Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 124: MOOD BUMIL


__ADS_3

"Semua nama kamu tolak. Begini saja, katakan nama yang kamu inginkan untuk anak kita. Aku akan mempertimbangkan, atau jika perlu. Kita bisa minta voting dari semua anggota keluarga. Bagaimana?"


Ara tersenyum sumringah ketika akhirnya sang suami mempersilahkan dia untuk memberikan saran nama. Padahal memang sejak awal, wanita itu ingin hanya dirinya saja yang memberikan nama untuk anak-anak nanti. Yah, mood bumil memang terkadang ekstrim dan pasti membuat para suami kebingungan harus bersikap apa. Seperti nasib Bryant hanya bisa menggelengkan kepala melihat reaksi sang istri.


Jujur saja pengalaman pertama akan menjadi seorang ayah. Justru memberikan rasa nano-nano yang luar biasa. Kini rasanya ingin selalu berada di dekat Ara dan berusaha memberikan semua yang istrinya mau, tapi sudut hati masih sadar. Jika saat ini, dia masih belum leluasa melakukan apapun. Pengajuan perceraian yang sudah disiapkan masih belum masuk ke meja pengadilan agama.


Diamnya sang suami, membuat Ara beranjak dari tempat tidur seraya menyambar bantal. Lalu, melemparkan begitu saja ke tubuh Bryant. Sontak saja, pria itu terkejut dan kembali sadar. Pikiran yang melayang, ternyata menjadikan dia mengabaikan sang istri. Lihatlah, sekarang wanita itu memilih berdiri di depan jendela membelakangi dan diam hening.


Sikap yang selalu mudah ngambek seperti anak kecil. Susah untuk dibujuk dan sekali bisa membujuk. Senyuman manis yang menggemaskan selalu tersungging di bibir Ara. Bryant ikut beranjak dari ranjang, lalu berjalan menghampiri Ara, kemudian melingkarkan kedua tangan di perut sang istri. Tidak ada penolakan, tapi juga tidak diterima.


"Maaf tidak mendengarkan istriku yang manis. Bisakah ulangi lagi? Nama seperti apa yang akan kamu berikan untuk anak kita. Aku tidak akan melamun lagi," bisik Bryant dengan kelembutan, suara yang menenangkan dengan aroma parfum dingin menyegarkan, sepertinya suaminya itu memakai parfum hembusan angin laut.


Bisikan suaminya memang memberikan kebahagiaan, tapi ntah kenapa ingin mengerjai Bryant. Sejak hamil, justru mood jail seperti on fire. Aneh, harusnya bersikap kalem. Namun, kenyataan berkata lain. Ara melepaskan kedua tangan yang melingkar di perutnya, lalu memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan. Tindakan itu berbalas dengan sang suami yang mengusap kasar wajah seraya menghirup udara begitu dalam.


Suara pintu yang terbuka, lalu tertutup lagi membuat Bryant hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan tingkah sang istri, tapi bagaimana lagi? Bumil pasti selalu benar dan memang ini salahnya karena tidak menjadi pendengar yang baik. Sedikit rasa frustasi yang dialami seorang suami. Justru senyuman jahil dengan senandung nada yang terdengar dari tangga.

__ADS_1


Kedatangan menantu kedua menyita perhatian para pelayan yang masih melakukan pekerjaan masing-masing. Rumah itu memang hidup sejak dihuni oleh gadis periang dengan tingkah jail yang terkadang tidak ketulungan. Meski begitu, semua orang menjadi bahagia karena keluarga tempat mereka bekerja benar-benar keluarga harmonis.


"Bi, boleh minta segelas jus alpukat, tapi jangan pake gula pasir. Cukup pake madu aja, ya. Makasih, Bi," pinta Ara setelah berhenti di bawah tangga terbawah, membuat salah satu pelayanan yang ada di dekat sang majikan mengangguk.


Sembari menunggu minumannya. Ara justru memakan kue tart yang ada di meja makan. Wanita itu terlihat begitu lahap dan tidak menoleh ke arah manapun. Saat ini yang terpenting adalah makanan manis di depannya. Tingkah lakunya seperti takut ketahuan dan buru-buru menghabiskan kue yang ada di tangan, hingga tiba-tiba ada tangan yang memegang kedua bahunya.


