Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 58: BANDARA - SARAN ZACK UNTUK AL


__ADS_3

Aku merindukanmu. Kenapa baru sekarang, aku mendengar tentangmu kembali? Apa kamu melupakan semuanya begitu saja? Bagaimana kabarmu selama ini? Rasa ini masih sama, tapi aku tak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu.~ batin Al dengan lelehan air mata.


Perjalanan begitu lancar hingga memasuki parkiran bandara. Zack masih enggan mengganggu sang bos yang terlihat begitu lelah. Ia tahu bos besar seperti Altra tidak bisa bersantai barang sejenak. Bukan saja bekerja sebagai wakil CEO. Pria yang kini masih memejamkan mata itu juga menjadi pengacara di perusahaan keluarganya sendiri.


"Zack, udah sampai?" tanya Al membuka matanya.


Zack langsung mengalihkan perhatiannya keluar jendela, "Iya, Bos. Mau ku tunggu atau ku pesankan mobil lain?"


Al menyambar jas, lalu membenarkan kancing kemejanya. Tatapan mata tertuju pada arloji di tangan kanannya. Sekarang pukul satu kurang lima belas menit, sedangkan pesawat yang ditunggu akan tiba jam satu lebih sepuluh menit. Jadi masih ada waktu dua puluh lima menit.


"Boss!" panggil Zack.


Penampilan sudah kembali rapi, membuat Al terlihat lebih tampan. Tangannya sudah terulur menyentuh pintu mobil, "Jangan pikirkan soal aku pulang naik apa. Pastikan nanti malam, kamu stay di tempat biasa! Paham?"


"Siap, Bos. Hati-hati, bukankah seharusnya bos kabari istri di rumah?" tanya Zack mencoba mengingatkan, sontak saja Al kembali menutup pintu mobil yang sudah ia dorong.


"Astaga. Aku lupa soal....,"

__ADS_1


Zack menahan tawanya karena ekspresi wajah Al benar-benar lucu. Pria yang biasanya tegas. Justru kali ini panik dan ada sorot keraguan, "Bos, mau ku kasih saran? Yah anggap sebagai hadiah pernikahan."


"Bisa gak, kalau mau kasih saran itu, ya to the poin," kata Al berdecak kesal karena merasa tengah di awasi anak buahnya.


Zack terkekeh pelan, membuat tatapan mata tajam tak mau lepas menerkam dirinya. Benar-benar membingungkan ekspresi sang bos yang bisa berubah dalam hitungan detik.


"Okay, okay, jangan potong gajiku," Zack menghentikan tawanya, lalu bersikap serius dengan menggeser posisi duduknya ke samping agar enak berbicara menghadap ke orang yang sangat ia hormati, "Wanita itu jinak-jinak merpati, Bos. Jadi perlakukan seorang istri seperti anak, lindungi seperti seorang ayah, dan bahagiakan sebagai pasangan kekasih. Sederhananya ajak saja honeymoon, atau quality time buat kenangan bersama."


"Hanya itu?" tanya Al dengan alis terangkat.


Zack menjentikkan jarinya, "Yup, Bos. Biasanya perhiasan selalu jadi target para suami, tapi lebih dari perhiasan. Ada yang selalu dinantikan seorang istri. Yaitu waktu yang dihabiskan bersama sang suami."


"Ayolah, Bos. Jangan suudzon gitu, aku masih lajang. Hanya saja, almarhum ayah selalu memberikan kebahagiaan sederhana pada ibu. Aku jadi rindu mereka." Zack menjelaskan dengan rasa haru mengingat serpihan masa lalu yang selalu menjadi sumber kebahagian nya selama ini.


Sementara itu, smirk yang menghiasi bibir Al pasti memiliki arti tersembunyi.


"Thanks, Aku akan keluar. Ingat nanti malam aku menunggu di tempat biasa." Al akhirnya meninggalkan mobilnya, membuat Zack melongo.

__ADS_1


"Si bos enak bener, ya. Main pergi gitu aja," celetuk Zack dengan gelengan kepala, lalu kembali menyalakan mobil agar bisa meninggalkan bandara.


Langkah kaki Al memasuki bandara tanpa tengok kanan dan kiri. Situasi tidak begitu ramai, membuat pria itu bebas berjalan. Tentu saja dengan akses khusus. Tidak seorangpun bisa melarang. Kemanapun langkah kaki berpijak. Sudah pasti seseorang telah mengatur semua persiapannya.


"Siang, Tuan. Silahkan tunggu di dalam ruangan itu saja," pinta seorang penjaga dengan tangan mengarahkan ke suatu ruangan khusus.


Al hanya mengangguk tanda setuju. Sikap tegas, tanpa satu patah kata, membuat pria satu itu terkesan cool. Sang penjaga mengantarkan tamu VVIP menuju ruang tunggu, bahkan begitu memasuki ruangan kaca. Di meja kayu dengan panjang tiga meter sudah tersedia berbagai jenis makanan serta cemilan, termasuk beberapa jenis minuman.


Persiapan yang terlalu berlebihan. Pemandangan di depannya bukan membuat bahagia tetapi justru seperti menghamburkan uang tanpa berpikir panjang. Al hanya menarik kursi putar, lalu duduk tanpa ada yang mempersilahkan.


"Saya, harap, Tuan menyukai penyambutan kami. Permisi," Ucap sang penjaga seraya membungkukkan setengah badan dan berpamitan.


"Panggil manager kemari!" titah Al meregangkan otot lehernya.


Sang penjaga tertegun, "Pak manager? Ampun, Tuan. Jika penyambutan kami kurang berkenan, kami siap melakukan perintah Anda....,"


"Cukup panggil manajer mu. Sekarang!" titah Al tanpa penjelasan lanjut.

__ADS_1


"Baa-iik, saya permisi," balas sang penjaga gugup dan langsung berlari kecil meninggalkan ruangan tunggu VVIP.


"Apa orang-orang tidak pernah belajar arti menghemat? Makanan sebanyak ini, banyak keluarga yang kelaparan dan disini malah menghamburkan uang demi menyenangkan satu orang saja," gumam Al menghela nafas panjang.


__ADS_2