
Waktu begitu cepat berlalu. Hari ini Cakra dan Naureen akan berangkat ke Paris. Setelah menyelesaikan urusannya di kantor polisi, ia menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada Alex, sedangkan baby Devano ia titipkan kepada mama Ratna untuk sementara waktu selama ia berlibur di Paris.
"Sayang, ayo. Pesawatnya sudah mau berangkat." Ujar Noureen pada Cakra. Saat ini Cakra sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Tadi saat ia keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berbunyi, ia mengangkat panggilan telepon nya yang ternyata itu dari seseorang yang ia perintahkan untuk menyelidiki pembangunan apartemennya. Terlihat Cakra meremas jarinya, ia mengeram. Ternyata dalang atas ambruknya apartemen yang di bangun Cakra adalah Candra dan alea. Ia menyuap kontraktor yang menangani pembangunan apartemen miliknya. Tentu saja Candra dan Alea membayarnya dengan jumlah berkali-kali lipat dari uang yang ia terima dari Cakra.
"Mas." Panggil Noureen.
Cakra menoleh, dan mengangguk, memberi isyarat pada Noureen agar bersabar sebentar. Setelah mematikan ponselnya, Cakra kembali menghubungi seseorang yang tak lain adalah Alex. Ia memerintahkan kepada asistennya itu untuk mengumpulkan semua bukti yang orang suruhannya dapat dan kemudian menuntut Candra dan alea dengan hukuman seberat-beratnya.
Setelah menghubungi Alex, Cakra mematikan ponselnya. Ia menghampiri Noureen yang sudah terlihat cemberut."kau marah?" Tanya Cakra.
Noureen tidak membalas ucapan suaminya, ia malah berjalan menghampiri Cakra. Melihat kelakuan istrinya Cakra tersenyum, ia tampak gemas." Andai saja ini bukan Bandara, ingin rasanya aku menerkammu." Lirih Cakra dan memperlebar langkahnya agar bisa mengejar langkah istrinya.
"Sayang," panggil Cakra.
Noureen tidak menoleh, ia semakin memperlebar langkahnya. Namun tepat saat Noureen akan berbelok ke pintu keberangkatan Cakra menahan langkah Noureen dan mengapitnya ke dinding." Kau marah pada ku?" Tanya Cakra
Noureen tak menjawab, ia membuang wajahnya ke samping. Cakra tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, seketika jantung Noureen berdetak dua kali lipat, wajahnya terlihat bersemu merah." Capat jawab apakah kau marah padaku, jika kau tak menjawab aku akan menciummu di sini." Ancam Cakra.
Seketika Noureen Membulatkan kedua matanya. Entah Kenapa suaminya begitu nekat. Mendengar ucapan Cakra mau tidak mau Noureen menggeleng." Aku tidak marah." Ujar Noureen dengan penuh ketidak relaan. Melihat wajah istrinya yang datar, Cakra Semakin mendekatkan wajahnya." Kau tampak tidak ikhlas, aku ingin kau berbicara sambil tersenyum." Sambung Cakra.
Mendengar ucapan Cakra. Noureen kemudian tersenyum." Sudah." Jawab Noureen dengan menampilkan senyum indahnya.
Semua mata yang ada di bandara tampak menatap kedua pasangan suami-istri yang saling mengapit di dinding.
Melihat tatapan mata orang-orang yang ada di sana , Noureen lalu mendorong dada suaminya.
__ADS_1
"Lepas, mas. Aku malu, semua orang tampaknya melihat kita." Pungkas Noureen.
Cakra melepas tubuh Iren dan menoleh pada orang-orang yang ada disana.
"Apa yang kalian lihat!" Bentak Cakra." Tundukkan mata kalian , jika tidak, hari ini juga bandara ini akan aku tutup." Sambung Cakra.
Semua orang yang tadi melihat kedua pasangan suami-istri itu seketika menunduk dan melanjutkan aktifitas mereka. Nyatanya Cakra menanam saham besar pada bandara ini, dan jika Cakra memutuskan untuk menutup bandara ini, mau tidak mau kepala bandara akan menutup bandara sesuai keinginan Cakra.
"Mas, ayo. Jangan membuat keributan di sini." Noureen memeluk lengan suaminya. Mengajaknya masuk kedalam ruang tunggu. Mereka hanya akan terbang tanpa mengurus dokumen penerbangan terlebih dahulu, karena semua itu sudah di urus oleh Alex sebelum mereka berangkat ke bandara.
