Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 97: RESMI BERCERAI


__ADS_3

Sungguh, kamu wanita yang baik hati. Semoga, abang segera mengakhiri hubungannya dengan Hazel. Aku berharap keluarga ini tetap mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan maaf darimu karena telah melakukan penipuan.~batin Bunga, karena ia tahu semua cerita tentang awal mula pernikahan Ara dan Bryant.


Kebersamaan Ara dan Bunga layaknya saudara dengan cinta kasih tulus. Namun, hati dan pikiran. Tetaplah, tidak seorangpun akan tahu. Termasuk isi pikiran dari seorang pria yang menggenggam selembar amplop coklat. Pria itu duduk di sofa seraya menatap pintu masuk rumahnya. Tatapan mata bengis dengan gemeretak suara gigi menahan geram dan marah, hingga pintu terbuka perlahan. Dimana seorang wanita masuk dalam keadaan setengah sadar.


"Baru pulang?" tanya pria itu, suaranya cukup keras hingga menggema di ruangan tamu.


Langkah kaki berjalan menghampiri suaminya, tanpa wanita itu sadari bagaimana suasana hati pria yang selama beberapa waktu menjadi pasangan hidupnya, "Mas, tumben kamu dirumah. Apa sudah bosan mencari mantan istrimu, atau tiba-tiba, kepalamu kejedot pintu. Trus inget pulang."


Terserah mau bicara omong kosong sebanyak apa. Saat ini, rasa di hatinya sudah lenyap untuk wanita yang pernah sangat dia cintai. Kehampaan di hati tidak bisa dilupakan. Wanita itu, memang bisa memuaskan saat melakukan pergulatan di atas ranjang, tapi tidak dengan melakukan kewajiban seorang istri yang lainnya. Jangankan membiarkan makanan, kerjaan setiap hari malah keluyuran.


Amplop coklat di tangan, dilemparkan ke atas meja. Tepat, di saat istrinya berdiri di hadapannya, "Anggun Maulana, mulai hari ini, kita resmi bercerai. Tidak ada hubungan lagi, dan jangan harap kamu akan tinggal di rumah ini. Jadi, bereskan semua barangmu, dan pergi dari rumahku!"


Pria itu adalah Akbar, sang mantan suami Ara. Setelah beberapa waktu berusaha mencari mantan istri, dia justru dikejutkan dengan kenyataan pahit. Dimana Anggun sering bermain belakang. Jika boleh jujur, rasanya sakit dikhianati. Mungkin itu karma, tapi apapun itu. Akan lebih baik mengakhiri hubungan palsu yang masih menjerat seperti ikatan tali tambang.


Maka dari itu, dia langsung mengajukan perceraian dan dengan bukti konkrit perselingkuhan sang istri. Proses menjadi lebih cepat. Kenapa Anggun tidak tahu? Bagaimana bisa tahu, jika wanita itu pergi pagi, lalu pulang sesuka hati. Andaikan pulang, pasti hanya untuk meminta jatah uang saja. Hari ini, menjadi akhir dan awal kehidupan seorang Akbar Wijaya.


Namun, bagi Anggun. Hari ini adalah hari kecelakaan. Pasti ada yang salah. Bagaimana bisa, pria yang rela melakukan segalanya hanya atas nama cinta. Tiba-tiba, melemparkan surat perpisahan. Tidak. Pasti hanya mimpi. Mana mungkin, wanita cantik dengan keterampilan ranjang memuaskan terasingkan seperti debu jalanan. Pasti telinganya bermasalah.


Tingkah Anggun yang sibuk menatap amplop coklat seraya memukul telinga, membuat Akbar memutar bola matanya jengah, "ANGGUN, KELUAR DARI RUMAHKU!"

__ADS_1


Deg!


Degupan jantung seakan terhantam palu, tiba-tiba telinganya ikut berdengung. Apa barusan, Akbar berteriak mengusirnya? Tidak mungkin, tapi kenapa tatapan mata pria itu semakin tajam dengan sorot jijik. Apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa bisa sejauh ini? Pikiran tidak bisa mencerna apapun. Semua terasa seperti mimpi, hingga lamunan buyar karena ada tangan yang menarik lengannya.


"Akbar, apa kamu sudah gila!" seru Anggun seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan Akbar yang menyakiti tangannya, tapi cengkraman itu terlalu erat.


Akbar menarik tangan Anggun, lalu di hempaskan keluar rumah, kemudian mengangkat tangan menunjuk muka sang mantan istri dengan tatapan jijik, "Jangan kembali, kamu bukan istriku lagi. Temui saja pria simpananmu, oh ya, satu lagi. Rumah ini, tidak lagi atas namamu."


