Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 143. season 2


__ADS_3

Mas, lepas. Jaga sikapmu kita sekarang berada di kantor." Ujar Anaya saat Adrian memeluknya dari belakang. 


"Memangnya kenapa jika ada yang melihat?" Balas Adrian enteng. Ia tersenyum kemudian mengecup pipi Anaya dari samping.


Anaya menarik nafasnya dalam, sambil memejamkan matanya ." Mas, aku tidak ingin jadi bahan omongan orang, bagaimana jika seluruh karyawan berbisik-bisik tentang kita." Anaya kembali melepas tangan Adrian yang semakin lama semakin erat.


"Tidak masalah jika mereka berbisik tentang kita. Apa salahnya, aku  bukan memeluk orang lain, melainkan aku sedang memeluk istriku." Pungkas Adrian dan kembali mencium pipi Anaya.


"Aku mencintaimu, nay." Ucap Adrian


Anaya diam membeku mendengar ungkapan cinta dari Adrian. Apakah ia salah dengar, atau ia sedang bermimpi. Anaya langsung menampar pipinya. Jika ia merera tidak sakit berarti ia sedang bermimpi. Namun jika ia merasa sakit berarti semua ini nyata.


"Akkk." Anaya meringis saat ia menampar pipinya.


Melihat Adrian menampar pipinya. Ia langsung memutar tubuh Anaya." Kau kenapa?"


Anaya mengeleng."apa kau tadi mengatakan jika kau mencintaiku?" Tanya Anaya.


"Kapan aku mengatakan itu, mungkin kau sedang salah dengar." Balas Adrian.


Seketika Anaya mengerucutkan bibirnya ia memukul dada Adrian. Jelas-jelas tadi ia mendengar jika Adrian mengucapkan jika ia mencintainya. Lalu kenapa sekarang Adrian mengatakan jika ia tak mengucapkan apapun.


"Baiklah, mungkin aku yang salah dengar "ucap Anaya. Padahal tadi hatinya sudah mulai berbunga-bunga mendengar Adrian mengucapkan kata cinta. Sejujurnya ia juga mulai mencintai Adrian, hanya  saja ia gensi untuk mengungkapkannya terlebih dahulu.


Melihat wajah Anaya yang terlihat sendu. Adrian kembali menarik tangan Anaya, kemudian memeluknya." Kau tidak salah dengar, aku mencintaimu, Nay." Pungkas Adrian kemudian mengecup keningnya Anaya lalu menengelamkan kepala Anaya ke dalam pelukannya.


"Apa kau juga mencintaiku?" Tanya Adrian.

__ADS_1


Anaya mengangguk." Iya aku juga mulai mencintai mu." Jujur Anaya dan membalas pelukan Adrian.


Saat mereka sibuk berpelukan, tiba-tiba terdengar perut Anaya berbunyi. Adrian yang mendengar itu langsung tertawa." Kau lapar?" Tanya Adrian.


Anaya mengangguk, wajahnya terlihat memerah karena menahan malu.


" Ya sudah, tunggu di sini. aku tutup leptopnya dulu." Ucap Adrian dan langsung melangkah Menuju meja kerjanya.


Setelah mematikan laptopnya. Adrian menghampiri Anaya kembali. Ia mengenggam tangan gadis itu dan melangkah keluar. Namun sebelum keluar, Anaya melepaskan tangan Adrian." Kita jalan sendiri-sendiri saja. Aku tidak ingin jadi omongan semua karyawan."


Mendengar ucapan Anaya, bukannya melepaskan tangan Anaya, Adrian malah semakin mempererat genggaman." Tidak masalah, aku akan menjelaskan semuanya pada mereka jika kau istriku."


Setelah meyakinkan Anaya. Adrian kembali melangkah keluar. Tak masalah jika semua karyawan berbisik-bisik tentang dirinya. Toh mereka sepasang suami istri, hanya saja Adrian yang belum mengumumkan.


Dan benar saja, saat mereka keluar dari lift, semua mata langsung mengarah ke arah mereka. Adrian yang menyadari itu semua seketika mengenggam tangan Anaya. Ia berhenti sejenak.


"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Adrian. Saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


Anaya mengeleng dan tersenyum." Terima kasih, mas." Ucap Anaya.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Adrian


" Terima kasih karena mas sudah mau membelaku di depan semua karyawan."balas Anaya.


