
Adrian berdiri, ia kemudian berjalan ke arah meja. Meja usang yang entah sudah berusia berapa tahun. Meja yang sejak dulu Anaya gunakan jika ia mengerjakan tugas kampusnya. Saat sampai di meja, Adrian menarik kursi kayu Kemudian duduk di kursi itu. Ada beberapa foto yang terpajang di sana. Salah satunya, foto sepasang wanita dan pria yang menggendong sebuah balita berusia sekitar satu tahun. Adrian mengambil foto itu, lalu tersenyum melihat balita mungil yang sedang Tertawa. Tak perlu ia bertanya lagi, bayi itu pasti Anaya.
Setelah melihat foto kedua orang tua Anaya. Adrian beralih melihat foto Anaya. Adrian mengernyitkan alisnya. Pasalnya ia mengenal perempuan di foto itu, perempuan itu adalah Noureen, teman masa SMP nya. Beberapa tahun yang lalu ia juga pernah bertemu dengan Noureen di kampus. Ia sempat jatuh cinta pada gadis itu. Namun, sebelum cintanya berlabuh, cintanya sudah lebih dulu karam, karena Noureen sudah menikah dengan anak pemilik dari SS Crop.
Saat sibuk melihat-lihat barang-barang kepunyaan Anaya. Adrian beralih melihat Notebook yang ada di depannya. Ia menoleh ke arah ranjang dan melihat Anaya sudah tidur. Setelah itu ia mulai memberanikan diri membuka notebook Anaya.
Di halaman pertama penuh dengan catatan lowongan kerja paruh waktu. Adrian beralih melihat tanggalnya. Catatan itu ditulis sekitar lima tahun yang lalu. Setelah itu Adrian membuka lembaran berikutnya di sana tertera catatan penghematan keuangan Anaya. Tiba-tiba rasa iba menyelimuti hati Adrian. Ya, Adrian sudah tahu sejak dulu Anaya memang bekerja paruh waktu di sebuah cafe. Tapi Adrian tidak tahu jika begitu rumitnya keuangan Anaya sejak dulu. Sedangkan dirinya yang terlahir sudah memiliki segalanya tidak pernah sekalipun kekurangan uang, ia tidak perlu berhemat seperti yang Anaya lakukan.
Setelah itu, Adrian kembali membuka lembaran berikutnya. Di sana terpampang foto ayah Anaya dan tanggal kepergiannya.
Ada beberapa alamat yang sudah Anaya kunjungi. Namun alamat itu sudah beberapa yang ia coret. Di sana jelas tertulis jika pencarian di beberapa alamat itu tidak membuahkan hasil. Adrian mengambil foto ayah Anaya, melihatnya. Kemudian beralih melihat Anaya yang tertidur di ranjang. Setelah itu Adrian bangkit dari kursinya dan berjalan ke ranjang. Ia mengambil ponselnya yang ada di nakas dan langsung keluar dari dalam kamar Anaya.
Setelah sampai di depan kamar. Adrian menghubungi seseorang. Setelah panggilannya terhubung ia langsung berbicara pada orang itu." Kau cari tahu tentang pria bernama bagas. Terakhir kali ia bekerja di sebuah travel yang ada di Jogja. Cek email mu, aku akan mengirimkan riwayat orang itu." Setelah mengucapkan itu, panggilan Adrian pun terputus.
Adrian masuk kembali ke dalam kamar, mendudukkan dirinya di kasur, kemudian masuk ke dalam selimut yang sama dengan yang di pakai Anaya. Sesaat ia memandang wajah Anaya yang sedang tertidur pulas. Tangannya bergerak mengusap rambut wanita itu, ia tersenyum kemudian mengecup pucuk kepala Anaya. Bibir pria itu kembali melengkung. Hatinya seolah berbunga-bunga. Apakah ia sudah mulai jatuh cinta pada Anaya? Entah lah, yang jelas ia seolah ingin selalu bersama dengan wanita ini.
