
"Oh tentu, kamu tahu bagaimana cara membuktikan cintamu. Ayo." tegas pria itu dan berdiri.
Tanpa perlu menjawab, wanita itu menyambut dengan suka cita ajakan pria pujaan hatinya. Keduanya meninggalkan cafe Delima, berpindah menuju peraduan cinta.
Tanpa di sadari wanita itu, ada yang mengawasi dan mengambil foto mereka secara diam-diam. Mobil meninggalkan parkiran cafe, dan si pengawas mengambil ponselnya. "Tuan, pekerjaan beres. Aku akan kabari untuk selanjutnya."
Panggilan diakhiri, dan pria itu kembali membuntuti target seperti kesepakatan yang telah dijanjikan. Mobil melintasi jalanan yang cukup lengang dan perjalanan selama tiga puluh menit berakhir dengan memasuki parkiran hotel Gelora Indah. Hotel bintang lima dengan fasilitas yang cukup bagus dan juga hotel itu terkenal di kalangan para pebisnis.
Sepasang kekasih itu keluar dari mobil, dan berjalan beriringan menuju lobi hotel. Setiap langkah menghasilkan jepretan gambar yang berkualitas. Si pria memesan sebuah kamar istimewa dengan merangkul pinggul si wanita begitu posesif. "Ayo, buktikan seberapa besar cintamu untukku. Ella sayang."
Hazel mencubit perut pria di sisinya dengan manja. Senyuman rona bahagia itu, tak bisa dipungkiri. Ada cinta di mata wanita itu untuk pria yang merangkul mesra dirinya. Jepretan demi jepretan memenuhi roll kamera si pengawas. Hanya saja, setelah pasangan itu masuk ke dalam kamar. Pekerjaannya tidak bisa berlanjut, selain menunggu dalam kesendirian.
Hazel menarik tubuh kekasihnya dengan kasar, dan mendorongnya ke atas ranjang. "Apa kamu ingat, bagaimana malam pertama kita?"
Pria itu tersenyum dan menatap Hazel. Wanita cantik yang memiliki profesi sebagai model itu tengah melepaskan seluruh penghalang kemolekan tubuhnya. Pakaian yang dilempar ke sembarang arah. Termasuk membuang kain segitiga ke arah wajah pria di atas ranjang. Pria itu menghirup kain segitiga milik Hazel.
"Harum, masih beraroma sama. Kemarilah, sayang." pinta pria itu dengan merentangkan kedua tangannya.
Hazel berjalan dengan gaya di atas catwalk, dan duduk di atas pangkuan si pria. "Ayo, bantu aku mengingat malam itu," Hazel memainkan jarinya di wajah sang kekasih.
Tangan pria itu dengan senang hati meraih leher Hazel dan memulai aksinya. Merengkuh bibir merah merona Hazel dengan rakus. Perang lidah tak bisa terhindarkan. Bukan hanya meraup bibir, tangan Hazel dan pria itu serempak memainkan peranannya. Penjelajahan semakin memanas, hingga keduanya sama-sama polos. Pergulatan semakin liar.
Kehangatan di antara Hazel dan kekasih gelapnya. Berbanding terbalik dengan kebisuan Ara dan Bryant di dalam mobil. Setelah menghubungi beberapa orang kepercayaannya, Bryant membawa Ara meninggalkan apartemen dan kini keduanya tengah berada di perjalanan menuju bandara.
"Tuan, boleh aku bertanya?" cicit Ara dengan perasaan takut.
Bryant memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya. "Hmm."
__ADS_1
"Kenapa, Tuan memilih menikahiku? bukankah Tuan, bisa menikahi wanita lain." ujar Ara.
Bryant menatap jalanan di luar sana. "Anggap saja, takdir mengharapkan ini terjadi."
Anda menyalahkan takdir? Sementara perbuatan anda didasari kesadaran penuh.~batin Ara menundukkan wajah.
Hening......
Tidak ada percakapan lagi, membuat perjalanan terasa semakin lama. Sopir yang di depan seakan mengikuti alur. Hingga keheningan itu berakhir, ketika mobil taksi berhenti di parkiran bandara. Bryant mengambil uang di dalam dompet, dan menyerahkan ke supir taksinya. "Nyalakan aplikasi anda setelah keluar dari area bandara!"
"Baik, Tuan. Terima Kasih." jawab sopir dan menerima sepuluh lembar kertas merah dari Bryant.
"Ayo, turun!" titah Bryant, membuat Ara membuka pintu di sampingnya.
