
Matahari sudah kembali dari tempat peraduannya. Senyum ceria dari perempuan yang saat ini sudah menyandang status seorang ibu terlihat begitu sangat bahagia. Terlihat jelas dari bibirnya yang tak pernah berhenti untuk terus tersenyum. Mengingat bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di rumah sakit. Berarti sebentar lagi ia akan bertemu bayinya.
Ya. Pagi-pagi sekali suster mengabari suaminya, bahwa ia sudah diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Hal itu tentu membuat perempuan yang berusia hampir menginjak usia 23 tahun itu terlihat sangat bahagia.
"Sayang, apa sudah tidak ada Yang ketinggalan?"Cakra bertanya saat ia masuk kedalam ruang inap Noureen, dengan membawa amplop coklat berukuran kecil di tangannya.
"Sepertinya tidak ada, mas?" Noureen kembali meneliti barang-barang yang ada di depannya. Mengendarkan pandangan di setiap sudut ruang. Mencari barang yang mungkin saja tercecer."
Cakra mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan Membersihkan diri ku terlebih dahulu," ia berjalan sambil memberikan amplop itu pada Noureen."tolong disimpan." Cakra berucap lalu melangkah Noureen dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Iya, mas. Jangan Lama-lama," Noureen menerima amplop coklat yang diberikan Cakra itu dan langsung mengangguk lalu tersenyum.
Hampir tiga puluh menit Noureen menunggu suaminya keluar dari dalam kamar mandi. Namun, tak ada tanda-tanda kalau ia akan segera keluar secepatnya.
Karena bosan yang melanda pikirannya. Tiba-tiba saja netranya menangkap surat yang tergeletak di atas brankar. Surat yang sama yang diberikan Cakra barusan.
Noureen kemudian mengambil surat itu. Membaca kop suratnya. Lalu perlahan jari lentiknya mulai membuka amplop itu lalu mengeluarkan isinya.
Saat membaca isi amplop itu. Mata Noureen seketika terbelalak Tangannya terangkat menutupi mulutnya. Ia terlihat tampak syok setelah membaca isi amplop itu.
air matanya seketika luruh membasahi kedua pipinya yang saat ini terlihat tampak tirus.
"Mas, tega sekali kau menyembunyikan ini dari ku," Noureen berucap lirih, dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Beberapa bulan yang lalu, Noureen sempat menolak saat dokter mengatakan jika Rahimnya akan ikut diangkat saat proses melahirkan bayinya. Tapi hal itu ia tolak mentah-mentah ia berusaha kuat untuk tetap mempertahankan rahimnya. Sebelumnya ia juga pernah mewanti-wanti suaminya agar tak menyetujui perihal pengangkatan rahimnya.
Tak lama, pintu terbuka. Cakra keluar dari kamar mandi dengan menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.
Ia mengernyit saat melihat Noureen meringkuk kembali di atas brankar. Padahal tadi istrinya sudah bersiap dan ingin cepat-cepat meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
"Sayang, apa ada yang sakit?" Cakra berucap lalu melangkah ke arah brankar.
Noureen tak menjawab suaminya.
Cakra kembali memegang pundak istrinya. Tetapi dengan cepat tangannya di tepis oleh Noureen.
"Sayang, kau kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Cakra.
Noureen masih bungkam.
"Sayang, kau kenapa?" Seketika tubuh Noureen bergetar, tangisnya pecah. Ia bangkit dari brankar.
"Ini maksudnya apa, mas? Ini tidak benarkan?" Noureen berucap dengan emosi yang sangat meluap-luap.
Seketika Cakra menghembuskan nafas berat. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia lupa memberi tahu Noureen tentang Operasi pengangkatan rahimnya.
"Reen, tenangkan dirimu dulu, mas akan jelaskan semuanya," Cakra berusaha merengkuh tubuh Noureen yang saat ini terlihat sangat syok. Namun, Noureen tetap saja menolak.