Lama memandang wajah Anaya, wajah Adrian tiba-tiba berubah menjadi sendu, mengingat betapa jahatnya ia pada Anaya di awal-awal mereka bertemu. Ia sempat menyuruh Anaya bekerja di apartemennya menjadi seorang pembantu, setelah itu, ia menjebak Anaya hingga berakhir menjadi istrinya. Ya, tuduhan yang dilayangkan pihak perusahaan pada pak Darwis adalah ulah dari Adrian. Adrian dengan mudah menyabotase data pembelian barang perusahaan atas bantuan salah satu orang penting di dalam perusahaan itu. Setelah lama memandangi wajah Anaya, ia kembali mengecup pucuk kepala Anaya. Kemudian merebahkan tubuhnya di samping Anaya. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Sesekali ia mengecup pucuk kepala Anaya yang tepat berada di bawah dagunya kemudian mulai memejamkan mata.
Saat nafas Adrian sudah mulai teratur. Anaya seketika membuka matanya, ia menggeser kepalanya, menatap pria di sampingnya dengan penuh rasa aneh. Bukannya senang mendapatkan perlakuan manis dari Adrian, Anaya malah merasa heran. Entah apa yang membuat pria di depannya berubah 100 derajat Celcius, padahal tadi pagi pria itu masih membentaknya. Tadi, saat Andrian masuk ke kamar, Anaya tiba-tiba terbangun saat merasakan Adrian duduk di kasur ternyata pria itu belum tidur sama sekali. Awalnya Anaya ingin membuka matanya menyuruh Adrian untuk tidur. Namun pergerakannya terhenti saat Adrian melayangkan satu kecupan di pucuk kepala Anaya. Malu, tentu saja Anaya merasa malu. Pipinya tiba-tiba saja bersemu merah saat Adrian mencium keningnya. Untung saja di kamar itu, lampu sedang di padamkan, dan hanya memakai lampu tidur. Jika tidak Adrian akan tahu jika Anaya sedang bersemu.
***
Suara gemercik air terdengar menetes dari atap genteng turun membasahi tanah setelah uapan embun menguap di pagi hari.
Anaya yang masih mengenakan piama, serta rambut yang di ikat sembarangan kini sedang sibuk mempersiapkan sarapan untuk penghuni rumah.
"Nay, masak apa, nduk?" Tanya Bi Asih yang baru saja pulang dari langgar yang terletak tidak jauh dari ujung jalan.
"Cuma nasi goreng, Bi." Anaya kembali mengaduk nasi gorengnya, setelah menjawab pertanyaan dari bibinya.
"Adrian mana toh, nduk?"
"Sepertinya masih tidur, Bi. Dia kesulitan tidur semalam, Mungkin tidak terbiasa dengan suasana kamar Anaya." Anaya tersenyum. Mengambil wadah untuk menyajikan nasi gorengnya. Setelah itu, Anaya mengambil cangkir, kemudian menyeduh kopi untuk Adrian.
__ADS_1
Setelah semua makanan sudah tersaji di meja. Anaya lalu berjalan ke kamarnya, hendak membangunkan Adrian untuk sarapan. Untung hari ini hari libur, jadinya Adrian tidak harus pulang ke apartemen mereka pagi-pagi. Mereka masih bisa bersantai terlebih dahulu.
Saat sampai di kamarnya, Anaya langsung berjalan mendekat ke ranjang. Dengan perlahan ia mulai membangunkan Adrian. Namun pergerakannya terhenti saat Adrian menarik tangannya, Hingga Anaya terjatuh tepat di atas dada Adrian.
"Apa yang kau lakukan, lepas!" Anaya menatap tajam Adrian yang saat ini memejamkan mata sambil tersenyum.
"Cepat, lepas! Jangan bercanda. Lepas ngak!" Seru Anaya.
Bukannya melepas, Adrian malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Anaya geram.
"Morning kiss." Seru Adrian santai tanpa beban.
"Ngak, ngak ada morning kiss. Lepas ngak!" Seru Anaya.
Adrian kembali tersenyum." Jika kau tidak mau memberiku morning kiss. Aku tidak akan melepaskanmu." Ancam Adrian.
"Terserah, pokoknya lepas." Anaya kembali meronta-ronta. Namun tanpa sengaja pahanya menyentuh benda keramat Adrian yang sudah menegang di bawah sana.
"Bagaimana jika kita bermain satu ronde pagi ini, setelah itu kita sarapan." Seru Adrian tanpa tahu malu.
