala Ara yang tertutup balutan mukena.
"Sesulit apapun cobaan hidup. Ayra ku, wanita yang tangguh dengan pintu maaf yang terbuka lebar. Aku tahu, ikhlas itu mudah dikatakan, tapi apakah rasa sakit yang kamu pendam menjadi kedamaian?"
Darren menatap wanitanya dengan tatapan meneduhkan, direngkuhnya dagu Ara. Kini tatapan mata keduanya saling terpaut, sesaat saling menenggelamkan diri hingga Ara menyudahi dengan menundukkan pandangan. Dia sadar diri, saat ini status masih menjadi istri pria lain.
Nasehat itu, menjadi penyejuk hatinya. Darren begitu dewasa dan selalu mencoba yang terbaik agar ia tetap berdiri di kakinya sendiri. Namun, bagaimana reaksinya nanti, ketika mengetahui jika wanita yang selalu menjadi pujaan hati telah memiliki seorang suami dan menjadikannya sebagai istri siri.
Mau, tak mau. Ara harus memperjelas keadaan agar tidak menjadi kesalahpahaman. Perlahan tangan yang terus memegang dagunya, dilepaskannya. "Ka, Aku akan berterus terang, tapi sebaiknya kita makan malam dulu. Ka Tama pasti lelah setelah kerja seharian."
__ADS_1
Tidak ada penolakan. Keduanya keluar dari mushola bersamaan. Begitu juga dengan acara makan malam yang selalu di penuhi ketenangan. Waktu hanya berlalu tanpa ada perbincangan serius hingga pada akhirnya makan malam singkat itu berakhir. Ara membantu Bi Inah membereskan meja makan. Setelah semua selesai, barulah membuat kopi untuk dibawa keruangan kerja Darren.
Rutinitas yang dia lakukan selama beberapa malam. Namun, di sudut hati terdalamnya selalu mengingat Bryant yang biasa ia layani sebagai seorang istri. Jangan salah paham. Meskipun dia membuat kopi untuk Darren. Perasaan itu untuk adik kepada kakaknya. Sadar diri sebagai istri seseorang akan selalu terpatri di dalam ingatan Ara.
Wanita itu mengetuk pintu ruangan kaca yang ada di sisi kanan tangga dengan nampan mini ditangan kirinya. "Ka Tama. Izin masuk, ya."
"Masuk aja, Ayra. Pintu gak dikunci." sahut Darren membiarkan Ara masuk.
Aroma kopi yang menggoda mengalihkan perhatiannya. Padahal ia tengah memeriksa file penting untuk melanjutkan bisnis keluarganya. Tetap saja tidak akan bisa meloloskan diri dari yang namanya kopi. Apalagi yang membuatkan kopi adalah wanita pujaan hati yang selalu menjadi semangat hidupnya.
Asap putih yang mengepul menandakan kopi itu diseduh dengan air yang baru saja mendidih. Darren menutup laptop, lalu memberikan ruang diatas meja agar Ara meletakkan kopi di depannya. "Terima kasih, Cantik. Boleh dicoba?"
"Silahkan dicoba, Abang. Awas panas, tiup dulu." balas Ara terkekeh pelan karena rayuan tanpa madu dari Darren.
Darren meniup kopi, perlahan-lahan diseruput. Cita rasa takaran yang selalu sama. Rasa manis berpadu pahit menyatu dengan aroma memabukkan yang selalu menjadi candu para pecinta kopi. "Delicious, kenapa kamu berdiri trus? Duduklah. Aku siap menjadi pendengar yang baik."
__ADS_1
Tatapan mata Darren tertuju pada Ara, membuat wanita itu menundukkan pandangan. Lalu menarik kursi di depannya. Kemudian duduk tanpa ingin menatap pria yang terus saja menatapnya. Kedua tangan saling bertautan, bingung ingin mulai dari mana. Apakah tentang ia dan mantan suami, atau tentang ia dan suami sirinya?
Ketika sudah merasa dititik puncak dari dilema hatinya. Ara menghela nafas panjang, "Ka Tama, sebenarnya Aku hanyalah istri siri dari seseorang. Aku bukan wanita baik, seperti yang kakak pikirkan."