
Ntah kenapa, tiba-tiba rasanya ingin menangis. Padahal tidak ada yang berbicara kasar atau memaksakan dirinya untuk berbuat sesuatu. Namun, air mata itu, tetap terjatuh tanpa kata. Kesedihan macam apa yang datang tanpa diminta? Lelehan air mata yang membasahi pipi seakan mengisahkan cerita tanpa sebuah nama.
Di dalam hati ada yang ia rasakan, tapi kenapa merasa seperti itu? Mungkinkah karena tidak ada Bryant di sisinya sepanjang malam atau hanya perubahan mood karena sedang hamil. Ntahlah, apapun yang mengusik pikiran hingga terkoneksi ke dalam hati. Jelas ada sebuah alasan yang tidak bisa ditemukan. Jujur saja, sejak semalam yang ada di dalam pikiran hanyalah sang suami.
Ya Allah, ada apa denganku? Semoga saja suamiku dalam keadaan baik. Mas, kamu dimana? Cepatlah pulang. Aku mengkhawatirkanmu.~batin Ara seraya menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Wanita itu turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di saat yang sama, Ocy mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam kamar Ara. Yah, sang bodyguard ditugaskan untuk selalu mengawasi dan mengingatkan rentetan kegiatan dari mulai bangun tidur hingga sebelum tidur. Tatapan matanya menelusuri kesana kemari, tapi tidak nampak ada tanda-tanda keberadaan nona muda.
"Ara tidak ada di ranjang, lalu dimana gadis itu?" Ocy berusaha memperhatikan lebih seksama, hingga mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, "Syukurlah sudah bangun, lebih baik aku bereskan tempat tidurnya dulu. Setelah itu bisa turun bersama untuk sarapan."
Ocy melangkahkan kaki berjalan menghampiri ranjang. Wanita itu menarik selimut, kemudian diletakkan ke atas kursi di depan meja rias. Barulah merapikan sprei yang menutupi kasur, dan kembali menempatkan selimut dengan posisi yang benar. Perapian itu hanya membutuhkan beberapa menit, hingga terlihat kembali bersih dan tak lupa menyemprotkan pengharum ruangan.
Sembari menunggu Ara selesai mandi, Ocy memilih berdiri di depan jendela yang terbuka. Wanita itu terdiam menikmati pemandangan yang ada di depan sana. Saat ini, mereka tinggal dirumah milik nona muda yaitu istri dari Bryant sendiri. Yah, rumah yang menjadi hadiah dari Om Al. Paman yang memperhatikan keluarga dengan sepenuh hati. Satu saja orang seperti pria itu hadir didalam kehidupan seseorang. Pasti banyak hati yang bersyukur.
Namun, kehidupan setiap orang memiliki takdir yang berbeda. Jika dipikirkan lagi, belum tentu sanggup menjalani hidup seperti Ara. Begitu juga sebaliknya. Satu hal pasti dalam kehidupan ini. Setiap waktu, selama masih bernafas. Manusia akan selalu belajar menjadi lebih baik. Tidak memungkiri, jika kehidupan terkadang hanya sekedar tentang keegoisan. Meski begitu, tetaplah ada karma dari setiap tindakan buruk dan baik.
Setelah menunggu selama dua puluh menit, Ocy yang melamun karena sedang memikirkan masalahnya. Justru tidak menyadari ketika Ara keluar dari kamar mandi dengan penampilan rapi dan wajah segar. Wanita itu masih menatap pemandangan di luar dengan tatapan tak berkedip, bahkan suara panggilan sang nona muda tidak bisa mengusik lamunan yang menghilangkan setengah kesadarannya.
__ADS_1
"Ocy!" Panggil Ara untuk kesekian kali, tapi tetap tidak ada jawaban, "Ada apa lagi dengan gadis itu? Lebih baik aku samperin aja."
Langkah Ara berjalan menghampiri Ocy, disaat jarak menyisakan satu meter lebih sedikit. Barulah, wanita itu menepuk pundak sang bodyguard dan membuat yang ditepuk langsung berbalik menoleh ke arahnya, "Kamu kenapa? Aku panggil sampai empat kali, tapi tidak menyahut. Ocy, apa kamu berantem dengan kakak?"
