
"Baiklah. Seperti kesepakatan biasanya, aku berikan keinginanmu. Ara sudah di beli oleh seorang tuan muda. Ntah siapa namanya, tapi tenang saja. Mantan istrimu itu sudah hidup mewah."
"Dimana aku bisa menemukan orang itu?" tanya Akbar.
Mamca berpikir keras bagaimana menjawab pertanyaan Akbar. Tentu saja semua itu karena perjanjian di atas materai yang kini sudah menjerat bibirnya untuk berkata jujur. "Aku tidak tahu siapa pria itu, tapi yang jelas dia orang berpengaruh. Saat menebus istrimu langsung memberikan surat perjanjian tertulis. Sorry, aku hanya bisa bantu dengan menunjukkan CCTV rumah podjok. Sisanya kamu bisa cari sendiri."
"Itu sudah cukup. Berikan aku salinannya, sekarang!" celetuk Akbar seraya bangun lalu turun dari ranjang untuk memungut pakaiannya di lantai.
Tidak ada rasa malu ataupun penyesalan karena kedua insan itu sudah terbiasa melihat tubuh masing-masing. Bahkan Akbar dengan santainya memakai pakaian di depan Mamca. Sementara wanita itu masih memilih menikmati pemandangan di depannya.
"Haloo! Dimana rekaman CCTV-nya?" Akbar mengibaskan tangannya di depan wajah Mamca.
"Huft, kenapa buru-buru, sih? Boleh lah kasih bonus service." Mamca memainkan bibirnya hanya untuk menggoda Akbar, tapi pria itu sama sekali tidak terpengaruh.
"Aku tidak mau membuang waktu ku lagi, sekarang atau kubakar rumah podjok....,"
__ADS_1
Mendengar ancaman dari Akbar, wanita itu langsung bangun tanpa peduli tubuh polosnya. Bukit kembar yang bergoyang kesana-kemari pun dibiarkan menikmati udara bebas. Langkah kaki Mamca menghampiri meja rias, lalu membuka laci teratas dan mengeluarkan sebuah memori hitam ukuran 5GB.
Akbar yang tidak sabaran sudah berdiri di samping wanita itu seraya mengulurkan tangan kanannya. "Berikan!"
"Sentuh aku, baru ku berikan." goda Mamca mendekati pria itu dengan busungan dada hingga menempel ke dada Akbar.
Aish. Kenapa mode on lagi, sih? Sekarang aku harus memulai pemanasan. Sebelum memberikan Ara service yang jauh lebih memuaskan. ~batin Akbar.
Pria itu memejamkan matanya sesaat. Memulai imajinasinya dengan mengukir wajah manis Ara. Begitu mata terbuka, sosok yang terlihat bukanlah Mamca. Akan tetapi Ara sang mantan istri dengan senyuman manis yang menggoda. Tanpa aba-aba, Ia merengkuh tubuh wanita itu seraya merampas bibir yang memanggil untuk di sesap.
Akbar mempermainkan Mamca layaknya wanita pertama yang baru merasakan sentuhan hasrat. Perlahan dengan kelembutan, semakin menggila bersamaan pemanasan yang membawa keduanya kembali bergelut di atas ranjang. Sementara di tempat lain, sepasang pasutri baru saja turun dari mobil.
"Ara, bisa kita bicara disana?" Bryant menunjuk kursi taman di sisi kiri wanita itu, anggukan kecil Ara sebagai persetujuan, membuat keduanya berjalan beriringan memasuki taman dan duduk di kursi besi bercat merah.
Bryant menggeser posisi tubuhnya menghadap ke Ara, sedangkan yang ditatap memilih menundukkan kepala menatap rumput hijau di bawah kakinya.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia dengan keputusanmu melahirkan anak untukku?" tanya Bryant to the poin.
"Apa, Tuan bahagia menikah denganku?" tanya balik Ara yang langsung membungkam bibir Bryant. "Kita berdua tahu benar. Jika pernikahan ini hanya untuk mendapatkan keturunan. Aku bersyukur karena Tuan menyelamatkan diriku dari dosa yang lebih hina. Jujur menjadi istri siri lebih baik, dibandingkan menjadi wanita malam."
"Aku tidak bermaksud....,"
Ara mendongak, lalu menatap Bryant. "Dulu aku hanya sebagai istri penebus hutang. Aku berpikir dimana kekuranganku selama menjadi seorang istri. Apakah aku tidak layak dicintai? Kenapa suamiku, sahabatku menusuk diriku dari belakang. Tuan, tenang saja. Meskipun aku hanya dijadikan istri siri. Aku sudah memutuskan akan berusaha menjadi seorang istri yang berbakti. Apapun yang Tuan harapkan, semoga Allah mengabulkan."
Kejujuran Ara sungguh menyudutkan seorang Bryant yang sejak awal hanya ingin memanfaatkan sang istri siri. Lalu bagaimana sekarang? Bahkan pernikahan baru beberapa hari, tapi hubungan mereka sudah semakin jauh. Tak ada kata yang bisa menjelaskan rasa bersalah di dalam hati pria itu, selain merengkuh tubuh sang istri ke dalam dekapannya.
Maafkan, Aku. Andaikan Allah memberikan kesempatan kedua, Aku berharap bisa menjadi suami yang adil untukmu dan Hazel. ~batin Bryant memejamkan matanya dengan mengusap kepala Ara yang bersandar di dalam dekapannya.
Kebersamaan pasutri itu terabadikan melalui sebuah kamera si pengawas. Senyuman lega terbit dari balik layar. Earphones kecil yang terjepit di telinga tak akan membuat orang lain mendengar percakapan dari seberang. Sementara dari arah lain, gerbang villa terbuka dan sebuah mobil jeep masuk ke halaman.
"Sudah dulu, ada yang datang." lapor si pengawas menutup panggilan video call dan kembali memasuki villa dengan perlahan-lahan agar tidak ketahuan.
__ADS_1