"Bisa datang setengah jam lagi, gak? Aku pengen abisin kue dulu. Nanti ketahuan, bisa di segel semua kuenya," ujar Ara tak mau mengambil sisa waktu dan langsung memasukkan seperempat potongan kue ke mulutnya, membuat wajah yang bersih berubah belepotan.


"Aku tidak akan melarangmu makan kue," Bryant mengambil beberapa tisu, lalu duduk di sebelah sang istri, kemudian mulai mengelap cream yang memenuhi permukaan bibir, bahkan ada yang ke ujung hidung, "Makan pelan! Kue ini untukmu dan semua makanan yang masuk sudah di periksa Sam. Jadi, aman. Tidak ada peraturan untuk melarangmu makan kue atau makanan yang lain."


Kebersamaan pasutri itu, tak luput dari pandangan sepasang kekasih yang baru saja masuk kedalam rumah. Suara langkah kaki sengaja diperlambat agar tidak mengganggu, tapi gagal. Ketika suara panggilan dari Ara membuat Bryant menoleh ke belakang. Terlihat Sam dan Ocy bergandengan tangan. Langkah kaki yang terpaksa harus mendekati meja makan.


"Ka, mana oleh-oleh nya?" Ara bertanya tanpa menelan kuenya terlebih dahulu, melihat itu Ocy melepaskan tangan dari genggaman tangan Sam, lalu mengambil segelas air putih yang disodorkan ke bumil, "Aku mau jajan, bukan air putih."


Ara memutar bola mata seraya menggembungkan pipi. Reaksi yang tidak mau mendengarkan dan ingin didengarkan dari bumil, membuat Sam melirik kekasihnya seraya memberikan kode mata agar menarik air putih yang dia ulurkan untuk sang adik. Bryant sendiri memilih bersikap waspada karena perlahan ia hafal perubahan sikap sang istri.

__ADS_1


Samuel berjalan menghampiri Ara seraya mengambil ponselnya. Ketika sudah berdiri di samping sang adik, dia berikan usapan kepala, "Ara mau jajan? Ini ponsel ku, dan sudah banyak aplikasi pemesan makanan. Apapun yang Ara mau, pesanlah! Kakak yang traktir."


Ara mengerjap tak percaya, tapi lumayan juga. Setidaknya dengan ponsel sang kakak. Dia bisa memesan makanan yang diinginkan. Senyuman tipis tersungging di bibir bumil. Sam yang melihat itu masih bersikap tenang, tapi Bryant bisa merasakan ancaman. Sebagai suami, dia tahu senyuman istrinya berbahaya.


Aku tidak sabar melihat mata terperangah Sam karena ulah istriku. Biarlah, palingan hanya menghabiskan berapa digit angka yang tidak seberapa. Semangat manisku, kuras saja semua isi rekening kakakmu dan pastikan tetap bahagia. ~batin Bryant dengan sikap tenang membiarkan Ara travelling dengan semua keinginan yang ntah sebanyak apa.


Isi hati Bryant seperti ikatan batin. Dimana Ara bermain ponsel milik Samuel, sedangkan yang punya ponsel memilih duduk di kursi lain yang berhadapan dengan sahabatnya. Begitu juga dengan Ocy yang ikut duduk sembari menunggu apa yang akan dilakukan Ara. Ketiga pasang mata hanya menatap bumil yang tersenyum mengembang scroll kesana kemari seperti main ayunan.


Satu jam kemudian. Pintu masuk terbuka lebar karena Pak Satpam sengaja menjaga pintu agar tetap terbuka dan beberapa orang masuk kedalam rumah. Bukan berapa banyak orang yang masuk, tapi apa yang mereka bawa benar-benar membuat banyak mata melotot dengan mulut melongo. Hanya Ara yang tersenyum sumringah, dan Bryant tersenyum penuh kebanggaan.


"De, kamu mau buka usaha?" Tanya Sam spontan dengan tatapan terperangah tak percaya, sedangkan yang ditanya justru menunjukkan cengiran kuda.


...----------------...


__ADS_1


...----------------...


__ADS_2