
"Dimana Ara?" tanya Bryant dengan suara tertahannya.
Pertanyaan yang menusuk menyentuh gendang telinga Darren. Bibirnya kelu untuk sekedar mengatakan. Jika Ara tengah dirawat, alih-alih menjelaskan. Tangannya terangkat menunjuk lorong di sisi kiri. Dimana salah satu ruangan yang ada di barisan itu adalah tempat Ara terbaring lemah tak berdaya.
"ARAAA!"
Seperti orang tidak waras. Bryant berlari memeriksa setiap ruangan dari lorong yang ditunjuk oleh Darren. Pria itu terus melangkahkan kaki dengan tatapan mata nanar kehausan jawaban. Apa kamu tahu, bagaimana rasanya ketika nafas tercekat? Begitulah perasaan seseorang yang tenggelam dalam rasa ketakutan.
Degup jantung tak seirama. Wajah memucat, tubuh gemetar dan hilanglah pikiran jernih. Jangankan untuk duduk. Bernafas pun, rasanya tak sanggup dilakukan. Kini rasa cinta itu, tak lagi diragukan. Seorang kekasih tak mampu hidup tanpa belahan jiwanya.
Kegilaan Bryant mencari keberadaan Ara, membuat Sam mencengkram baju Darren. Tatapan mata tajam terus menusuk, "Apa yang terjadi? Katakan!"
Apa arti duka? Ketika seluruh harapan jatuh tanpa sisa. Tiada sandaran, tiada tangisan. Namun, terus menyayat hati. Duka itu menggelegar berteman teriakan yang menggema di lorong rumah sakit. Suara Bryant begitu pilu. Bagaimana bisa, seorang saudara tahan dengan semua itu?
"Kamu akan tahu, Sam. Ikutlah! Akan aku tunjukkan." Jawab Darren tak gentar, lalu melepaskan tangan Sam agar berhenti mencengkram bajunya.
Mereka memang bersahabat, tetapi hanya Sam dan Bryant yang seperti saudara. Meski begitu, Darren tidak sungkan untuk melakukan pengorbanan, lagi dan lagi. Apalah arti kehidupan? Jika hati dan pikiran hanya tentang keegoisan.
Setelah berjalan bersama, akhirnya Darren dan Samuel memasuki kamar yang sama. Dimana Bryant menghilang dalam kebisuan. Diputarnya knop, lalu didorong perlahan. Ruangan rawat dengan perlengkapan medis yang lengkap.
Seorang wanita dengan mata terpejam. Selang infus tertancap, bahkan alat bantu pernafasan terpasang. Wajah yang manis, tetapi begitu pucat seperti mayat hidup. Kenapa? Setelah sekian lama. Pertemuan macam apa? Ara terbaring lemah tak berdaya, sedangkan Bryant bersimpuh tak kuasa melihat kenyataan di depannya.
Darren mengangkat tangan kanannya, lalu memegang bahu Bryant. Tatapan matanya terpatri ke atas ranjang menatap wajah wanita yang selalu menjadi cinta di hatinya. Dia tidak munafik, karena cintanya bukanlah cinta egois.
"Apa arti kehidupan? Sebagai manusia, kita hanya bisa berdo'a, berusaha dan pasrahkan pada Sang Pencipta. Bry, jika alasanmu melepaskan Ayra karena aku mencintai dia. Maka, lupakanlah itu."
__ADS_1
"Aku bisa hidup tanpa cinta, tapi aku tidak akan hidup. Jika sesuatu terjadi pada Ayra." Darren menghela nafas panjang, mencoba menetralisir rasa panas di matanya. "Cinta hanyalah perwujudan rasa syukur. Tidak untuk dipaksakan. Apalagi disumbangkan."
Bryant tercengang mendengar semua itu. Apa ini artinya. Ara kembali luka karena keputusannya? Jika iya. Bagaimana dia akan menjadi pasangan yang sempurna untuk wanita sebaik Ara? Rasanya seperti pungguk merindukan bulan.
"Ayra selalu mengatakan. Ka Tama, bintang di langit selalu berkelip. Indah membuat semua orang ingin merenggutnya, tapi aku tidak ingin bintang. Gadis sederhana yang menjadi cintaku, Ayra hanya ingin memiliki suami yang mencintainya."
"Tunggu dulu." Sam menyela, kemudian berjalan menghampiri Bryant dan Darren. Ditatapnya kedua pria itu, "Apa yang sebenarnya terjadi? Cinta dan kondisi Ara. Apa hubungannya?"
