
Ara tertegun dengan pertanyaan Darren. Mata merah di wajahnya yang tegas dengan alis terangkat. Wajah murka yang tidak bisa dilupakannya. "Ka Tama, lupakan ....,"
"Ayra! Aku tanya sekali lagi. Siapa DIA?" tanya Darren semakin menekankan kata terakhir agar wanita itu berterus terang, satu yang selalu dilakukan Ara. Dimana ketika memiliki perasaan untuk lawan jenis, maka pujaan hatinya itu selalu melindungi orang yang menjadi raja di hati.
Meskipun Darren berusaha begitu keras. Tetap tidak akan membuat Ara berkata jujur. Wanita itu diam dan tak ingin menyebutkan nama Bryant. Di saat bersamaan, tiba-tiba Bibi datang mengetuk pintu. Pelayan itu mengatakan jika ada tamu yang berkunjung ke Villa.
Mau, tak mau. Darren harus menurunkan emosi, lalu ia mengajak Ara untuk keluar bersama. Sesaat keduanya mencoba melupakan apa yang tengah mereka perbincangkan dan perdebatan. Keduanya akan menyambut tamu yang tak diundang, atau mungkin memang tamu itu sudah diundang.
"Ara, kamu mau istirahat atau mau ikut menyambut tamu?" Tanya Darren yang tidak ingin membuat wanita itu kelelahan. Apalagi emosinya tidak akan mengubah apapun. Sebagai seseorang yang memahami Ara, dia tidak ingin memberikan beban hati dan pikiran pada sang pujaan hati.
"Ini memang rumah kakak, tapi aku sudah menganggap rumahku juga. Bukankah sebagai pemilik rumah, maka kita harus menyambut tamu dengan ramah." Kata Ara menetralisir keadaan hatinya.
Wanita itu hanya ingin balas budi. Yah, meski dengan cara sederhana yaitu dengan menyambut tamu dan menawarkan segelas air untuk tamu. Keduanya berjalan bersama, tetapi hembusan angin yang menerpa seakan menyampaikan sesuatu. Darren terus berjalan menuju pintu. Namun, langkah Ara terhenti.
__ADS_1
Hatinya tiba-tiba berdetak begitu cepat. Entah kenapa? seperti akan ada yang terjadi, namun apa? Hembusan angin itu menyampaikan sebuah pesan, hingga bibirnya mengucapkan satu nama yang selama beberapa waktu terlupakan. Bryant.
Nama itu tiba-tiba melintas. Padahal sudah sebulan tidak melihat wajah pria itu, hingga pintu Villa terbuka secara perlahan. Tatapan mata Ara terpaku tak berkedip. Apakah ia sudah mulai mengalami gangguan penglihatan? Di depan sana, sebuah wajah yang sangat ia rindukan tiba-tiba muncul begitu saja.
Hatinya semakin berdegup kencang ingin sekali berlari dan merengkuh tubuhnya untuk mengobati rasa rindu yang kian menumpuk. Saat ini Ara berpikir. Jika kedatangan Bryant hanyalah mimpi dan ia masih menganggap semua itu hanyalah khayalan semata, sedangkan yang ditatap masih tidak menyadari keberadaan sang istri yang berdiri di belakang Darren.
Obrolan singkat dengan basa-basi, membuat kedua pria itu sibuk membicarakan hal tidak penting. Kemudian, Darren mengajak Bryant untuk masuk. Akan tetapi, di saat bersamaan. Ara membalikkan tubuh dengan tangannya yang memegangi dada. Semua rasa yang pernah ia rasakan seketika meluap.
Rasa rindu yang membelenggu, ingin sekali ia merengkuh tubuh pria itu dan membiarkan kedua tatapan mata menyatu. Namun itu hanyalah angan karena tamu yang mendatangi villa. Sudah pasti bukan suaminya sendiri.
Bukan hanya Ara, tetapi Bryant merasa gelisah. Siluet tubuh wanita di depannya sangat ia kenal, bahkan aroma parfum bunga itu sangat ia sukai. Langkah terhenti, dilihatnya Darren berpindah tempat. Sahabatnya itu, tersenyum sumringah.
"Bry, perkenalkan. Ayra, kekasihku." Darren memperkenalkan Ara sebagai kekasih hati, tetapi ketika ia membimbing wanitanya untuk menghadap ke arah Bryant. Tatapan mata sang sahabat terlihat begitu shock. "Astaga, Bry. Ayra ku bukan hantu. Cantik gini, kok kamu pucet?"
__ADS_1
"Sejak kapan dia menjadi kekasihmu?" Bryant bertanya spontan karena hanya pertanyaan itu yang terlintas di dalam pikirannya.
Darren terus tersenyum, lalu menoleh menatap penuh kasih ke Ara, "Sejak dulu. Dia adalah Ayra ku. Gadis sederhana yang pernah aku ceritakan padamu. Apa kamu ingat? Yah, inilah Ayra ku."
Ayra ku. Panas menyengat melelehkan lahar. Hatinya tak tahan, ketika mendengar Darren mengklaim istri siri nya sebagai seorang kekasih. Apalagi setelah pencarian yang terus dilakukannya. Bagaimana bisa, hubungan persahabatan akan terancam dalam kehancuran. Sekali lagi.
Lamunannya seketika buyar ketika sebuah tangan terasa menepuk tangannya. "Are you ok? Sebaiknya, kita duduk saja. Aku khawatir dengan reaksimu, Bry."
Ketika dua hati yang berpisah. Akhirnya kembali bertemu dengan takdir yang selalu penuh misteri. Ara dan Bryant hanya saling pandang, tetapi tatapan kedua mata lawan jenis itu menjelaskan banyak kisah yang masih belum usai. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan emosi hati dan isi pikiran keduanya.
Dibiarkannya Darren menggandeng tangan mereka. Langkah kaki yang saling beriringan tanpa melepaskan tatapan mata. Tanpa sadar, sang pemilik villa menjadi jalan pertemuan sepasang kekasih yang nyata.
"Ayra, kamu duduk dan kamu juga, Bry. Sebentar aku ke dapur. Malam ini, kita akan minum kopi bersama." Seloroh Darren penuh semangat, lalu tanpa memperhatikan situasi yang ada. Pria itu berlalu meninggalkan ruang tamu.
__ADS_1
Bryant menatap Ara begitu dalam tanpa berkedip. Mata merah menahan emosi, tetapi hatinya memberontak ingin segera merengkuh tubuh istrinya. Rasa rindu yang selama ini terabaikan berharap mendapatkan obatnya. Sementara Ara menunduk tatapan mata.
"Apa kamu masih marah denganku, Ara?" tanya Bryant lirih, hampir saja bibirnya tidak sanggup mengucapkan pertanyaan itu. Apapun yang terjadi, memang salahnya dan dia tak ingin membuat kesalahan baru.