"Sama-sama sayang." Balas Adrian. Ia mengelus pipi Anaya kemudian tersenyum. Hari ini Adrian merasa sangat lega akhirnya ia bisa mengungkap kan perasaannya pada Anaya secara gamblang. Walaupun di masa lalu mereka seperti kucing dan tikus yang selalu adu mulut di setiap kesempatan.


Setelah mereka sampai di parkiran restoran. Adrian dan Anaya langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran. Setelah sampai di dalam, Adrian langsung menarik kursi untuk Anaya, setelah Anaya duduk. Adrian berjalan dan mendudukkan tubuhnya tepat di seberang kursi yang saat ini di duduki Anaya.

__ADS_1


"Kau mau pesan apa sayang?" Tanya Adrian, saat ini mereka sedang memilih makan. Adrian membolak-balik buku menunya. Kemudian memesan makanan. Begitupun dengan Anaya, ia melakukan hal sama.


Setelah waiters pergi. Adrian langsung meraih tangan Anaya yang ada di atas meja. Ia mengecup punggung tangan Anaya. Tanpa sengaja, ia melihat jari Anaya yang tampak kosong. Seketika ia mengingat, jika selama mereka menikah, ia belum pernah memberi Anaya cincin. Kemarin mereka menikah Secara dadakan. Itu sebabnya Adrian tak sempat membeli cincin pernikahan.


***


Setelah lama menunggu, akhirnya makanan yang mereka pesan datang. Adrian lalu meraih sendok dan meletakkannya di depan Anaya." Kau coba, apa supnya enak? Tanya Adrian. Ya, Adrian tau jika Anaya sangat menyukai makanan yang berkuah. itu sebabnya ia merekomendasi sup mix yang ada di restoran ini.


Anaya lalu meraih sendok, kemudian mulai mencicipi supnya. Matanya seketika berbinar saat mencicipi kuah sup di depannya. Aroma yang menyeruak hingga ke rongga hidung, kuah yang gurih serta rasa yang lezat membuat bibirnya seketika tersenyum lebar.


Setelah menghabiskan makanan mereka. Adrian langsung menghubungi Erwin, memberitahu asistennya jika ia akan telat kembali ke kantor. Setelah mematikan ponselnya, Adrian lalu menarik tangan Anaya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kau akan membawa ku kemana?" Tanya Anaya. Saat tadi mendengar Adrian menelpon Erwin jika mereka akan terlambat kembali ke kantor.


Adrian tersenyum." Kau duduk dan jangan bertanya, nanti kau akan tau sendiri." Balas Adrian. Ia tersenyum sambil menutup pintu mobilnya


Hampi sejam membela jalan ibu kota, mobil Adrian berhenti di sebuah toko perhiasan yang sangat terkenal di ibu kota.


"Untuk apa kita ke sini." Tanya Anaya. Ia heran pasalnya Adrian tidak mengatakan apa-apa, tiba-tiba saja pria itu mengajaknya ke toko perhiasan.


"Aku ingin membeli cincin pernikahan untuk kita. Kita belum memiliki cincin pernikahan." Adrian Terkekeh. Ia menertawai dirinya sendiri. Setiap pasangan pasti memiliki cincin pernikahan, bahkan pria miskin sekalipun  pasti membeli cincin pernikahan untuk pasangannya walaupun cincin itu terbuat dari tembaga ataupun aluminium.


Anaya tersenyum, kemudian melihat jari manisnya yang tampak polos tanpa cincin pernikahan." Tak masalah, mas. Aku tidak begitu memperdulikan adanya sebuah cincin. Apakah tanpa adanya cincin pernikahan akan dianggap tidak sah? Tetap sah bukan, jadi mas tidak usah terlalu memikirkannya." Ujar Anaya.


Adrian kemudian mengangkat tangannya, mengusap kepala Anaya." Tapi tetap saja, kita butuh cincin sebagai bukti bahwa kita terikat satu sama lain.


Setelah berbicara cukup lama, Adrian kemudian keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Anaya, lalu berjalan masuk ke dalam toko perhiasan sambil mengenggam tangan Anaya.

__ADS_1


__ADS_2