Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 104: CERAMAH SEORANG SUAMI


__ADS_3

Apapun yang wanita itu pikirkan. Dia hanya berpikir seperti apa yang diinginkan. Akan tetapi, pria yang diharapkan untuk menoleh sudah menyadari semua perubahan itu, "Mau sampai kapan, kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu, tapi tatapan matamu menjelaskan banyak hal. Apakah kamu melupakan ucapanku yang terakhir. Kemarilah! Kita bisa duduk bersama dan membicarakan apapun yang menjadi isi hati dan pikiranmu."


Tatapan mata yang hanya melalui pantulan cermin, membuat pasutri itu diam dengan saling menatap. Tidak ada sorot mata marah ataupun intimidasi dari pria itu. Sementara tatapan sang istri terlihat sendu dengan linangan air mata yang masih ditahan. Jujur saja, bukan maksud dia untuk pergi begitu lama tanpa memberikan kabar. Namun, kebahagiaan keluarga jauh lebih penting dari kebahagiaan dirinya sendiri. Meski kini, ia harus berusaha untuk membujuk wanita yang menjadi pendamping hidupnya.


Ada rasa bersalah karena meninggalkan istri yang baru beberapa hari ini dinikahi. Akan tetapi, semua itu harus dilakukan. Meskipun kini ia harus berusaha menunaikan kewajiban seorang suami, agar sang istri mau kembali mendengarkan penjelasannya dengan baik. Iya menggeser posisi tubuh, lalu berjalan menghampiri sang istri yang mengalihkan pandangan. Tanpa permisi, direngkuhnya dagu panjang wanita yang kini berhadapan dengannya.


"Apa kamu masih marah denganku atau kamu masih berpikir, bahwa aku selingkuh dengan mantan kekasihku?" tanya Sang suami mencoba bersikap tenang dan berkata dengan nada lembut.


Pertanyaan yang tepat sasaran dan membuat sang istri menggelengkan kepala. Meski di hati wanita itu mengangguk. Akan tetapi, ia tak ingin memperpanjang masalah. Tatapan mata berselimut keraguan yang terpancar dari sorot mata Bunga, membuat Al tidak habis pikiran. Memang benar, dia tidak ada di rumah, bahkan tidak bisa memberikan kebahagiaan ataupun sekedar perhatian. Situasi yang menegangkan, hanya bisa menghela nafas sejenak agar emosinya kembali stabil.


"Bunga, apakah kamu ingin menjadi seorang istri yang baik?" Al bertanya, dan pertanyaan pria itu membuat sang istri langsung membalas tatapan matanya, "Bersikaplah seperti yang seharusnya. Jadilah dirimu sendiri. Jujur dari hati dan juga lisan. Aku tidak akan pernah merasa keberatan dengan apapun yang kamu katakan. Jika kamu marah, lampiaskan padaku. Jika kamu sedih, katakan padaku atau peluk saja aku. Jika kamu tidak merasa nyaman, mengeluhlah padaku. Aku ini suamimu."


"Hubungan ini tidak akan berhasil, jika dari satu sisi saja. Aku hanya berusaha untuk bersikap jujur dan membuat kamu paham. Bahwa kita adalah satu. Hubungan ini, tidak satu menjadi dua bagian. Sejak awal, kamu tahu. Jika aku bukan hanya milikmu, tapi juga milik keluargaku. Begitu juga dengan dirimu. Memang benar, aku sangat sibuk di luar sana untuk melakukan banyak pekerjaan. Akan tetapi, kamu berhak memarahiku atau bahkan menghukumku. Jika memang, aku tidak bisa membuatmu bahagia."

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakan apa makna cinta. Apalagi mengajarkan arti dari cinta itu sendiri. Namun, percayalah aku akan berusaha untuk menjadi suami yang bisa membuat hubungan ini tetap dalam keadaan normal dan sehat. Sekarang, katakan padaku. Dimana Bunga yang terbiasa membuat keonaran? Di mana gadis yang selalu ceria itu menghilang? Apa karena pernikahan ini, membuat dirimu terbelenggu?"