Keduanya keluar dari pintu berbeda, dan bertemu di depan mobil taksi. Penampilan Ara yang tertutup dengan pakaian dress panjang, topi, masker dan kacamata hitam. Sedangkan Bryant memilih berpenampilan pebisnis dengan masker dan kacamata hitam. Tangan kekarnya spontan menggandeng tangan Ara.
"Tenanglah, aku tidak mau kamu menghilang di tengah keramaian." ucap Bryant.
Hanya helaan nafas yang bisa Ara lakukan. Bryant dengan sabar berjalan pelan di sisinya. Menerobos keramaian hingga berhenti di tempat pemeriksaan. Dari arah lain, seorang pria tak sengaja melihat Bryant dan mengira wanita yang bersama Bryant adalah Hazel. Tanpa pikir panjang, pria itu mengirimkan pesan pada Hazel.
[Wuih. Honeymoon trus nih, model kita. Jangan lupa oleh-olehnya ya.]~pesan pria itu pada Hazel.
Bryant dan Ara memasuki departure keberangkatan, bersiap meninggalkan kota kenangan. Sementara di tempat lain, pergulatan panas Hazel dengan sang kekasih harus terjeda. Karena dering ponsel milik wanita itu mengganggu kesenangan mereka.
"Siapa? Kenapa wajahmu pucat, sayang?" tanya si pria dengan memeluk Hazel dari belakang.
Hazel melepaskan pelukan sang kekasih, dan memunguti pakaiannya. Melihat itu, si pria menarik Hazel dan membuang kembali pakaian yang di pegang wanitanya. "Hey, kamu dengar aku. Ada apa?"
__ADS_1
Hazel menatap pria di depannya. Tatapan yang tidak bisa dijabarkan. "Bryant selingkuh..."
Bukannya prihatin, tapi pria itu tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kebodohan Hazel. Hal itu, membuat Hazel menghentakkan kakinya dengan wajah jengkel. Tak ingin menghancurkan perasaan lebih dalam, pria itu merengkuh tubuh Hazel dan memberikan kecupan manja.
"Sayang, biarkan saja suamimu selingkuh. Apa yang kita lakukan, juga disebut selingkuh. Ayolah, aku tidak mau hari pertama ku bersamamu menjadi hancur karena suamimu." bisik pria itu dengan menggigit telinga Hazel.
"Huum, mood ku hancur. Puaskan, aku!" Hazel mengalungkan kedua tangannya pada sang kekasih.
"Tentu, sayang. Apapun untukmu." jawab pria itu.
Pria itu dengan senang hati menjamah tubuh wanitanya. Tidak peduli, jika Hazel telah bersuami. Baginya, Hazel akan selalu menjadi alat pemuas nafsu dan kartu ATM berjalan. Tanpa model itu sadari selama bertahun-tahun hanya dijadikan sebagai wanita ranjang.
Kamu terlalu mudah kudapatkan, dan bodohnya kamu tidak mau melahirkan anak untuk pria itu. Akan kubuat, kamu mengandung anakku. Akan kupastikan itu, Hazel Laurent.~batin pria itu dengan meremas dua bukit kembar milik Hazel.
Pengumuman penerbangan sudah terdengar, Bryant masih menggenggam tangan Ara menuju tempat masuk pesawat. Pramugari yang mengulurkan tangan, menjadi ragu dan memilih mempersilahan. "Silahkan, nyonya dan tuan."
Tak ada tanggapan selain Bryant mendorong pelan Ara untuk maju dan berjalan di depannya. Keduanya menuju kursi khusus, sesuai pesanan. Penerbangan kelas bisnis akan lepas landas, setelah menunggu sepuluh menit. Wajah tegang dengan mata terpejam Ara, membuat Bryant merengkuh tubuh istri sirinya.
"Tenanglah. Ini hanya sesaat, esok akan terbiasa. Cobalah nikmati perjalanan." bisik Bryant.
Bryant tidak tahu, jika Ara memiliki trauma tersendiri tentang penerbangan. Tangannya terasa dingin dan tubuh gemetar. Pelukan Bryant mengurangi kegelisahan nya, meskipun tidak menghilangkan ingatan masa lalunya.
"Ibu....." gumam Ara, menggigit bibirnya.
"Hey, kamu kenapa? Tanganmu dingin sekali." tanya Bryant yang tidak sengaja menyenggol tangan Ara.
Ara menatap Bryant dengan mata sendu. "Akuu....."
__ADS_1