"Kami mencintai wanita yang sama. Namun waktu kami berbeda. Aku, seseorang dari masa lalu, sedangkan Bryant dari masa kini. Dunia begitu luas, sayangnya memperkecil pertemuan antara hubungan yang rumit ini."
Jelas sekali pernyataan Darren. Sontak saja Sam memberikan umpatan seraya mengibaskan tangan yang tegang. Pria itu benar-benar terkejut dengan kenyataan dari kisah cinta kedua sahabat dan adik angkatnya. Tidak hanya sampai di situ.
"Stop!" Seru Sam dengan tangan terangkat, mata terpejam.
Rasanya pedih, perih dan berdarah-darah. Telinganya berdengung, tak sanggup mendengarkan lebih jauh, lagii. Panas yang membara di dalam kepala bersambut gejolak kecewa. Pria itu membimbing Bryant untuk bangun, lalu menggandeng tangan kanannya.
Bersamaan tangan Darren yang ikut terbelenggu dalam kemarahannya. Tanpa kata, ditariknya kedua pria itu. Lalu, sekali sentakan menghempaskan tubuh kedua sahabatnya keluar dari ruangan. Sam mengangkat tangan, menunjuk pintu di sebelah kirinya.
"Aku Samuel, kakak dari Ayesha Ramadhani melarang kalian berdua untuk melewati pintu ruangan ini, dan ya. Jika kalian berani masuk. Akan kupastikan membawa adikku pergi selamanya dari kalian."
__ADS_1
Suara gebrakan pintu yang keras, kembali menyadarkan Bryant dan Darren. Keduanya saling pandang, "Sekarang, impas."
Konyol. Entah bagaimana, ke-dua pria itu bisa sepemikiran. Seakan Samuel telah memberikan keadilan sebagai seorang hakim di sidang perdananya. Aneh, tapi nyata. Sungguh membuat geleng-geleng kepala saja.
"Tama. Nama yang indah. Apa aku harus memanggilmu sama, seperti Ara? Ka Tama. Manis sekali." tukas Bryant menahan rasa yang terus saja mengumpat kebodohannya.
Dia baru menyadari. Jika keputusannya melepaskan Ara. Justru menjadi kesalahan terbesarnya. Bagaimana tidak? Lihat saja, buktinya ada di depan mata. Di ruangan yang tertutup, tubuh wanita itu masih terus memerlukan perawatan intensif.
Seakan mengerti perasaan sang sahabat. Darren merengkuh tubuh pria di sampingnya tanpa permisi. "Believe me. Everything will be fine. Ayra you're mine. I can lost her, but I can't see her sadness."
(Percayalah padaku. Semuanya akan baik-baik saja. Ayra istrimu. Aku bisa kehilangan dia, tapi aku tidak bisa melihat kesedihannya.")
Keikhlasan. Siapa yang mampu menurunkan ego. Menyandarkan diri, jika sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk kita. Sekalipun menyatukan bumi dan langit. Maka, tidak akan bisa meraih, apa lagi menggenggam hak dari orang lain.
Layaknya cinta. Sehangat sinar mentari pagi. Percayalah. Jika cinta itu nyata. Maka, setiap cinta akan kembali pada pelukan cinta. Ketika takdir berkata lain. Allah telah menyiapkan seseorang yang pantas untuk setiap hamba-Nya.
"Apa kamu sungguh ikhlas. Melepaskan Ara untuk ku?" tanya Bryant melepaskan pelukan Darren, ditatapnya serius mencoba mencari celah keraguan.
Sayangnya, Darren adalah pria sejati yang selalu menepati janjinya. Meski untuk itu, dia harus kehilangan hal paling berharga. Begitulah seorang Darren Wiratama. Senyuman yang tersinggung bukan kepalsuan, melainkan penyerahan diri.
"Aku bisa memberikan apapun demi kebahagiaan Ayra." Ucap tegas Darren seraya menepuk bahu Bryant memberikan jaminan akan pernyataannya.
__ADS_1
Sekali lagi, keduanya berpelukan dengan rasa persahabatan. Sungguh, ketika persahabatan bukan tentang ego masing-masing. Beruntunglah mereka. Dimana suka duka akan menjadi kebersamaan. Tidak ada kata keberatan, apalagi menjadi iri hati. Setiap kepedulian itu nyata.