
"Om?" panggil Bunga, sontak Alkan mematikan panggilannya lalu menetralisir ekspresi wajah dingin dengan ketenangan, kemudian berbalik menatap gadis bermata hazelnut yang ternyata berdiri sembunyi dan hanya menyembulkan kepala saja.
Apa anak ini mendengar semua percakapanku? Apa perlu aku tes? Huft, sebaiknya ku pastikan saja.~batin Alkan sejenak, lalu melambaikan tangannya agar Bunga keluar dari tempat persembunyian dan menghampiri dirinya.
Lambaikan tangan Alkan, membuat Bunga menerbitkan senyuman terbaiknya, dan melangkahkan kaki dengan wajah ceria. Tak ayal melihat betapa senangnya gadis itu. Justru meragukan hati sang pria dewasa. Secepat kilat mencari solusi untuk mencari tahu, apakah gadis itu mendengar sesuatu atau tidak?
"Kenapa sembunyi? Dimana papamu?" Alkan menatap gadis di depannya dengan lembut seperti seorang ayah menatap putrinya.
"Papa? Oh udah ke bawah, tapi kenapa wajah Om tegang? Jangan-jangan....,"
Alkan mengusap wajahnya berharap ekspresi tidak seperti yang dikatakan Bunga. "Sudahlah. Lupakan saja. Om baik, ayo kita ke bawah!"
Percuma jika ingin mencari tahu, sedangkan kondisi hatinya saja masih tercampur tak karuan. Sekali saja emosinya kembali ter selimuti badai, bukan hanya akan mengeluarkan semua rasa. Bisa jadi gadis itu menjadi pelampiasan. Maka lebih baik melupakan rasa ragu di dalam hati, dan menganggap semua baik-baik saja.
__ADS_1
"Om, pegang yang bener, atuh! Masa kurang kenceng, sih?" protes Bunga yang kini berjalan mengikuti langkah Alkan karena pria itu tiba-tiba saja menggenggam tangan lalu berlalu meninggalkan balkon mini.
Sontak Alkan berhenti berjalan secara mendadak, membuat Bunga yang berjalan di belakangnya tanpa memperhatikan ke depan alhasil menabrak punggung kekarnya.
"Aduh, Om! Sakit, hiks." Bunga mengusap hidung mancung nya, di saat bersamaan Alkan melepaskan genggaman tangan lalu berbalik menatap gadis itu dengan khawatir.
"Sorry, mana yang sakit?" tanya Alkan panik.
"Hiks, sini sakit Om." Bunga menunjuk ke hidungnya, membuat Alkan menangkup wajah manis gadis itu seraya meniup perlahan. "Om, gak berdarah, loh. Masa ditiup? Harusnya dikasih kiss gitu."
"WHAT'S?" Alkan tak paham maksud dari Bunga, membuat gadis itu menghela nafas lalu tersenyum jahil.
Bunga mengedipkan mata seperti sesuatu telah memasuki netra matanya. "Om, tiup! Bunga kelilipan ini, aduh gimana nih om?"
__ADS_1
"Kamu ini, sini! Tahan begini, jangan dikucek!" Alkan menarik tangan Bunga seraya mendekati wajah gadis itu, niat hati ingin membantu dengan meniup mata hazelnut itu. Namun, tiba-tiba saja sebuah kecupan mendarat sempurna di bibirnya.
Benda kenyal natural yang terasa lembab menghentikan detak jantungnya. Sesaat keduanya saling pandang menenggelamkan rasa dalam penyatuan bibir. Siapa sangka kenekatan Bunga mencuri sebuah ciuman. Justru menggetarkan hati Alkan yang terasa hampa. Bahkan kedua raga itu masih terpaku tanpa melepaskan tautan bibir yang hanya memberikan salam perkenalan.
Bunga menarik kembali bibirnya, "Love you, Om."
Deg!
Bisikan cinta dari Bunga seperti sengatan listrik, ntah apa yang terjadi padanya. Gadis yang selalu dianggap sebagai putri justru mencuri satu kiss, dan menyatakan cinta. CINTA? Apa telinganya tidak salah dengar? Bagaimana bisa gadis netra hazelnut itu dengan mudahnya membisikkan kata yang selama ini dihindari? Apakah dunia sebentar lagi runtuh? Begitu banyak pertanyaan yang mengalihkan dunia seorang Alkan.
Tanpa ia sadari, sang pencuri hati sudah melarikan diri meninggalkan kamarnya. "Bunga?"
"Alkan sadar! Mana mungkin semua itu terjadi. Sudahlah, lupakan saja. Mungkin aku hanya berhalusinasi saja." gumam pria itu menenangkan pikiran dengan langkah kaki berjalan meninggalkan kamarnya.
__ADS_1