Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 113: PERTEMUAN UNTUK PERPISAHAN


__ADS_3

"Siapa namamu? Apa ada yang bisa di hubungi?" tanya si dokter, tapi wanita itu justru menatap keluarga dari pasien lain, "Apa dia keluargamu juga?"


"Bukan. Om, aku tunggu di luar," Sam memilih meninggalkan ruangan itu, bahkan tanpa menunggu persetujuan dari yang lain.


Kepergian Sam, membuat Al dan dokter Rahadi bingung. Kemudian, kedua pria itu saling pandang. Sementara Rachel harus menelan kekecewaan sekali lagi. Yah benar, Paman mengalami insiden kecelakaan bersama mantan kekasih dari Samuel. Entah takdir macam apa yang dimiliki mereka, hingga setiap kali ada perpisahan selalu ada pertemuan. Namun, akan berujung pada perpisahan kembali.


Dua hati tanpa jalan persamaan. Rasa yang tertinggal menyisakan harapan semu. Jangankan waktu, doa pun tak bisa dipanjatkan. Semua percuma karena tak lagi bisa kembali. Kisah yang usai dengan kabut kegelapan. Menyesakkan hingga tak mampu termaafkan.


Dokter Rahadi fokus memeriksa keadaan sang pasien. Jadi, mau, tak mau. Al harus menunggu agar ia bisa memastikan keadaan wanita yang baru mengalami kecelakaan tetap baik-baik saja. Meski di dalam hati memiliki beberapa pertanyaan atas sikap dari Samuel yang sangat jauh berbeda dari kebiasaan pria itu.


Pemeriksaan selama sepuluh menit berakhir . Dokter Rahadi berusaha membantu sang pasien untuk bangun dari brankar, "Baiklah, Pasien dalam keadaan baik-baik saja dan hanya perlu istirahat. Jadi bisa untuk dibawa pulang."


Paman Al berusaha untuk membantu wanita itu, lalu ia tak lupa mengambil resep obat yang sudah ditebus. Kemudian, keduanya berjalan meninggalkan klinik dokter Rahadi. Tentu setelah menyelesaikan proses administrasi. Sementara Samuel yang berada di dalam mobil berulang kali menghela nafas. Pria itu benar-benar tenggelam menikmati rasa frustasi.


Bukan karena dia masih memikirkan soal sang mantan kekasih. Akan tetapi, ia berpikir kenapa harus lagi, dan lagi bertemu dengan wanita itu. Wanita dengan goresan luka sedalam samudra. Benar, kata move on sudah menjadi kebangkitan dunia barunya. Namun, jika terus bertemu seperti hantu. Apa hati sanggup menerima dan mengikhlaskan masa lalu.


"Dunia ini begitu sempit karena itukah? Akhirnya, aku harus selalu melihat wajah yang tidak pernah kuharapkan lagi. Apalagi jika Bryant tahu, tentang semua ini pasti akan menjadi masalah besar. Demi menghindari masalah baru, aku harus bicara dengan Om Al terlebih dulu. Semoga paman tidak memberitahu kejadian ini pada anggota keluarga yang lain," guman Sam berusaha untuk berpikir keras apa yang akan ia lakukan nanti.

__ADS_1


Al mempersilahkan Rachel untuk duduk di kursi belakang, sedangkan dia sendiri memilih untuk duduk di depan untuk menemani Samuel. Terlebih ketika melihat sahabat sang keponakan yang sibuk melamun, hingga tidak menyadari kehadiran mereka. Sontak saja, ia menepuk pundak kiri pria itu, "Sam, kamu kenapa?"


Pertanyaan Om Al, membuat pria yang duduk di kursi kemudi hanya menggelengkan kepala, lalu menyalakan mesin mobil. Tatapan mata yang memiliki pertanyaan tak membuat Samuel menggubris. Kini, dirinya hanya ingin fokus menyetir mobil dan sikap ambigu Sam, membuat Al semakin curiga. Sementara Rachel memilih ikut diam membisu dan memalingkan wajah melihat keluar mobil.


