Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
Episode 85


__ADS_3

Cakra memperlebar langkahnya memasuki ruangan Intensive care unit (ICU) mount Elizabeth.


Sajak tadi wajahnya terlihat sangat khawatir. Ia berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU. Sesekali tubuhnya ia tempelkan ke dinding. Bibirnya terlihat terus saja bergerak sambil memanjatkan doa-doa untuk kesembuhan sang istri yang saat ini berada di ruang ICU. Tepat saat ia ingin menerobos masuk ke ruangan mencari informasi. tiba-tiba seorang suster menghampirinya.


"Tuan Cakra?" Cakra berbalik ke arah sumber suara.


"Benar, ada apa sus."


"Anda diminta ke ruang dokter sekarang, ada hal penting yang ingin disampaikan kepada anda."


Deg 


Mendengar ucapan dokter, seketika Jantung Cakra seolah berhenti berdetak. Ada apa ini? apa ini artinya…..? Tidak mungkin! Dengan cepat Cakra menggeleng-gelengkan kepalanya membuang pikiran buruk yang ada di kepalanya. sungguh ia tidak ingin berspekulasi sendiri. secepat kilat ia mulai memperlebar  langkahnya.


Sesampainya ia di ruangan dokter, tanpa mengucapkan salam ia langsung menerobos masuk.


"Dok, apa yang terjadi dengan istri saya?" Cakra terlihat pucat dengan penuh kekhawatiran di wajahnya Sedang Berdiri tepat di depan meja dokter tersebut.


"Tenang, pak. Silahkan anda duduk dulu." Dokter itu tampak mengulas tersenyum.


"Tidak, dok! Cepat katakan! Ada apa dengan istri saya?" Cakra menatap tajam ke arah dokter umum yang memantau kondisi Noureen selama ini.


Pria berkacamata dengan usia kira-kira tiga puluh lima tahun itu  menghembuskan nafas, lalu kembali mengulas senyum indah di bibir tipisnya dengan lesum pipi menancap di salah satu pipihnya.


"Cepat katakan!


Akhirnya dokter itu mengalah.


"Mari ikut saya," dokter itu lalu berjalan mendahului Cakra.


Sesampainya di ruang inap. Cakra mengerutkan keningnya. Untuk apa ia ke ruang inap. Bukankah istrinya saat ini berada di ICU? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Sampai saat dokter membuka pintu ruang perawatan.


Langkahnya seketika terhenti, saat melihat ke arah brankar. seorang perempuan yang paling ia rindukan tersenyum ke arahnya. Apa ini mimpi? atau ia sedang berhalusinasi?


Ia kemudian menepuk-nepuk pipinya. Apa aku saat ini sedang berhalusinasi? Lalu ia kembali menatap ke arah brankar. Ia masih melihat wajah perempuan yang ia sangat rindukan." Sebegitu rindunya kah aku padamu sampai-sampai aku terus saja berhalusinasi tentang mu?"lirih Cakra dengan wajah yang tampak kebingungan.


Melihat Cakra yang tampak kebingungan, Dokter itu kembali mengulas senyum." Istri anda sudah sadar dari komanya."


"Apa dok? Apa aku tidak salah dengar?" Cakra menatap dokter itu. Mencari keseriusan dari ucapan dokter itu.


"Istri anda sudah sadar, anda tidak salah dengar. Memang betul istri anda sudah sadar."dokter itu kembali tersenyum memperlihatkan senyumnya yang paling menawannya.


Tanpa menjawab lagi, Cakra berjalan menghampiri brankar Noureen.


"Sayang apa benar ini kamu?" Mata Cakra terlihat berkaca-kaca dengan senyum kebahagiaan yang tersungging di bibirnya.

__ADS_1


"Noureen mengangguk.


Seketika ia memeluk tubuh Noureen." Jangan tinggalkan, mas lagi!" Sungguh saat ini ia begitu sangat bahagia. Kebahagiaan terbesar yang pernah dialaminya. Beberapa saat yang lalu ia sempat putus asa dengan kondisi sang istri yang belum juga ada tanda-tanda akan siuman. Namun, ia tidak pernah berhenti berdoa selama harapan itu belum hilang, ia akan terus berdoa. Dan hari ini Tuhan sudah mengabulkan setiap doa-doanya. Istrinya kembali, istrinya siuman. Hal yang sangat ia nantikan bisa melihat senyum indah di bibir sang istri kembali.


Noureen mengangguk.


"Terimakasih, sayang. Kau sudah menepati janjimu,"Cakra merebahkan kepalanya di pundak sang istri sedang tangannya memeluk erat tubuh perempuan yang begitu amat ia sayangi.