"Ayo mas,"ajak Noureen. Suaranya dibuat manja, agar Cakra menuruti kemauannya.
Melihat sang istri yang kekeh mengajaknya masuk ke dalam bandara. Cakra pun melanjutkan langkahnya mengikuti Noureen.
"Lepas ren." Seru Cakra.
Noureen tampak mengeleng, jika aku melepaskan, Mas. Mas akan kembali ke sana dan membuat keributan." Ujar Noureen.
Cakra tersenyum." Lepas ren. Aku akan membuat perhitungan pada mereka semua." Cakra berusaha memanas-manasi sang istri. Nyatanya ia tidak mungkin melakukan itu, mana mungkin hanya persoalan kecil seperti itu ia akan memperpanjang masalah..
Mendengar ucapan suaminya. Bukannya melepaskan Noureen malah mengeratkan pelukannya. Hal itu membuat Cakra tersenyum penuh kemenangan.
***
Hampir tiga puluh menit Cakra dan Noureen menunggu di ruang tunggu dan akhirnya pesawat yang akan mereka tumpangi akan berangkat. Terdengar petugas Bandara sudah melakukan boarding pass untuk semua penumpang kelas ekonomi. Terkecuali Cakra dan Noureen karena mereka akan duduk di kelas bisnis pesawat, itu sebabnya mereka akan masuk ke dalam pesawat setelah penumpang kelas ekonomi sudah berada di dalam pesawat.
__ADS_1
"Silahkan tuan, Nyonya." Ucap seorang petugas bandara yang menghampiri mereka di ruangan VIP."
Noureen dan Cakra mengangguk. Berdiri dari duduknya dan langsung berjalan mengikuti petugas bandara untuk masuk ke dalam pesawat dengan menyeret sebuah koper. Cakra dan Noureen memang sengaja tidak membawa barang banyak. Cakra sudah berjanji akan memberikan semua yang Noureen inginkan. Mendengar ucapan suaminya Tantu saja Noureen mengiyakan. Istri mana yang akan menolak saat suaminya menawarinya berbagai macam barang branded dengan taksiran puluhan juta.
Noureen tersenyum saat ia sudah duduk di dalam pesawat. Cakra mengeratkan sabuk pengaman Noureen dan hal itu tidak luput dari tatapan sang istri. Mungkin bisa dikatakan Noureen adalah istri yang paling beruntung karena bisa mendapatkan lelaki sebaik Cakra. Saat Cakra sibuk memasangkan sabuk pengaman Noureen, Noureen langsung memberikan kecupan singkat di pipi suaminya kemudian membuang wajahnya ke luar jendela.
Merasakan kecupan singkat sang istri. Cakra memegang pipinya lalu mengadakan pandangan ke wajah sang istri. Ia tersenyum, kemudian bangkit dari posisinya, kemudian ******* bibir Noureen secara rakus. Dua Pramugari Cantik yang ada di sana langsung membuang wajahnya. Terdengar mereka berbisik." Mungkin mereka baru saja menikah." Bisik salah satu pramugari dan di ikuti anggukan oleh temannya.
Noureen mendorong tubuh Cakra. Tak lama Cakra melepaskan ciumannya. Ia lalu mengusap bibir istrinya." Nanti kita lanjutkan di hotel." Pungkas Cakra.
Mendengar ucapan Cakra, Noureen kembali membulatkan matanya. Bisa-bisanya suaminya mengatakan hal semacam itu didepan orang lain. Tentu saja hal itu membuat Noureen Sangat malu. Wajahnya bersemu ia membuang wajahnya ke luar jendela. Tanpa memperdulikan Cakra yang saat ini tersenyum.penuh kemenangan.
Melihat Noureen yang tampak malu. Cakra kembali berbisik di telinga sang istri." Kau tidak usah malu. Kita sepasang suami-isteri siapa yang akan menghalangi kita." Ujar Cakra. Dan kembali menegakkan Duduknya. Ia memperbaiki posisinya agar bisa duduk dengan nyaman selama perjalanan menuju ke Paris.
Setelah merasa nyaman, Cakra kemudian memejamkan mata. Noureen yang sejak tadi menatap keluar jendela tampak menoleh ke arah Cakra dan ikut bersandar di lengan kekar sang suami.
.
.
.
.
Terimakasih yang masih mengikuti.
__ADS_1