Ocy tersenyum, lalu meraih tangan Ara. Tangan yang dingin menyegarkan seraya menatap mata nona mudanya, "Aku baik, jangan pikirkan masalahku. Cukup fokus dengan kehamilan dan kesehatanmu. Lagipula, mana bisa aku bertengkar dengan kakakmu. Usaha ku untuk mendapatkan hati abang tampan saja, aku harus melupakan rasa malu. Panggilan yang menyebalkan dari Samuel, huft aku akan selalu menjadikan pria itu sebagai pasangan terbaik."
"Alhamdulillah, semoga kalian segera menikah. Jadi, aku tidak merasa sendirian. Kita bisa berbagi keluh kesah seraya menunggu suami pulang kerja. Pasti menyenangkan," Ara terkekeh pelan karena harapannya seperti kue coklat, tapi tidak ada coklatnya sama sekali, "Sudahlah, aku harus tahu bagaimana awal mula kisah kalian. Jangan menolak. Ini juga salah satu keinginan anakku."
"Amiin, tapi mana bisa seperti itu, cantik. Wanita hamil memang ngidam, tapi bukan seperti ini juga permintaannya. Kalau minta pasti yang buah asem, atau makanan aneh-aneh. Kenapa jadi ngidam soal hubungan diantara aku dan Muel? Kamu ini, ayo, kita turun. Jangan sampai taring kakakmu keluar."
Ocy langsung mengajak Ara untuk berjalan bersama meninggalkan kamar, dan membiarkan bibir nona muda maju karena tidak dituruti keinginannya. Meski begitu, tetap saja keduanya turun untuk menikmati sarapan bersama ditemani Samuel dan Kinara yang sudah menunggu di meja makan. Rumah yang besar dengan fasilitas lengkap itu, hanya dihuni sepuluh orang saja. Dimana empat orang menjadi anggota utama dan enam orang pelayan dengan security.
"Pagi, semuanya. Pagi istriku, syukurlah kamu sudah sarapan," Bryant meletakkan paper bag di lantai, lalu mengecup kening Ara tanpa peduli dengan tatapan Muel yang menyorotkan rasa penasaran, "Lanjut dulu makan nya, aku ke atas dulu. Muel, siang ini kita harus rapat. Siapkan semuanya!"
Muel hanya mengacungkan jempol tanda setuju, kali ini pria itu tidak ingin memberikan ceramah. Lagi pula, ia bisa melihat bagaimana keadaan sang sahabat. Wajah tenang yang menyembunyikan sesuatu. Pasti sudah terjadi sesuatu, dan untuk tahu situasi. Maka lebih baik bersabar menunggu, dan sekarang melanjutkan menikmati sarapan bersama.
Kepergian Bryant yang menenteng beberapa paper bag, meninggalkan tanda tanya di pikiran semua orang. Tentu saja ada rasa penasaran. Apalagi Ara, dimana wanita itu menjadi tak fokus lagi menyuap makanan dan justru berulang kali melirik ke lantai atas. Dimana kamarnya berada. Sikap Ara tak luput dari pengamatan sang kakak.
__ADS_1
"Kinara, pagi ini jadwal mu melatih senam hamil. Jadi, aku tutup adikku. Satu lagi, Ocy akan menemani kalian berdua. Iya kan, sayang?" Samuel meminta persetujuan dengan tatapan mata tertuju pada wanitanya, tapi yang ditanya justru sibuk mengaduk makanan tanpa selera, "Ocy! Makanan untuk dimakan, bukan di aduk seperti itu...,"
Ara mengalihkan perhatiannya, lalu mengangkat tangan kanan dengan jari telunjuk agar kakaknya tidak menegur Ocy. Kemudian, ia bangun dan berjalan menghampiri kursi kekasih Muel, "Mau disuapi?"
'Eh, gak. Aku bisa makan sendiri, duduk lagi. Aku...,"
Tanpa meminta persetujuan, Ara mengambil alih sendok dari tangan Ocy, lalu mulai menyendok makanan, kemudian disodorkan agar kekasih kakaknya mau disuapi. Tindakan itu, membuat Muel menghela nafas lega. Mungkin dirinya terlalu keras, atau jangan-jangan. Mungkinkah, Ocy masih memikirkan perkataan yang kemarin? Apapun itu, pasti akan ia cari tahu.
...****************...
...----------------...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
...
__ADS_1
----------------...