Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 81: SEKILAS MEMORI LUKA


__ADS_3

Disaat tangannya bersiap menutup pintu, ada tangan yang menahannya, "Kamu...,"


Satu jari yang diletakkan didepan bibir, membuat Samuel terdiam dan menurut. Ia membiarkan langkah kaki sahabat nya masuk ke dalam kamar, baru setelah itu menutup pintu kamar.


Aku harap, Bryant bisa membuat Ara lebih baik. Urusan ini, biarkan suami istri yang menyelesaikan. Semoga sahabat ku itu bisa bersikap lebih tenang.~batin Samuel berjalan menuruni anak tangga, pria itu akan melakukan pekerjaannya di dapur.


Sementara di dalam kamar. Bryant mendekati ranjang king size. Dimana sang istri tengah memejamkan mata. Wanita itu terlihat sangat kelelahan, dan juga tidak ada senyuman yang menghiasi wajah manisnya. Tak ingin mengganggu Ara, pria itu memilih duduk di sofa kamarnya. Ia juga mengambil majalah yang ada diatas meja, sekedar untuk menghilangkan rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.

__ADS_1


Andai saja, ia tega. Mungkin akan membangunkan Ara dan memberikan pertanyaan demi pertanyaan tentang masa lalu sang istri. Tidak akan terjadi seperti itu, ia masih waras sebagai seorang pria dan juga suami. Saat ini yang harus dilakukan adalah memberikan waktu untuk wanitanya merasa aman, tenang dan memiliki tempat bernaung serta bersandar. Keputusan membawa Samuel untuk menjadi pelindung sang istri adalah keputusan yang terbaik.


Bryant yang sibuk membaca isi majalah. Tidak menyadari, ketika Ara membuka mata dan diam-diam memperhatikan suaminya. Wanita itu tersenyum tipis menatap keberadaan sang suami, tapi hanya sesaat. Detik berikutnya, senyuman itu lenyap berganti rasa sesak di dada. Ingatan masa lalu semakin mencoba menerobos. Saat ia sendiri tidak ingin mengingat luka yang tertancap di hati.


Beberapa bulan sebelum tragedi rumah podjok. Di sebuah rumah berlantai dua, sepasang suami istri tengah menikmati makan malam bersama. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, membuat wanita yang menjadi pemilik rumah meninggalkan meja makan dan mempersilahkan tamu tak diundang untuk masuk kerumah nya. Itulah malam, dimana sang sahabat datang sekedar berkunjung dengan maksud tidak baik.


Tanpa Ara sadari. Pertemuan malam itu sudah direncanakan oleh suaminya sendiri. Malam itu, dimana hujan petir di luar rumah yang tiba-tiba saja datang. Akhirnya, membuat sang sahabat harus bermalam di rumahnya. Siapa sangka hal itu akan menjadi ancaman rumah tangga nya. Malam yang semakin larut, membuat semua orang terlelap.

__ADS_1


Suara detakan jam dinding terdengar cukup keras. Namun, bukan suara itu yang mengusik tidur lelapnya seorang istri. Melainkan, ketika tangannya meraba sisi lain kasur. Tidak ada sosok sang suami. Sontak saja, wanita itu mencari keberadaan suaminya. Disaat mencapai tangga, ada suara aneh yang merasuk ke gendang telinganya. Langkah kaki semakin memburu dengan menahan nafas tak menentu.


Suara erangan yang diiringi erotis terdengar begitu keras dari kamar bawah. Sorot lampu luar yang padam, sedangkan pintu kamar terbuka seperempat. Sudah cukup membuat tatapan mata melompat keluar. Jangankan berteriak, bahkan air mata tak bisa ia keluarga. Malam itu menjadi saksi bisu, dimana seorang istri melihat secara langsung kegilaan hasrat sepasang insan yang tidak memiliki ikatan bertukar peluh dan kenikmatan.


Akbar yang menyentuh tubuh Anggun dengan nafsu dan sahabatnya itu meronta meminta lebih kenikmatan surga dunia yang tengah dinikmati. Penyatuan kedua insan itu, membuat Ara tak sanggup lagi menerima kenyataan. Tubuhnya lemas tak berdaya. Sejak hari pernikahan, belum sekalipun sang suami menyentuhnya dan memberikan hak seorang istri.


Kenangan malam itu, membuat Ara memejamkan mata. Rasa sakit melihat penyatuan Akbar dan Anggun masih menyisakan luka yang dalam, bukan tanpa alasan kenapa ia masih perawan. Semua itu berkat sang mantan suami yang enggan menyentuhnya dan memilih menikmati wanita lain di kamar tamu. Tanpa sadar, isakan tangisnya terdengar mengusik konsentrasi Bryant yang tengah membaca majalah.

__ADS_1


Pria itu, bergegas menghampiri Ara, lalu menghapus air mata istrinya, "Ara, kenapa kamu menangis? Bangunlah!"


__ADS_2