Selama perjalanan berlangsung. Hanya ada keheningan di antara mereka bertiga. Meski begitu, Al berusaha mencerna situasi yang tengah terjadi. Dimana satu sisi ada Samuel yang terdiam dengan sorot kemarahan, sedangkan satu sisi lagi ada Rachel yang memilih untuk tak memperhatikan sekitar. Sikap keduanya seperti kucing dan tikus yang bermusuhan, tapi tidak ada niat untuk saling mencakar. Ini adalah sikap aneh. Akan tetapi, nyata.


Sebenarnya, semua itu tidak perlu diambil pusing. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia paham satu hal. Dimana situasi masih dalam keadaan tidak kondusif. Maka, percuma saja memulai pendekatan. Niat ingin meluruskan saja, bisa berakhir ketidaknyamanan. Jadi, lebih baik ikut diam sementara waktu. Perjalanan itu masih terus berlanjut. Namun, mobil bukan menuju perumahan yang ditempati oleh Bryan.


Samuel yang menjadi supir kali ini. Pria itu telah mengubah arah jalan pulang ke daerah lain yang justru berbalik dari arah tujuan sebenarnya. Rachel yang menyadari jika itu jalan menuju rumahnya. Jujur saja bahagia hingga sedikit tersenyum tersungging menghiasi bibit. Siapa sangka, ternyata sang mantan kekasih masih ingat dimana rumahnya berada.


Rachel mengalihkan perhatian, lalu menatap spion tengah. Di saat bersamaan tak sengaja netra matanya bertemu dengan tatapan dari Samuel. Hanya beberapa detik. Kemudian keduanya saling mengalihkan pandangan, "Dia tidak pantas untuk masuk ke rumah kita. Apalagi untuk kita perhatikan. Jangan pernah berikan belas kasih, dia tidak punya hati."


Sakit, pedas dan tajam itu yang langsung dirasakan Rachel karena ucapan yang keluar dari mulut Samuel. Iya tahu, masa lalu itu adalah murni kesalahan darinya. Akan tetapi, apakah harus sebenci itu? Semua manusia bisa melakukan kesalahan. Apalagi di saat mereka masih remaja, tapi kenapa pria itu tak mau memahami tentang hal itu.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Sam, bagaimanapun dia juga wanita. Tidak bisakah kamu menghargai dia sebagai seorang wanita?" Al berusaha mengingatkan karena ia tak mau anggota keluarganya bersikap kurang ajar terhadap seorang wanita, "Bagaimana perasaan mu...,"


"Aku setuju dengan semua yang Om katakan. Akan tetapi, Om tidak akan berbicara seperti itu. Andai Om tahu, siapa dia. Sudahlah, aku tidak ingin mengungkit masa lalu. Sekarang, biarkan aku mengantar dia pulang dan berharap ini pertemuan terakhir," Jawab Samuel dengan nada ketus, membuat Rachel langsung menundukkan wajah serta menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah menolongku, tapi jika memang kamu keberatan untuk mengantarkan aku pulang. Turunkan saja aku di sini. Aku masih bisa pulang sendiri," Ujar Rachel berusaha untuk setenang mungkin. Jujur saja, rasanya begitu sakit mendengar seseorang yang masih memiliki tahta di dalam hati dengan lantang mengatakan kalimat yang begitu melukai.


"Apapun yang terjadi di antara kalian. Jika itu sudah menjadi masa lalu, lepas dan ikhlaskan. Aku rasa, kalian sudah cukup dewasa untuk memahami mana yang baik dan mana yang tidak. Apa kalian membutuhkan ceramah dari para orang tua? Tidak bukan. Hentikan mobilnya!"


Samuel langsung menginjak rem begitu mendengar perintah dari om Al. Namun, itu hanya dalam hitungan detik karena detik berikutnya. Pedal gas langsung di injak, membuat laju mobil tersebut begitu kencang. Pria itu tidak memikirkan keselamatan dari mereka bertiga. Di saat mobil itu benar-benar di luar kembali. Om Al langsung menepuk bahu Muel.


Kegilaan yang ntah datang dari mana. Al berusaha menyadarkan pria itu agar tidak mengikuti arus emosi. Saat ini Sam terlihat jelas begitu murka dari sorot matanya, "Apa kamu ini sudah tidak waras? Di sini ada tiga nyawa dan kamu bersikap seperti anak kecil. SAMUEL STOP!"


...----------------...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭



......................

__ADS_1


__ADS_2