
"Om, gak baik mengancam seperti itu," Muel mengingatkan dengan santainya, ''Sayang, jangan terlalu penasaran dengan kehidupan Om Al. Itu namanya gak sopan."
Teguran sang kekasih membuat bibir Ocy maju lima senti dengan tatapan mata melengos, sedangkan Al memilih diam seraya bermain ponsel. Perjalanan berlanjut hanya dalam waktu sepuluh menit hingga mobil memasuki area parkir. Dimana beberapa mobil lain juga terparkir rapi. Pak sopir mematikan mesin mobilnya. Lalu, melepaskan sabuk pengaman.
"Mari, Tuan, Nona, kita sudah sampai." ucap Pak Sopir membuka pintu mobilnya.
Al ikut menyusul, begitu juga dengan yang lainnya. Rombongan itu berjalan menuju rumah makan MakNyus Ibu Gendis. Dari depan terlihat sederhana, tapi jangan salah, ya. Parkiran motor saja penuh, dan juga parkiran mobil. Pasti yang makan di tempat itu dari semua kalangan.
"Eh, ada tempat spot foto tuh. Kesana, yuk!" ajak Ocy ketika melihat sebuah ayunan dengan lilitan bunga mawar palsu.
Ara yang langsung ditarik Ocy hanya bisa pasrah mengikuti langkah di depannya, begitu juga dengan Kinara. Sementara Muel dan Al sepakat hanya menggelengkan kepala pelan. Tidak perlu khawatir meskipun sikap absurd si bodyguard. Wanita satu itu bisa menjaga orang-orang terdekatnya dengan sangat baik.
"Tuan, mari masuk! Mau pesan apa saja? Biar bapak pesan kan," kata pak sopir dengan senyuman ramah.
Al memberikan kode mata, membuat Muel mengangguk. Langkah kakinya berjalan menghampiri pak sopir, lalu masuk ke rumah makan bersama. Sementara Al masih ingin melihat pemandangan di depan sana. Dimana Ocy, Ara dan wanita satu lagi sibuk bertukar posisi demi mendapatkan foto yang terbaik.
__ADS_1
"Ku harap kebahagiaan selalu menyertaimu, Ara. Kamu adalah harapan keluarga Putra. Semoga dengan kehadiranmu, Bryant kembali ke pelukan kami," Om Al tersenyum memikirkan masa depan yang pasti akan ia wujudkan, apapun caranya akan diusahakan yang terbaik.
Sepuluh menit berlalu.
Suara pesan masuk mengalihkan perhatian Al. Ponsel yang ia genggam bergegas ia periksa. Ternyata pesan dari Muel yang mengatakan pesanan makanan sudah mulai berdatangan. Tanpa membalas pesan itu, langkah kaki berjalan menghampiri ketiga wanita yang penuh canda tawa.
"Hay, Tuan. Mau gabung?" Ocy bertanya tanpa sungkan, tapi hanya dijawab gelengan kepala sang majikan.
"Makanan sudah siap. Ayo!" ajak Al seraya melambaikan tangannya.
Al mengulurkan tangan kanannya ke arah Ara, "Ayo! Kali ini, kamu tanggung jawabku."
"Ish, Om Al. Ara istrinya Tuan Bryant, loh," ucap Ocy spontan, membuat satu jitakan tepat mendarat di kening bodyguard itu, sontak saja Ocy nyengir dengan melebarkan senyumannya tanda berdamai.
Ara dan Kinara hanya menyimak dengan menahan tawa, keduanya tersenyum. Sungguh hubungan orang-orang disekitar mereka unik. Ada majikan dan karyawan tapi bersikap seperti teman. Terkadang bersikap seperti tom and jerry.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Jamuan makan yang cukup mengenyangkan perut akhirnya selesai dengan wajah puas. Kini mobil yang mengantarkan rombongan, baru saja tiba di depan gerbang yang menjulang tinggi. Ditengah gerbang ada simbol bunga. Gerbang dengan jeruji arang memperlihatkan kemegahan istana di depan sana. Tatapan mata kagum tak bisa di pungkiri.
"Om, apa kita tidak salah alamat? Itu bukan rumah, tapi istana," kata Muel yang ikut terpesona.
Ocy saja harus berulang kali mencubit tangannya sendiri, sedangkan Ara hanya diam mencerna semuanya. Hanya Kinara yang bersikap santai, Al memasukkan kembali dompetnya ke saku, setelah selesai melakukan transaksi pembayaran pada mobil yang ia sewa.
Tanpa menjelaskan apapun, tangannya menggandeng Ara agar keduanya berjalan menuju gerbang tengah. Dimana gembok masih terkunci, lalu sesuatu dari balik saku jas dikeluarkan Al. Yah, kunci perak dengan bentuk lucu. Tatapan mata meneduhkan, membuat sang istri siri Bryant merasakan kasih sayang seorang ayah yang selama ini, ia rindukan.
Al menyerahkan kunci rumah baru di tangan kanan Ara, "Ini kunci rumahmu. Jangan khawatir, tidak seorangpun bisa mengusirmu dari rumahmu sendiri. Bangunan yang akan menjadi saksi babak baru kehidupanmu tertulis dengan atas namamu."
"Berbahagialah, karena kami selalu ada untukmu. Selamat datang di keluarga Putra. Ara Bryant Angkasa Putra."
Rentangan tangan yang dilakukan Al, membuat Ara menghamburkan diri memeluk pria itu. Tanpa terasa lelehan air mata membasahi kedua pipi. Sementara Ocy yang terharu ikut memilih memeluk sang kekasih dengan menyadarkan kepalanya. Pemandangan itu benar-benar bisa membuat siapapun iri. Termasuk dokter Kinara yang hanya bisa menahan hawa panas di sekitarnya.
__ADS_1
Rasanya lebih baik aku mengoperasi pasien duapuluh empat jam, daripada harus menjadi patung diantara kehangatan kasih sayang keluarga. ~batin dokter Kinara.