"Bunga Alkan Putra. Kamu mendengarku? Aku tidak suka dengan diammu. Kali ini, kamu memaksaku untuk berbicara panjang kali lebar. Apa yang kamu inginkan? Tatapan mata sendu, bibir terkunci rapat, garis ketegangan. Sampai kapan, hubungan kita akan stuck di tempat yang sama. Terakhir kali, aku mengatakan kebenaran, tapi kamu tidak mau mendengarkan sampai tuntas."


Alkan terdiam sesaat seraya menghirup udara, lalu melepaskan secara perlahan. Hanya itu yang bisa menetralkan perasaan di hatinya, tangan yang ia gunakan untuk memegang dagu sang istri. Dilepas, kemudian melangkahkan kaki berjalan menuju jendela kamarnya. Sementara Bunga masih diam membisu dan tak ingin menyela atau mengeluhkan apapun. Kali ini, ia masih mempersiapkan diri untuk mendengarkan kemungkinan terburuk dari penjelasan sang suami.


"Kamu berpikir, aku kembali menemui Sifani. Yah, aku menemui wanita yang pernah menjadi pujaan hatiku. Rasanya pasti sakit mendengar kenyataan ini, tapi apa kamu tahu...," Al menjeda ucapannya, jujur saja hati dan pikiran masih tidak siap untuk mengatakan kebenaran yang menggoreskan luka di hatinya, "Wanita yang membuatmu cemburu telah tiada. Aku mengunjungi peristirahatan terakhir dari cinta pertamaku. Jika kamu masih memiliki keraguan, ayo, kita bisa melihat secara langsung."


"Bunga, aku akan memberikan waktu satu minggu untukmu. Pikirkan baik-baik tentang hubungan kita. Jangan menganggap aku melakukan ini karena tidak berniat mempertahankan hubungan pernikahan kita. Setiap janjiku, pasti aku tepati. Akan tetapi, apalah arti janji? Ketika orang yang ingin aku genggam tangannya, tidak bisa memberikan kepercayaan padaku."


Al berbalik, lalu kembali berjalan menghampiri sang istri. Sekali lagi, ia tatap mata Bunga, lalu menyunggingkan senyuman yang tulus, "Aku selalu disini, dan tidak akan pergi kemanapun. Gunakan waktumu selama satu minggu dengan baik. Sementara itu, aku akan menyelesaikan masalah rumah tangga Bryant. Benar, kamu tidak salah dengar. Saat ini, fokus ku memang pada Bryant dan Hazel."


Al menyudahi ceramahnya. Pria itu berniat untuk meninggalkan sang istri agar bisa berpikir dengan tenang. Namun, ketika ingin membalikkan badan. Tiba-tiba, Bunga menghamburkan diri memeluknya. Sontak saja, gerakannya tertahan, "Aku minta maaf, ini memang salahku. Seharusnya sejak awal tidak meragukanmu. Jangan pergi, tetaplah disini. Biarkan rasa rinduku terbalaskan dengan dekapan hangat...,"

__ADS_1


Bunga tak mampu melanjutkan setiap kata yang terangkai di dalam benaknya. Semua tak bisa diutarakan dan yang tersisa hanya isakan tangis dengan perasaan bersalah bercampur kerinduan seorang istri. Al bisa merasakan gemetar tubuh wanitanya. Melihat situasi kembali tenang dan membaik, pria itu membalas pelukan sang istri seraya mengusap kepala wanita itu. Satu kata yang bisa diucapkan. Alhamdulillah.


Kebersamaan yang mengakhiri kesalahpahaman di antara suami istri menjadi momen yang membahagiakan. Pasutri itu tengah menata hati untuk mempertahankan ikatan rumah tangga yang masih seumur tauge. Kenapa begitu? Yah, karena kedua insan itu baru saja menikah dan belum ada hitungan berbulan-bulan. Apalagi tahun, kalau seumur jagung. Nanti udah cukup mengenal kebiasaan sehari-hari. Iya gak? Iya in, ya, biar yang nulis seneng.


...----------------...


...****************...


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭



...****************...

__ADS_1


__ADS_2