Rasa shock yang dialami Anggun belum berakhir, hingga suara pintu rumah tertutup dengan bantingan keras terdengar menyentak kesadarannya hingga kembali pulih. Seketika wajah bodoh berubah menjadi amarah. Bagaimana bisa, dia dicampakkan. Apa kurangnya selama ini? Kini yang tersisa hanya suara jeritan yang membuat beberapa warga berhenti dan menoleh ke arahnya.


Anggun hanya menatap pintu rumah di depannya dengan nanar. Rumah yang menjadi bukti, jika dia lebih baik dan unggul dari Ayesha Ramadhani. Akan tetapi, hari ini, semua usaha demi menjadi yang terbaik hancur tidak berbekas. Pernikahan pun sudah usai. Lalu, apalagi yang bisa dibanggakan? Memang benar, hati Ara sudah bisa dipatahkan, tapi kenapa hatinya juga ikut patah.


Bisik-bisik para tetangga hanya menjadi angin lalu. Kini Anggun menyudahi kebodohannya dan memilih meninggalkan tempat tinggal yang memberikan kesenangan dunia. Sementara di kamar lantai atas. Akbar terduduk di sudut ruangan dengan menyandarkan tubuhnya ke tepi ranjang. Sebuah bingkai foto tergenggam di tangan kanan dan sebotol wine di tangan kiri. Perpaduan yang memabukkan.


"Ara, namamu kembali hadir dalam ingatanku. Aku pikir, meninggalkanmu adalah yang terbaik dan kebahagiaan nyata ada di dalam Anggun istriku," Akbar meneguk wine, lalu kembali menatap foto mantan istri pertamanya, "Maaf, tolong kembali dan kita bisa mulai semua dari awal. Aku janji akan menjadi suami yang baik dan memberikan hak mu."


Akbar menikmati rasa penyesalan dengan pikiran kalut. Pria itu melepaskan kedua istri hanya demi rasa ego nya sendiri. Sebagai seorang pria, bukannya membimbing agar istri kembali ke jalan yang benar. Justru main talak tanpa perasaan. Tanpa dia sadari, tindakannya sama seperti seorang pecundang. Meninggalkan kegalauan dan imaginasi pria tak berakal.


Suara pukulan demi pukulan terdengar menggema di sebuah ruangan ukuran dua meter kali tiga meter. Ruangan itu adalah ruangan khusus. Ntah berapa kali bogeman mentah dihadiahkan pada tawanan. Namun, tetap saja tidak ada sepatah kata pengakuan dari pria yang kini sudah dipenuhi lebam. Justru, pria itu tersenyum sinis dengan tatapan mata licik. Para algojo berniat memberikan hukuman lagi, tapi suara perintah dari earphones menghentikan mereka.

__ADS_1


"Cabut!"


"Nyawamu masih diampuni, tapi jangan harap selanjutnya bisa selamat. Rambo, Black, kalian gantung bedebah ini ke tiang, lagi!"


Perintah dari ketua algojo, membuat dua algojo yang merasa diberikan perintah tetap stay di ruangan khusus. Sementara yang lain ikut keluar untuk menemui pemimpin mereka. Langkah kaki terdengar menyusuri lorong, dimana lampu berkedip-kedip seperti lampu kehabisan setrum. Lorong sepanjang sepuluh meter dengan ujung tiga cabang. Dimanapun kaki mereka berpijak. Tempat itu adalah sebuah labirin.


"Bos, bisa katakan. Kenapa tidak langsung tembak mati saja tawanan itu? Buat apa repot-repot mengotori tangan banyak orang," tanya seorang pria dengan laptop di atas pangkuannya, membuat sang bos menyambar pulpen, lalu melemparkan ke cermin di depannya yang berjarak empat meter.


Suara yang dihasilkan cukup memberikan kejutan, bahkan cermin menjadi retak, "Gunakan otak, bukan otot. Dia aset, bukan sampah. Disini, hanya peraturan ku yang bekerja. Jangan mencoba keluar jalur. Apa sudah selesai pekerjaanmu?!"


...****************...


...----------------...


Hay reader's, sembari menunggu crazy up othoor yang ke dua. yuk kepoin novel temen othoor 😘 Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, biar makin ku sayang 👉👈 eh, salah, biar bisa menyebarkan semangat baru 🥰



...----------------...

__ADS_1


__ADS_2