Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 39: CINTAKU TANPA SYARAT


__ADS_3

"Bunga, aku bisa menyembunyikan semua ini darimu. Tetapi sebuah hubungan tidak baik didasari kebohongan. Maaf, aku bukan pria yang pantas untukmu. Jika mungkin, pilihlah seseorang yang bisa menjadi pasangan ideal mu."


"Sudah?" tanya Bunga menatap Alkan serius.


Kenapa firasat ku mengatakan gadis ini tidak akan menyerah. Tuhan bantu aku agar Bunga sadar.~batin Alkan membalas tatapan mata Bunga.


"Om, diam saja. Artinya sudah." Bunga melangkah mendekati pria yang selama ini menjadi lelaki impiannya. "Sekarang giliran Om mendengarkan aku."


"Aku, mencintai Om tanpa ada syarat. Jangankan karena masa lalu. Dunia mengatakan keburukan tentang Om pun, aku tidak akan terpengaruh. Asal Om tahu, selama bertahun-tahun aku menjadi bayangan di setiap langkahmu. Apakah tidak sekalipun, Om berpikir tentang pengagum setia yang selalu memberikan hadiah dan dukungan selama ini?" Bunga semakin mendekat, hingga tak menyisakan jarak diantara keduanya.


Alkan tercengang dengan penuturan gadis di depannya. Apakah mungkin? Sosok yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun dengan hadiah pertama selama bertahun-tahun adalah Bunga? Apakah mungkin juga, surat-surat yang menumpuk di satu tempat dari monster kecilnya? Bagaimana bisa?


Tatapan mata yang memiliki pertanyaan dari Alkan, membuat Bunga menangkup wajah prianya. "Yah, itu aku. Aku-lah yang selalu menunggu dengan setia. Berharap suatu saat nanti, Om menyadari kehadiran ku. Sayangnya selama penantian, yang kudapat hanya sikap seorang ayah untuk putrinya. Sakit bukan? Sifani mungkin cinta pertama dan masih menduduki tahta di hati Om, tapi akan kupastikan. Di Masa depan hanya ada namaku, Bunga milik Alkan."


"Kenapa kamu begitu keras kepala?" tanya Alkan menghela nafas panjang.


"Om boleh menganggap aku keras kepala atau apapun itu, tapi aku tidak akan pernah menyia-nyiakan sebuah kesempatan. Aku tidak mempermasalahkan semua syarat yang akan dijadikan nikah pra kontrak. Bagiku, selama bisa memberikan support dan selalu disisi Om. Itu suda cukup. Jadi, aku tunggu om di depan penghulu." Bunga tersenyum, lalu melepaskan tangannya.

__ADS_1


Gadis itu berjalan menjauh dari pujaan hatinya. Tidak ada sikap kekanak-kanakan. Bahkan kedewasaannya, membuat seorang Alkan terdiam. Tidak ada kata lagi. Tekad dan keputusan Bunga sudah tidak bisa diganggu gugat. Suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali mengembalikan kesadaran pria dewasa itu.


Alkan terdiam dan hanya berjalan menghampiri ranjang, lalu merebahkan diri menatap langit kamarnya. Bagaimana sekarang? Syaratnya pun tidak menjadi sebuah pembatalan. Apalagi yang bisa ia lakukan? Sekarang mau tidak mau dirinya harus menepati janji, atau semua kebenaran dan prinsip hidupnya tidak lagi memiliki arti.


Dua jam berlalu.


Rumah mewah yang biasanya sepi, tiba-tiba saja dipenuhi keramaian. Meskipun tidak seperti pasar malam, tetap saja pemandangan saat ini cukup menjadi hal baru. Bukan para tamu undangan. Beberapa orang yang sibuk mondar-mandir selama satu jam terakhir membuat dekorasi sederhana untuk acara pernikahan dadakan. Sementara di dalam kamar. Mempelai wanita yang menyinari seluruh rumah dengan kebahagiaan baru saja selesai dirias. Tentu saja ditemani sang mama tercinta.


"Nak, ayo mama bantu menggantikan pakaianmu!" ajak Mama Milea dengan kode pada semua perias untuk meninggalkan kamar tamu.


Bunga menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin di depannya. Senyuman yang merekah terbalut lapisan pewarna merah cherry dengan make tipis, membuat wajahnya cantik natural. Mata hazelnut yang berbinar semakin menambah kecantikannya.


Mama Milea memegang kedua bahu putrinya, lalu tersenyum. "Tenang, Sayang. Seorang pria sejati tidak akan mengingkari janjinya. Al pasti akan datang, tapi sebelum itu. Cobalah panggil calon suamimu dengan MAS!"


Nasehat mamanya seketika menghadirkan rona merah di pipi gadis itu, "Mas Al...,"


"Ekhem! Udah main panggil mas aja nih?" goda seseorang yang baru saja memasuki kamar tamu. "Nak, kenapa blum ganti baju? Mama pasti ngajarin kamu yang bukan....,"

__ADS_1


"Papa mau tidur di sofa atau di kamar mandi?" sela Mama Milea dengan bibir mencebik.


Bram meringis seraya memegang kedua telinganya. "Ampun, Ratu ku. Canda kok, iya kan, Nak?!"


"Ma, minta saja papa menginap di rumah tetangga. Hehe....,"


"Sudah-sudah! Papa keluar dulu, beri mama waktu dua puluh menit buat siapin putri kita." Mama Milea mengusir suaminya, membuat pria yang baru saja masuk harus keluar kamar lagi.


Meninggalkan persiapan Bunga yang sebentar lagi siap turun ke bawah melakukan pernikahan. Di lain kamar justru masih sunyi senyap. Pria yang seharusnya mengucapkan janji suci tidak nampak dimanapun. Ranjang yang kosong, tidak ada laptop yang menyala, atau secangkir kopi di meja. Ntah dimana pria itu kini berada?


Tok!


Tok!


Tok!


"Al! Ayolah, keluar!" suara panggilan dari luar pasti sudah diliputi kecemasan. "Al!"

__ADS_1


Knop pintu diputar, tapi pintu tidak terkunci. Langkah kakinya berjalan memasuki kamar yang ternyata sangat sepi. Kemana penghuninya? Bahkan pintu balkon juga tertutup rapat. Itu hanya berarti satu hal. Si pemilik kamar tidak ada ditempat. Wajah yang cemas semakin menegang. Tanpa ini dan itu, ia mengambil ponselnya lalu mendial sebuah nomor.


"Cari adikku sampai ketemu! Bawa dia pulang!"


__ADS_2