"Reen, dengarkan mas dulu, semua itu diluar kendali, mas. Di ruang operasi, saat proses pengangkatan bayinya, Ari-ari tidak dapat terlepas dari dinding rahimnya. Itu menyebabkan terjadinya pendarahan hebat. Saat itu mas tidak punya pilihan lain untuk tetap mempertahankan rahimmu. Mas lebih memilih kau selamat dari pada mempertahankan rahimmu. Mas tidak ingin kehilangan istri yang mas cinta."
"Tapi kenapa mas baru bicara sekarang, kenapa tidak dari kemarin. Andai aku tidak mengetahuinya hari ini, sampai kapan mas akan menyembunyikan semua ini dari ku." Noureen bicara dengan emosi yang sangat meluap-luap.
"Mas tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu. sebenarnya mas sudah ingin menceritakan tentang semua ini. Tetapi mengingat kau yang baru saja sadar dari koma, membuat aku urung untuk tidak memberitahukan masalah ini terlebih dahulu.
Noureen kini terdiam, ian menekuk kedua kakinya lalu memeluknya. Isak tangisnya kia terdengar menusuk hingga ke Indera pendengaran.
"Sayang, maaf kan, mas. Mas sungguh tidak punya pilihan." Cakra meraih tubuh Noureen. Memeluk tubuh Noureen." Maa, mas. Sayang."
***
Di Indonesia.
__ADS_1
Sepasang kekasih sedang bergumul di atas tempat tidur di sebuah apartemen mewah yang terletak di sekitaran bilangan Jakarta, Kemayoran baru, Jakarta pusat.
Sesekali pria itu melahap dua benda kenyal yang terlihat sangat menggoda di depannya. Keringat membanjiri keduanya. Entah sudah berapa Ronde yang mereka mainkan.
Terdengar jeritan-jeritan kecil lolos dari bibir perempuan itu, saat pasangannya mempercepat gerakannya. tak lama pria itu tumbang tepat di atas tubuh wanita itu.
"Sayang, sekali lagi," wanita itu merengek dengan membelai rambut pria itu.
"Sudah, aku lelah. Kau sudah banyak menguras tenaga ku," pria itu berucap lalu bangkit dari ranjang. Ia mengambil satu persatu pakaiannya yang tergeletak di bawa tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Butuh kurang lebih 30 menit, pria itu keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Ia berjalan menuju pantry membuka kulkas lalu mengambil sebuah wine. Ia menumpahkannya ke dalam gelas piala lalu menyesapnya hingga tandas.
Setelah meminum winenya, ia kemudian mengambil kembali gelas yang baru, lalu menuangkan kembali wine ke dalam gelas kemudian berjalan ke arah ranjang. Ia menyerahkan gelas itu pada perempuan yang saat ini bersandar di kepala ranjang dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Jadi selanjutnya apa rencana yang ingin kau buat," perempuan itu berucap. Sesekali menyesap wine yang ada di tangannya.
"Aku ingin menjadi bagian penting dari perusahaan itu, setelah aku menjadi bagian terpenting dari mereka, aku ingin merebut kepercayaannya lalu mengadu domba antara atasan dan asisten. lalu akan ku hancurkan perusahaan yang selama ini ia rintis." Pria itu berucap.
Seketika pria itu tersenyum. Suara tawanya menggelegar hingga memenuhi ruangan itu.
Perempuan itu bergerak maju, mengecup pria itu sekilas."aku tidak salah memilihmu menjadi kekasih ku," wanita itu tersenyum dan kembali menyesap gelas wine yang ada di tangannya.
"Jadi kapan kau akan memulai semua Rencana mu," tanya wanita itu.
"Secepatnya! Setelah itu kita sama-sama akan menghilang." Pria itu menjawab dengan tatapan lurus kedepan. Ia tersenyum miring sambil memikirkan detik-detik kehancuran orang yang paling ia benci.
"Semoga kau berhasil sayang," wanita itu berucap dan kembali memberi kecupan singkat di bibir pria itu.
__ADS_1