"Tidak! aku tidak mau! Anaya terus meronta-ronta berusaha lepas dari Kungkungan Adrian.
"Ayolah… ajak Adrian lagi." Dengan wajah memelas. Ya, awalnya Adrian hanya ingin mengerjai Anaya. Namun, saat paha Anaya menyentuh benda keramatnya ia seolah terhipnotis untuk melakukan hal lebih. Setelah itu, Adrian memutar tubuh Anaya Hingga saat ini, anaya berada di bawah Kungkungannya.
"Lepas, Adrian. Sarapannya akan dingin jika kita berlama-lama di kamar." Ujar Anaya, ia terus mencari cara agar ia bisa lepas dari Kungkungan Adrian. Tepat saat Adrian akan mencium bibirnya, Anaya berteriak." Adrian ada bibi." Saat Adrian menoleh, dengan cepat Anaya mendorong tubuh Andrian, Hingga Anaya bisa terlepas dari tubuh Adrian. Buru-buru Anaya bangkit dari kasur dan keluar dari kamar.
"Sial." Ujar Adrian. Ia mengusap wajahnya saat tak berhasil menidurkan benda keramatnya. Setelah itu, Adrian perlahan bangkit, ia memegang benda keramatnya yang terus saja menegak. Mau tidak mau ia harus masuk ke dalam kamar mandi menidurkan benda keramatnya.
Dengan langkah gontai, Adrian bangkit dari kasur, mengambil handuk dan berjalan keluar dari kamar. Saat ia sampai di depan kamar. Ia menengok ke kanan dan ke kiri kemudian berjalan masuk ke kamar mandi.
Setelah membersihkan tubuhnya dan menidurkan benda keramatnya, Adrian keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Sesekali terlihat ia mengusap rambutnya menggunakan handuk.
__ADS_1
" Nak, Adrian. Ayo sarapan dulu." Panggil Bi Asih.
Anaya yang sudah duduk di meja makan tetap menunduk, ia begitu sangat malu jika harus bertatap dengan Adrian.
"Nduk, suami mu di panggil. Tidak baik loh, jika mendahului suami." Ujar bi asih.
Seketika Anaya mengangkat wajahnya, dengan wajah malas ia berdiri dari kursi menghampiri Adrian dan mengajaknya untuk sarapan.
Setelah mereka sampai di meja makan, mereka masih sama-sama terdiam. Bi asih yang melihat itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Anaya.
" Nduk, siapkan makanan untuk suami mu." Seru bi asih. Pasalnya sejak tadi Anaya terdiam. Harusnya seorang istri harus menyiapkan makanan untuk suaminya, sedangkan Anaya hanya diam.
Anaya kemudian mengambil piring, mengisinya dengan nasi beserta telur ceplok lalu menyimpannya di depan Adrian.
Adrian tersenyum melihat nasi goreng di depannya. Ia menyeruput kopinya. Mengambil sendok dan mulai melahap nasi gorengnya.
Di meja makan semuanya tampak terdiam. Bi Asih yang ada di sana tampak curiga melihat Adrian dan Anaya terdiam hingga saat adrian selesai menikmati sarapannya, Bi Asih langsung mengajak Adrian mengobrol. Sedangkan Anaya, ia kembali masuk ke dalam kamar bersiap-siap untuk kembali ke apartemen.
"Nak Adrian, maaf jika bibi lancang, bukan maksud mencampuri urusan kalian. Tapi bibi ingin bertanya, apa kalian ada masalah?" Tanya bi asih.
Dengan cepat Adrian menggeleng kemudian tersenyum." Tidak bi, kami baik-baik saja." Elak Adrian.
Bi asih langsung tersenyum. Ia paham betul jika keponakan menantunya ini sedang berbohong.
"Baguslah jika kalian tidak punya masalah. Bibi cuma mau mengingatkan, jika kalian ada masalah, jangan berlarut-larut, karena bisa berakibat buruk dengan hubungan kalian. Bibi juga selaku bibi Anaya memohon maaf jika kadang sikap Anaya kekanak-kanakan." Ujar Bi asih
Adrian hanya tersenyum kikuk. Ia tidak tahu akan menjawab apa, karena selama ini, ia belum tahu terlalu dalam tentang sifat Anaya.
.
.
Terima kasih
__ADS_1
.