***


Di hotel, terlihat Bu Ratna dengan peralatan yang memadai baru saja selesai memandikan Baby Devano. Wanita yang menginjak usia setengah abad itu terlihat sangat cekatan. Buktinya dalam proses memandikan Baby Devano tak ada drama sang bayi menangis. Bayi merah itu tersenyum. Lidahnya menjulur keluar. Sesekali tangannya bergerak ke arah mulut, dengan cepat lidah mungilnya menjilati permukaan kulit yang tersentuh bibir.


Bu Ratna tersenyum, sesekali ia mengajak bayi itu mengobrol.


Sedangkan Bu citra baru saja selesai mempersiapkan pakaian serta semua perlengkapan bayi vano seperti pupur, minyak telon, parfum, baju serta bedong.


Tak lama Bu Ratna keluar dari kamar mandi dengan menggendong bayi mungil vano.


Di sisi kasur, Bu citra tersenyum.


"Cucu eyang sudah mandi, ya?" Tanya Bu citra sesaat setelah baby vano sudah di letakkan di atas kasur.


"Iya eyang," jawab Bu Ratna dengan suara khas bayi.


Para eyang itu pun tertawa.


"Wah, cucu eyang terlihat sangat tampan," puji Bu citra saat memandangi baby Devano yang di baringkan di atas kasur.


" Terimakasih eyang," jawab Bu citra lagi.


Tak lama Bu citra mengambil Baby Vano dari kasur, ia menggendong bayi Devano sambil sesekali menyanyikan lagu duh indung ( lagu khas Sunda).


Ia menatap wajah cucunya ia meneteskan air mata. walaupun wajah baby Devano terlihat sangat mirip dengan Cakra. Tapi tetap saja, yang melahirkannya adalah Noureen putrinya. Seketika rasa sedih menyeruak dalam dadanya ia berdoa semoga Noureen lekas sadar dari komanya.


Drrrr….drrrr 


Ponsel Bu Ratna berbunyi. Ia segara meletakkan susu baby Devano yang baru saja selesai ia buat. Lalu berjalan ke arah nakas.


Saat sampai di sana. Bu Ratna melihat id si penelepon."Cakra," Bu Ratna terlihat mengerutkan alisnya. Ada apa putranya menghubunginya padahal baru empat jam yang lalu ia bertemu.


Ia kemudian menatap ke arah Bu citra.


"Siapa?" Tanya Bu citra sambil berbisik.


"Cakra,"

__ADS_1


"Cepat di angkat, siapa tau ada hal penting," Bu citra berjalan mendekat ke arah Bu Ratna.


"Iya, nak. Ada apa? Tanya Bu Ratna.


Seketika Bu Ratna tersenyum. Ia mengucap syukur karena menantunya sudah siuman


Bu citra yang melihat Bu Ratna tersenyum sambil mengucap syukur. Seketika bertanya.


"Ada apa, jeng?" Tanya Bu citra yang berdiri di samping Bu Ratna.


"Putrimu siuman, jeng." Bu Ratna tersenyum ke arah Bu citra.


Seketika Bu citra tersenyum, bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan syukur.


***


Di sisi lain, Cakra yang duduk di brankar sambil memeluk Noureen dari belakang tersenyum bahagia. Sesekali ia mengecup pipi Noureen.


"Mas,"


"Hmmm,"


"Putra kita di mana?"


"Di hotel, bersama Mamah. Aku terpaksa menitipkannya ke mamah. Aku kasihan jika ia ikut menunggui mu di rumah sakit. Tadi pagi ia baru saja keluar dari ruangan NICU.


Noureen tampak terdiam, ia sangat ingin bertemu dengan putranya. Seketika tangisnya luruh.


Cakra memeluk istrinya yang sedang menangis. Sambil sesekali mengusap-usap kepala istrinya. Tangannya menangkup kedua pipi Noureen dan menyeka air mata yang mengalir membanjiri wajah cantiknya. Cakra mendekatkan wajahnya hingga kedua kening mereka menyatu.


"Mas, janji akan segera mempertemukan mu dengannya. Kau jangan khawatir. Dia baik-baik saja. Dia anak yang kuat."


"Terima Kasih, mas. Kau Sudah menjaga ku dan menjaga bayi kita."


Cakra tersenyum.


"Itu sudah kewajiban ku sebagai suami yang baik untuk keluarga kecil kita."


"Sekali lagi terimakasih mas."


Cakra kemudian meraih kembali tubuh mungil sang istri. Mendekapnya dan menghadiahinya beberapa kecupan di dahi.


"Kau jangan lagi pergi meninggalkan ku seperti kemarin. Kau membuat ku hampir gila." Ucap Cakra mempererat pelukannya.


Noureen kembali mengangguk.

__ADS_1


 


__ADS_2